Mom
·
22 Oktober 2020 19:25

KELAS Teman kumparan Mom: Kompak Mengasuh dan Mengasihi Bersama Pasangan

Konten ini diproduksi oleh Teman kumparan
KELAS Teman kumparan Mom: Kompak Mengasuh dan Mengasihi Bersama Pasangan (322116)
Ilustrasi keluarga yang kompak. Foto: Pexels
Pola pengasuhan anak dalam keluarga menjadi tantangan tersendiri bagi pasangan yang baru memiliki buah hati. Diperlukan proses diskusi dan komunikasi yang tepat supaya orang tua--baik ibu maupun ayah--bisa saling berbagi tugas dan membantu satu sama lain dalam mengasuh anak dan mengerjakan tugas rumah tangga.
ADVERTISEMENT
Menurut Psikolog Anak dan Keluarga, Fathya Artha Utami, salah satu kunci agar tetap kompak dan damai dengan pasangan saat melakukan pengasuhan adalah bisa mengerti proses komunikasi yang baik dan tepat.
"Walaupun kesannya sederhana, tapi ternyata nggak semudah itu. Sebab, proses komunikasi seharusnya berjalan 2 arah. Tak hanya menyampaikan pesan secara jelas, tapi lawan bicara kita juga bisa memberikan feedback yang sesuai dengan apa yang kita harapkan," ujar Fathya kepada teman kumparan.
Co-founder @Ibupunyamimpi yang kini tinggal di Amsterdam ini kemudian menjelaskan alasan mengapa komunikasi tentang pengasuhan menjadi rentan salah paham di antara pasangan suami-istri. Ia menyebutkan ada 3 penyebab:
  1. Karena ayah dan ibu membawa bawaan yang berbeda. Diibaratkan membawa ransel (pengalaman semasa kecil) yang berbeda. Ini berkaitan dengan cara didik dan pola pengasuhan di kehidupan yang sebelumnya.
ADVERTISEMENT
  1. Berbedanya peta (persepsi) dalam melihat perjalanan menjadi orang tua.
  1. Sinyal yang didapat berbeda. Ini disebabkan karena pesan yang disampaikan anak belum jelas, sehingga menimbulkan interpretasi yang berbeda dan menyebabkan miss komunikasi.
Meskipun rawan salah paham, Fathya meyakinkan teman kumparan Mom bahwa bukan berarti tidak bisa meminimalisir itu semua dan hidup damai bersama pasangan. Salah satu caranya, yakni dengan menerapkan strategi BISA ala Fathya Artha.
Seperti apa diskusi yang dilakukan Fathya dengan teman kumparan di KELAS? Simak rangkuman dan penjelasannya di bawah ini.
KELAS Teman kumparan Mom: Kompak Mengasuh dan Mengasihi Bersama Pasangan (322117)
KELAS bersama Fathya Artha Utami, M.Psi, Psikolog. Foto: dok kumparan.
Tanya: Bagaimana cara mengomunikasikan ke suami untuk pembagian pekerjaan rumah?
Suami saya tipikal yang akan membantu pekerjaan rumah tangga jika saya meminta pertolongannya, jika tidak saya meminta pertolongan maka dia tidak akan membantu.
ADVERTISEMENT
Jawab: Sebenarnya suami ada kemauan untuk membantu pekerjaan rumah tangga, tapi bisa jadi, apa yang mesti dilakukan, kapan harus dilakukan, ini sekarang waktunya aku yang melakukan atau istri yang melakukan itu masih blur.
Sehingga bisa dipraktikkan strategi BISA nya, kalau di situasi yang moms alami, paling pertama itu bisa ngobrol dulu sama pasangan.
B: Bicarakan kemampuan masing-masing. Mana tugas istri mana tugas suami, bagi-bagi sesuai kemampuan. Kuncinya adalah 'di-lock' jadi pembagian tugas ini itu bersifat 'selamanya' sampai nanti ada evaluasi lagi. Jadi misal sehari-hari yang nyuci piring istri, suami yang nyapu, yaudah jangan ganti-ganti lagi. Sehingga tidak membingungkan dan tidak saling menunggu ini tugasnya siapa, dll.
I: Ingat untuk memberikan kesempatan. Karena kita ingin memulai kebiasaan yang baru, sehingga pasti ketika membuat kesempatan baru itu latihan pasti ada trial and error-nya, beritakan kesempatan untuk suami dan ibu ami untuk mengenal lagi dan tahu bahwa, “oh ternyata tugas ini gak terlalu cocok dilakukan sama suamikah atau butuh kesempatan melakukan lagi."
ADVERTISEMENT
S: Sesuaikan dengan kegiatan masing-masing orang. Misal dua-duanya sibuk, nah ada waktu break gak sih? Dan ketika waktu istirahat itu, tugas apa yang bisa dilakukan? Ini bisa masuk ke Time Management, ya, moms.
A: Adakan evaluasi secara berkala. Jadi setiap malam bisa diobrolin, gimana menurut pasanganmu. Kira-kira dia seneng nggak melakukannya? Apakah dia merasa berat melakukan kegiatan tersebut?
Setelah dievaluasi, tentukan mana yang terbaik. Jadi bisa tukeran tugas juga. Tinggal pastikan saja tugas-tugas apa saja yang diharapkan dan suami juga sudah bersedia untuk melakukannya setiap hari.
Jadi dibuat rutinitas sehingga tidak saling menunggu siapa yang akan melakukan tugas tersebut. Semoga proses trial and error itu bisa menjadi kebiasaan. Tapi menuju kebiasaan itu memang biasanya butuh bantuan kita juga untuk merinci kegiatannya dan jangan lupa dipakai Strategi BISA-nya. Semangat!
ADVERTISEMENT
Tanya: Bagaimana ya cara mendekatkan si anak dengan ayahnya? Soalnya ketika ayahnya yang lagi ngurus, si anak tetap maunya ke saya terus, bingung juga, ayahnya sedih padahal pengennya bantu saya.
Jawab: Ini hal bagus yang sudah terjadi. Sebetulnya sudah ada komunikasi untuk saling bagi tugas dan saling membantu. Tinggal kita membantu ayah dan anak untuk bisa menjadi lebih dekat dan lebih nyaman.
Ini juga butuh latihan sebetulnya. Aku sempat mengalami ketika baru punya anak. Si anak memang pengennya dekat sama ibunya, karena mencium wangi ibu aja biasanya itu sudah menenangkan.
Sedangkan kalo main dengan ayah anak tuh bisa mencium bau-bau kecemasan ayah, Karena mungkin selama bermain atau selama berinteraksi ayah kayak, “aduh bener nggak ya?”, “aduh gimana ya, ngerespon apa lagi ya?”
ADVERTISEMENT
Mungkin si ayah nggak terlalu pede dan nggak terlalu nyaman. Sehingga anak lebih nyaman sama ibunya.
Jadi yang bisa ibu lakukan adalah perbanyak main bertiganya sehingga anak tahu, “oh ternyata ibu percaya lho sama ayah dan ibu nyaman main sama ayah, aku kalau gitu mungkin bisa nih pelan pelan nyaman main sama ayah.”
Kemudian kalau main bertiga bisa diperbanyak juga interaksi antara anak sama ayah. Misalnya lagi main bola: ada ibu, ayah, dan anak kemudian ibu lempar bolanya ke ayah, lalu ayah lempar bolanya ke anak, anak ke ayah lagi, begitu seterusnya.
Jadi sebenarnya kita lagi jadi pelatihnya supaya ayah sama si anak bisa interaksinya lebih nyaman. Nanti pelan-pelan kalau kita liat interaksi nya sudah mulai terbangun, misalnya sudah bisa ketawa bareng-bareng, kita sebagai ibu agak mundur sedikit, kita kasih waktu mungkin 3 menit berdua dulu seperti pura-pura ke toilet/ke dapur, kita tinggal dulu biar mereka main berdua sambil kita intip bagaimana interaksinya.
ADVERTISEMENT
Nanti dari 3 menit kita perpanjang lagi jadi 5 menit, 10 menit, sampai nanti mereka nggak kerasa kalau sudah main seharian. Jadi memang interaksi ini perlu banget untuk dilatih dan dibangun supaya dua-duanya sama-sama nyaman.
Ibarat radio jadul kita bantu anak mencari frekuensi yang sama supaya bisa berkomunikasi dengan ayahnya. Jadi kita bantu untuk menemukan sinyal yang tepat supaya mereka bisa berinteraksi dengan nyaman. Semangat mencoba ya, Mom 🤗.
Tanya: Bagaimana cara atau tips and trik meyakinkan suami (pasangan) supaya ikut serta dalam mencari tahu dan mempelajari terkait pangasuhan anak?
Selama ini yang terjadi, suami hanya mendukung dan mengikuti pengasuhan apa yang saya lakukan, bukan atas dasar kesadaran pilihan dia sendiri.
ADVERTISEMENT
Jawab: Suami mau mendukung adalah poin luar biasa, dia menghargai dan percaya pilihan yang ditawarkan pasangan.
Nah untuk keterlibatan terkait pengambilan keputusan dalam pengasuhan ini perlu dipahami, orang tidak menunjukkan inisiatif & tidak bisa memilih bisa jadi karena ada rasa bingung, seperti misalnya pilihan apa saja untuk pengasuhan, mulai dari mana, dan harus apa ya?
Ada penelitian yang menyebutkan ayah-ayah ini sebenarnya tidak terlatih untuk mengasuh. Nature-nya tidak terasah, jadi sebenarnya mereka bingung menunjukkan hal-hal berbau pengasuhan, kasih sayang, serta menunjukan emosi. Di situlah mereka butuh bantuan pasangan.
Bisa jadi juga tidak percaya diri dalam pengasuhan, pasangan butuh memberikan dukungan dan apresiasi kecil dalam usaha yang dilakukan saat pengasuhan anak, jadi dia merasa mampu. Yang ketiga, bisa jadi dia merasa tidak mampu. Jadi kita harus memotivasi dengan coba terapkan strategi BISA ini agar bisa memunculkan inisiatif 😊.
ADVERTISEMENT
B: diskusikan kemampuan masing-masing. Utarakan pilihan masing-masing, bisa terlibat di area apa saja yang bisa di-handle. Ini untuk melatih memunculkan ide-ide.
I: ingat untuk memberi lebih kesempatan agar bisa merasa berhasil, dan indikator keberhasilan ayah dan ibu bisa jadi berbeda ya.
S: sesuaikan dengan kegiatan, energi, dan mood juga situasi yang kira-kira tepat untuk ditanyakan pendapatnya. Sehingga ekspektasi kita bisa lebih realistis.
A: adakan evaluasi berkala. Ini bukan hanya hal-hal yang butuh di-improve saja, tapi juga hal-hal seru dan hal-hal baik apa saja yang sudah dilakukan. Tujuannya mau menumbuhkan rasa percaya diri untuk menunjukkan cara pengasuhan.
Ajak baca artikel tentang pengasuhan bersama & diskusikan juga untuk tahu pandangan suami seperti apa. Semoga menjawab yaa..
ADVERTISEMENT
Tanya: kalau dari slide ada namanya evaluasi berkala. Ini dilakukan setiap kapan? Apakah sebaiknya perlu dibuat waktu khusus?
Dan evaluasinya itu terhadap saya dan suami, atau pola pengasuhannya kah, atau apa?
Dan bagaimana supaya kedua belah pihak menerima evaluasi yang dilakukan. Karena seringnya malah jadi salah-salahan 😂.
Jawab: Evaluasi itu merupakan proses komunikasi, dan proses komunikasi itu butuh latihan. Sebaiknya kalo mau baru mau mulai tradisi komunikasi dilakukan setiap hari. Kapan waktu yang tepat? Yaitu tentunya saat kedua belah pihak siap, siap secara emosional & energi di situasi yang nyaman, lalu diskusikan tentang apa saja yang terjadi di hari tersebut.
Menjawab pertanyaan kedua, evaluasinya bisa macam-macam, bisa dengan apa yang ingin di-highlight di hari itu. Evaluasi ini, bukan hanya hal-hal yang butuh di-improve tapi juga hal baik apa saja yang sudah terjadi, puji pasangan tentang apa yang ia lakukan.
ADVERTISEMENT
Obrolin juga hal seru dan baik apa yang telah dilakukan berdua. Lalu diskusikan lagi, bagaimana perasaannya, keberatankah dengan aktivitas yang dilakukan di hari itu, tentang pengasuhan juga bisa masuk.
Komunikasinya bisa dimulai dengan pujian, koreksi, dan ditutup lagi dengan pujian. Jadi tidak menyakiti hati pasangan dan bisa membuatnya berpikir untuk meng-improve apa yang dilakukan.
Tentunya disampaikan dengan empati yaa, dibuka dengan pujian hal-hal yang baik, di tengahnya obrolin yang perlu di improve dan ditutup dengan hal baik sehingga diskusinya terasa menyenangkan.
Dan yang ketiga berkaitan dengan pertanyaan pertama, dilakukan dengan saat mood-nya sama-sama enak dan sama-sama siap. Kalau memang hari itu melelahkan bisa di-pending di keesokan harinya, sehingga ketika sama-sama siap kondisi evaluasinya bisa sangat kondusif.
ADVERTISEMENT
Yang bisa dilakukan lagi adalah dengan menggunakan kata aku di kalimat pembuka, "I message". Jadi dimulai dari: aku pengen ngomong, aku melihat dan aku merasa, bukan kamu (pasangan). Sehingga pasangan tidak merasa dipojokkan atau merasa disalahkan.
Juga perbanyak kata kita, jadi seolah-olah, memang kita adalah tim, jadi apapun yang terjadi hari ini, baik dan buruknya juga yang perlu di-improve adalah tanggung jawab kita bersama. Ini untuk mengurangi adanya ketersinggungan di antara kedua belah pihak karena merasa disalahkan.
Semoga menjawab ya & selamat berproses, Mom 🤗.
Tanya: Saat ini aku dan suami lagi kebingungan buat ngajarin anak bahasa Indonesia, karna dari kecil anakku sudah terbiasa menggunakan english. Salahnya memang ketika kami sibuk masing-masing kami berikan tab, itulah mengapa dia susah bahasa Indonesia nya.
ADVERTISEMENT
Suami saya pengennya ya udah langsung masukin TK internasional, tapi saya maunya TK biasa biar dia lebih paham dan mengerti Indonesia. Baiknya gimana ya diskusiin ini dengan suami?
Jawab: Nah, sebelum ngomongin TK nya, yang perlu didiskusikan pertama kali dengan suami adalah bahasa nya ini sendiri. Bahasa apa yang sebetulnya ingin dijadikan bahasa utama keluarga? Karena yang namanya bahasa itu bukan cuman skill atau anaknya bisa bahasa apa, tapi nyaman berkomunikasi dengan keluarga dengan bahasa apa.
Kalau memang 1 keluarga ternyata nyaman dan oke aja berbahasa inggris, yasudah. Tapi berarti ada tantangan lain ketika berteman dengan teman-teman di luar dari keluarganya, terlepas dari sekolah nya apa. Mungkin harus perlu beradaptasi lagi karena kebanyakan kalau tinggal di Indonesia akan mendapatkan orang2 yang berbahasa Indonesia.
ADVERTISEMENT
Jadi disepakati dahulu sebenarnya dengan pasangan, “Oke, mau berbahasa apa?,” Karena sebelum TK ini sebaiknya memang sudah bisa menggunakan kalimat dengan struktur bahasa yang baik dan benar.
Untuk pemilihan sekolah lebih kepada media bantu untuk anak belajar. Karena ini kita ngomongin sekolah TK, ya. Internasional atau non-internasional? Itu lagi-lagi balik ke preferensi orang tua, tapi disini core permasalahannya adalah bahasanya.
Bahasa apa jadi disepakati dulu, bahasa apa yang ingin digunakan, bahasa apa yang sebetulnya cocok untuk kemampuan anaknya saat ini, bahasa apa yang sebetulnya bisa digunakan secara lebih baik di dalam keluarga.
Tentang cara berkomunikasi, yang bisa orang tua lakukan adalah:
  1. Sama-sama cari informasi/artikel pendukung, jurnal penelitian misalnya. Atau buku-buku yang membahas tentang bahasa anak.
  2. Didiskusikan lagi sama pasangan apa yang dia pikirkan, apa yg kita pikirkan. Kenapa pasangan memilih itu? Kenapa kita memilih seperti itu, pros and cons-nya. Bisa sama-sama ditulis dan dipilih berdasarkan bukti tertulis. Jadi juga mengurangi konflik-konflik yang berbau emosional karena kita bisa ngeliat bukti nyatanya lewat tulisan.
ADVERTISEMENT
Semoga menjawab ya & good luck!
Tanya: Ada tips gak yaa buat pasangan yang sedang LDM (long distance marriage) di masa pandemi? Rasanya berat sekali mengasuh anak sendirian di masa-masa kayak gini.
Jawab: Bisa dipahami ini pasti rasanya cukup berat ya, melewati masa pandemi tanpa pasangan dan mengasuhnya jadi merasa sendirian.
Yang bisa dilakukan pertama, dimana kita sebagai punya tanggung jawab untuk bersama dengan anak :
  • List source bantuan, yang bisa kita manfaatkan/minta bantuan di luar pasangan (orang tua, saudara, adik/ kakak) yang memang juga bisa membantu kita untuk berbagi tugas pengasuhan.
  • Dengan pasangan, fokusnya saat ini bukan pembagian tugas, tapi bagaimana tetap menciptakan momen, supaya anak dan pasangan tetap memiliki momen bermain, karena bermain juga bagian dari pengasuhan.
  • Bisa dengan video call berkala, nonton bersama dg ayahnya, bermain game secara virtual atau rutinitas lain, misal ayahnya menemani dengan membacakan dongeng sebelum tidur dari jarak jauh.
ADVERTISEMENT
Yuk berpikir lebih kreatif untuk kegiatan kebersamaan walau dari jarak jauh. Dan soal pembagian tugas, membacakan dongeng bisa jadi salah satu cara pembagian tugas secara jarak jauh.
Mungkin memang tidak sepenuhnya meringankan beban kita tapi setidaknya kita bisa fokus pada menciptakan momen ayah dan anak walau sedang berjarak.
====================
KELAS merupakan diskusi dan tanya-jawab online yang diadakan di grup teman kumparan. Di KELAS, kamu bisa berdiskusi dengan para pakar di bidangnya secara gratis. Yuk, gabung ke grup teman kumparan mom di Telegram melalui kum.pr/temankumparanmom. Jangan lewatkan keseruannya, ya!