KELAS teman kumparan: Mengulik Storytelling Artis Kreator yang Meraup Cuan

teman kumparan

teman kumparanverified-green

Ayo gabung ke komunitas teman kumparan!

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Ilustrasi content creator. Foto: Pexels/Burst
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi content creator. Foto: Pexels/Burst

Menjadi content creator saat ini merupakan hal yang cukup menarik. Banyak platform bisa dimanfaatkan oleh masyarakat yang ingin menekuni bidang creator di berbagai kanal media sosial, seperti Youtube, Twitter, Facebook, atau Instagram. Menjadi seorang kreator melibatkan beberapa kemampuan kreatif dan kemampuan bisnis.

Kemampuan bisnis yang dibutuhkan, meliputi kemampuan untuk menjual hasil kreasi dan membuat marketing decision. Dalam hal ini, setiap kreator harus menemukan teknik dalam mempromosikan konten kreatif mereka. Apa yang membuat brand/konten mereka lebih appealing (menarik) dan mendapat engagement yang besar? Salah satu teknik yang digunakan oleh para artis kreator sekaligus dapat meraup keuntungan adalah storytelling.

Berbicara mengenai teknik storytelling dalam membuat konten, apa saja hal-hal yang harus diperhatikan oleh seorang kreator?

Pada hari Selasa, 8 Juli 2020, di KELAS yang dilaksanakan di Telegram, teman kumparan memiliki kesempatan untuk berbincang dengan narasumber Adhie Ichsan, Chief of kumparan Entertainment, Food & Travel.

Adhie Ichsan mengawali karier di dunia media sebagai reporter pada tahun 2009. Selama 11 tahun menjadi wartawan, Adhie Ichsan sudah berpengalaman dalam meliput langsung beragam acara berskala internasional, khususnya di industri film. Mulai dari Academy Awards, syuting film box office, wawancara selebriti, hingga menghadiri premiere film-film Hollywood di berbagai negara.

Adhie Ichsan memiliki latar pendidikan Administrasi Bisnis Politeknik Negeri Jakarta dan Manajemen di Universitas Bakrie. Pada bulan Oktober tahun 2016, Adhie Icshan bergabung ke kumparan dan kini memegang jabatan sebagai Chief of Entertainment, Food & Travel.

"Selama pandemi, belum ada kesempatan meliput yang seru-seru lagi. Harusnya, Februari kemarin, ketemu Chris Hemsworth di Manila. Tapi batal karena Covid-19," kata Mas Adhie Ichsan.

Wah, ingin tahu bagaimana keseruan diskusi di KELAS? Yuk, kita simak rangkuman berikut ini!

Poster KELAS teman kumparan. Foto: dok. kumparan

Pertanyaan: Bagaimana tips melakukan soft selling?

Jawaban: Soft selling yang baik tentunya mengandalkan storytelling. Perlu ada tahapan-tahapan sebelum masuk ke inti dari yang mau dijual. Jadi, usahakan membuat konten yang punya relevansi dengan 'barang yang ingin dijual'. Misalnya, contoh yang saya sebutkan untuk iklan PONDS MEN.

Pertanyaan: Apa perbedaan storytelling melalui media sosial, seperti Instagram, Twitter, Facebook atau marketplace, seperti Shopee Haul dan Shopee Live? Jawaban: Tentunya, konten kamu harus disesuaikan dengan platform dan audience. Misalnya, di Instagram lebih menonjolkan visual melalui foto dan video, Twitter biasanya melalui rangkaian tweet dengan membuat thread, sementara Facebook dapat menggabungkan keduanya. Marketplace storytelling dapat dilakukan melalui konten yang menjawab kebutuhan user; biasanya berupa tips.

Intinya, kamu harus tahu siapa audience yang kamu sasar dan platform apa yang kamu gunakan.

Pertanyaan: Seberapa besar peluang menambah penghasilan melalui storytelling?

Jawaban: Sangat besar. Tiap platform dapat menjadi sumber pemasukan. Pemasukan dapat berasal dari Adsense dan iklan brand. Kamu bisa mempelajari fenomena para artis yang serius membuat konten di Youtube. Storytelling mereka memiliki gaya yang berbeda-beda.

Untuk content creator yang sudah mapan, satu post branded content dapat bernilai puluhan juta rupiah, sedangkan untuk Adsense, nilainya variatif. Contoh, Baim Wong. Dari dua sumber pemasukan itu (Adsense dan iklan brand), konon, pendapatannya bisa mencapai miliaran rupiah tiap bulan dari konten di platform Youtube.

Pertanyaan: Bagaimana cara menarik minat orang lain untuk melihat konten kita?

Jawaban: Tentukan target audience kamu. Kemudian, buat konten yang relevan dengan mereka (konten yang dekat dengan kehidupan dan ketertarikan mereka. Misalnya, kamu berasal dari kalangan Gen Z dan ingin menyasar audience Gen Z. Konten apa yang generasi kamu suka? Kamu bisa membuat meme, komedi, seperti akun awreceh, dagelan, dan lain-lain.

Pertanyaan: Apa hambatan terbesar yang dihadapi apabila kita mau terjun ke dunia content creator?

Jawaban: Tantangan terbesar adalah disiplin dalam deadline dan membuat konten yang memiliki unique selling point.

Pertanyaan: Bagaimana menjaga eksistensi agar penonton selalu tertarik dengan konten kita?

Jawaban: Rajin posting, selalu mengikuti tren, dan rajin berinteraksi dengan followers.

Pertanyaan: Bagaimana menemukan unique selling point yang sekiranya akan disukai oleh netizen? Apalagi, ibaratnya, kita start dari nol sebagai content creator.

Jawaban:

1. Tentukan target audience kamu.

Misalnya, kamu memiliki ketertarikan di bidang parenting. Artinya, audience kamu adalah para orang tua yang mempunyai anak. Pertanyaan selanjutnya adalah: Bikin konten parenting seperti apa? Apa yang membedakan konten kamu dengan para content creator lain di dunia parenting? Apa yang belum ada? Bagaimana penyampaian yang diterima?

Contoh lain: Kamu perhatikan akun Instagram @jouska. Akun itu cukup populer di masa pandemi. Padahal, banyak sekali ahli finansial/pengelolaan keuangan yang sudah ada sebelumnya di media sosial. Apa yang membuat akun itu stand out? Kamu bisa perhatikan cara dia membuat konten. Jouska jeli melihat peluang ketika masa pandemi -- banyak orang cemas soal finansial dan konten-konten yang dibuat cukup relevan dengan kebutuhan audience.

2. Bereksperimen dan memperbanyak referensi

Fase ini penting sebelum kamu benar-benar mendapatkan formula konten yang efektif. Fase trial and error harus dilewati agar kamu memahami audience. Contoh lain bisa dilihat dari materi yang saya kasih, seperti konten Babe Cabita, Aurelie, dan Bintang Emon.

Pertanyaan: Faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan sebuah konten yang sudah ada?

Jawaban: Konten yang up to date dengan perkembangan terkini dan konten yang orisinal tentunya lebih disukai.

Pertanyaan: Jika ingin mengembangkan sebuah konten, bagaimana caranya agar konten yang kita kembangkan tidak jauh dari unique selling kita?

Jawaban: Memakai pendekatan yang sama, tetapi selalu update dengan topiknya. Misalnya, unique selling point kamu sebagai content creator adalah spesialis membuat video sketsa komedi. Maka, topiknya harus disesuaikan dengan perkembangan terkini agar interaksinya lebih besar.

Contohnya, Bintang Emon viral karena materi video komedi seputar PSBB. Konten Bintang relevan dengan situasi terkini sehingga interaksinya besar. Ketika audience sudah besar dan interaksi dalam konten besar, brand akan datang seperti semut. Kemudian, ketika ramai kasus Novel, Bintang Emon membuat materi komedi seputar itu. Bintang Emon viral lagi. Unique Selling Point Bintang Emon: video komedi DPO (Dewan Perwakilan Omel-Omel).

Konten mengangkat topik tentang tren terkini atau kebiasaan masyarakat sehari-hari.

Pertanyaan: Apakah sebuah unique selling juga bisa berasal bukan dari diri kita?

Jawaban: Ide bisa datang dari mana saja, tetapi eksekusi kita yang menentukan, termasuk membentuk unique selling point (USP). Jika kamu tidak tahu unique selling point dalam konten kamu, kamu belum bisa menjadi creator.

Menentukan Unique Selling Point tidak harus menjadi content creator. Pedagang makanan pun harus punya USP agar apa yang mereka jual dilirik konsumen. Contohnya, apa perbedaan antara tahu sumedang dan tahu bulat? Keduanya memiliki USP yang berbeda.

Pertanyaan: Bagaimana, sih, mendapat beragam ide kreatif yang tentunya dapat membedakan kreator A dan B? Soalnya, sering takut kalau membuat sebuah konten; takut orang tidak suka atau pesannya malah tidak sampai ke audience-nya.

Jawaban: Ide datang bisa dari mana saja. Dari pengalaman travelling, dari cerita orang di sekeliling, sampai inspirasi dari internet. Yang paling penting, ide kamu bisa menjawab kebutuhan audience.

Contohnya, saat pandemi ini, banyak content creator yang naik daun karena banyak orang butuh hiburan. Maka, konten-konten komedi banyak disukai. Seperti contoh yang saya sebutkan di atas: ada Bintang Emon, Aurelie dan Babe Cabita. Bintang Emon disukai karena konten DPO dengan topik terkini. Aurelie terkenal dengan konten Pacar Halu. Babe Cabita disukai karena konten zodiak.

Lagi, bagaimana agar konten kita menonjol dan dilirik audience? Itulah tugas kamu menemukan Unique Selling Point dari konten yang ingin dibuat. Salah satu faktor penting adalah konten kamu harus punya relevansi dengan audience.

Pertanyaan: Kenapa susah sekali menemukan unique selling point dalam diri kita? Bagaimana cara membangun konten untuk pemula selain harus menemukan unique selling point?

Jawaban: Kamu bisa mulai dari apa yang menjadi passion kamu atau bisa dari pengalaman kamu.

Misalnya, kamu punya pengalaman sukses dalam menjalankan hidup sehat. Pola diet kamu berhasil dengan sangat baik. Kamu bisa sharing pengalaman kamu lewat konten-konten seputar tips diet dan pola hidup sehat. Itu yang dilakukan Dewi Hughes sehingga dia berhasil seperti sekarang.

Atau, misalnya, kamu suka kuliner dan hal ekstrim. Kamu bisa bikin konten mukbang makan serangga, misalnya. Itu pun bisa menjadi USP yang membedakan dengan content creator spesialis mukbang.

Pertanyaan: Tips dan trik storytelling sehingga bisa mendapat cuan dan tetap eksis?

Jawaban: Saya berikan contoh dari kisah sukses Bintang Emon, Aurelie, dan Babe Cabita, ya.

Tiga figur di atas memiliki Unique Selling Point (USP) yang membuat mereka mendapat perhatian masyarakat, khususnya di media sosial. Banyak brand yang melirik untuk beriklan karena besarnya interaksi dalam postingan mereka di Instagram.

Apa yang mereka lakukan?

1. Membangun karakter

Babe Cabita dikenal sebagai komedian. Jadi, mayoritas dari 1,1 juta followers-nya di Instagram mengharapkan konten-konten yang menghibur. Babe menciptakan beberapa program dengan karakter yang kuat, salah satunya adalah Binaldari, sosok pembaca zodiak asal-asalan.

Aurelie Moremans menciptakan karakter Pacar Idaman bagi para jomblo di dunia maya. Dia membuat video template seorang wanita yang sedang video call dengan kekasihnya. Video tersebut digunakan dengan kreatif oleh para netizen sebagai Pacar Halu mereka.

Bintang Emon bersinar lewat karakternya di DPO (Dewan Perwakilan Omel-Omel). Bintang membahas berbagai topik terkini dengan pendekatan komedi satire.

2. Konten yang relevan

Relevansi adalah faktor penting dalam menciptakan konten yang memiliki interaksi besar di media sosial. Babe Cabita, lewat karakter Binaldari, memanfaatkan kesukaan masyarakat terhadap ramalan zodiak. Sedangkan, Aurelie Moremans menggunakan personanya untuk para cowok halu yang jomblo. Bintang Emon, lewat konten DPO-nya, viral karena menyentil perilaku masyarakat yang bandel saat masa PSBB.

Konten yang relevan memancing audience untuk memberikan likes dan komentar. Dua hal tersebut kerap dilihat brand dalam menentukan keputusan beriklan.

3. Konsistensi

Masih ingat dengan Sinta dan Jojo? Atau Norman Kamaru? Mereka adalah contoh one hit wonder yang kini tenggelam karena tak mampu memanfaatkan ketenarannya yang instan dengan karya yang konsisten.

Salah satu kunci untuk bertahan di media sosial adalah konsistensi. Konsisten dalam membuat konten yang relevan sesuai Unique Selling Point masing-masing serta disiplin dalam deadline. Bahkan, saat ini, sudah banyak content creator yang sanggup mengeluarkan konten sehari sekali.

4. Mengelola follower

Banyak cara yang dilakukan para content creator dalam mengelola follower-nya. Ada yang meminta saran tentang topik konten, melakukan giveaway, hingga sekadar membalas komentar-komentar yang masuk. Interaksi bersama follower penting agar mereka dianggap spesial sehingga para follower menjadi loyal.

Saat ini, banyak juga content creator yang melakukan giveaway agar pertumbuhan channel media sosialnya bergerak lebih cepat. Ada yang membagi-bagi handphone, uang tunai, dan bahkan (katanya) mobil.

5. Storytelling dalam menyampaikan iklan

Ada dua cara dalam menyampaikan iklan kepada audience sesuai permintaan pengiklan, yaitu:

Hard sell: Biasanya, para content creator hanya mengikuti brief dari brand dan posting di platform media sosial mereka tanpa storytelling.

Soft sell: Cara ini biasanya mendapat interaksi yang jauh lebih besar dari audience karena iklan menyatu dengan konten yang menghibur. Berikut ini contoh branded content dari Babe Cabita, Aurelie Moremans, dan Bintang Emon:

Babe Cabita membuat video monolog komedi cerita tentang fenomena social distancing, dilanjutkan dengan kebiasaan masyarakat yang lebih sering video call untuk berinteraksi. Materi komedinya dijahit secara halus dengan iklan cuci muka PONDS MEN. Dari sekitar 4 menit video, Babe menghabiskan sekitar 3 menit untuk storytelling dan sisanya menyampaikan iklan. Gara-gara iklan ini, banyak yang menyebut Babe “S3 Pemasaran”.

Aurelie Moremans berkolaborasi dengan Kristo Immanuel sebagai Pasangan Halu-nya. Mereka membuat video tentang tipe-tipe video call orang pacaran, salah satunya adalah adegan video call ketika terjadi gangguan sinyal. Nah, di bagian akhir, diselipkanlah iklan internet provider.

Bintang Emon membuat materi video iklan Tolak Angin ala konten DPO. Ia membahas fenomena masyarakat selama WFH dan memberi pesan untuk tetap produktif. Gaya penyampaiannya dilakukan dengan cara yang sedikit nge-gas, namun menghibur.

Di akhir diskusi, Mas Adhie Ichsan memberikan closing statement bahwa banyak content creator yang bukan berasal dari kalangan selebriti. Mereka memulai dari nol dan mendapat followers yang tinggi karena konsisten memberi karya yang menghibur atau berguna bagi follower-nya.

"Jadi, mulai sekarang, bentuklah Unique Selling Point dari platform media sosial yang kamu punya. Lalu, manfaatkan sebaik mungkin dan mulai membuat karya. Selamat mencoba!" tutup Mas Adhie Ichsan kepada teman kumparan.

(Fab)

====================

KELAS merupakan diskusi dan tanya-jawab online yang diadakan di grup teman kumparan. Di KELAS, kamu bisa berdiskusi dengan para pakar di bidangnya secara gratis.

Yuk, gabung ke grup teman kumparan di Telegram melalui kum.pr/temankumparan. Jangan lewatkan keseruannya, ya!