KELAS Teman kumparan: Pilihan Karier jadi Penulis bagi Perempuan

Ayo gabung ke komunitas teman kumparan!

Bagi sebagian perempuan, menulis merupakan salah satu kegiatan yang menyenangkan. Dengan menulis, kita dapat berekspresi dengan menuangkan isi pikiran dan perasaan lewat tulisan. Jika Ladies ingin serius menekuni dunia penulisan, maka peluang untuk bisa berkarier secara profesional sebagai penulis pun terbuka lebar.
Sekarang, ada banyak pilihan profesi yang menuntut keterampilan menulis bagi perempuan. Mulai dari jurnalis media, penulis fiksi, penulis konten, hingga menjadi copywriter untuk memasarkan brand pun butuh keterampilan baik dalam merangkai kata-kata menjadi tulisan.
Namun, sama seperti profesi lainnya, menjadi penulis pun memiliki tantangan tersendiri. Ada kalanya, seorang penulis mengalami writer's block, kehabisan ide untuk membuat tulisan, ataupun kehilangan mood untuk menulis. Itu semua pasti pernah dirasakan oleh seorang penulis, tak terkecuali penulis profesional yang sudah lama berkiprah di dunia kepenulisan.
Membahas lebih lanjut tentang pilihan karier penulis bagi perempuan, teman kumparan sempat berbincang bersama Fitria Sofyani, Chief of kumparanWOMAN di Grup WhatsApp Teman kumparan.
Sudah lebih dari 8 tahun Fitria Sofyani berkiprah di dunia kepenulisan. Sejak remaja, Chief of kumparanWOMAN ini memang sudah tertarik dengan isu-isu perempuan dan suka menuangkannya lewat tulisan.
Sebelum bekerja di kumparan, Fitria lebih dulu mengawali kariernya sebagai penulis di salah satu majalah perempuan. Ia telah menyicip banyak suka duka selama menjadi penulis hingga akhirnya menjadi pemimpin redaksi kumparanWOMAN seperti sekarang.
Penasaran keseruannya seperti apa? Yuk simak rangkumannya berikut ini, Ladies!
Tanya: Bagaimana awalnya menyakinkan diri sendiri untuk terjun dalam profesi penulis?
Jawab: Dari sejak remaja sebetulnya saya sudah tertarik dengan isu sosial, terutama isu perempuan. Banyak hal yang jadi perhatian saya dan ingin ditumpahkan, tapi saya bukan tipe orang yang outspoken dan suka bicara di depan orang. Jadi bingung gimana cara menyalurkan kegelisahan dalam pikiran.
Sudah ada teman yang menganjurkan jadi penulis atau kerja di surat kabar, tapi waktu itu saya nggak pede bisa nulis yang berkualitas dan sepertinya nggak yakin bisa kerja under pressure di media.
Tapi setelah melewati 3 pekerjaan dengan banyak kegalauan, akhirnya saya merasa bahwa panggilan hati saya memang adalah menyuarakan isu-isu sosial. Saya pun mantap untuk lanjut kuliah jurnalistik (sebelumnya kuliah D3 Public Relations). Hal ini juga didorong oleh banyaknya bacaan-bacaan yang menggugah hati.
Saya berpikir jika saya ingin berkontribusi sesuatu untuk perempuan atau masyarakat, saya bisa lakukan itu melalui tulisan.
Waktu kuliah saya sempat magang di koran The Jakarta Post. Ketika tulisan pertama terbit di koran tersebut, 2 halaman penuh, bangganya bukan main. Tamat kuliah jurnalistik, saya masih sempat ragu apa memang mau kerja di media, karena waktu itu usia sudah tidak begitu muda untuk memulai jadi reporter lapangan.
Ada pertimbangan keuangan juga, karena gajinya nggak begitu tinggi. Tapi kemudian saya dapat hadiah sebuah buku berjudul Half the Sky. Buku kumpulan reportase 2 jurnalis AS tentang kisah-kisah perempuan.
Setelah membaca buku itu, saya nggak ada keraguan lagi bahwa saya ingin melakukan hal yang sama. Saya kemudian apply di majalah perempuan. Hari pertama kerja, saya bilang ke orang- orang, ‘saya telah menemukan jodoh karier saya.’ I found the job of my life.
Tanya: Bagaimana cara teknik menulis yang baik? Dan bagaimana pula cara mencari inspirasi untuk menulis?
Jawab: Untuk tahu teknik menulis yang baik, sebaiknya kita definisikan dulu kita ingin menulis apa. Apakah ingin menulis cerita fiksi (cerpen/novel), menulis blog, jadi copywriter, atau menulis artikel untuk media? Karena setiap bidang tersebut pastinya menuntut gaya tulisan yang berbeda-beda.
Tapi untuk dasarnya sekali, memang penting untuk mengingat kembali pelajaran Bahasa Indonesia yang kita pelajari sewaktu SD dan SMP dulu . Mulai dari hal sederhana misalnya SPOK (ini penting, lho!), karena dengan begitu kita akan tahu bagaimana merangkai kalimat sehingga menjadi suatu kerangka pemikiran.
Biasanya kepada tim saya selalu menekankan, sebelum kamu mau menulis yang bagus dan yang indah, terlebih dahulu kamu harus tahu menulis yang benar. Ini sebetulnya memang berlaku untuk penulis di media, karena kami menulis fakta. Untuk penulis cerpen dan blog akan lebih leluasa lagi untuk bereksperimen, dan tidak terpaku pakem kaidah jurnalistik.
Agar kita lebih peka dengan tulisan yang baik, kita memang harus benar-benar rajin membaca. Jika kita ingin menulis di media, maka tentu rajin baca koran, majalah, atau media online. Jika ingin menulis fiksi, maka perbanyak bacaan novel dan karya fiksi lainnya, begitupun jika ingin menjadi blogger yang sukses. Perbanyak sumber blog, sehingga lama-kelamaan kita akan terbiasa dengan kata-kata. Selain itu, bisa juga tentunya ambil kursus atau kelas menulis.
Inspirasi menulis buat saya bisa datang dari mana saja; orang-orang sekeliling, kejadian, tontonan, musik, dll. Bagi saya, karena saya fokus di media dan isu perempuan. Saya banyak terinspirasi dari kejadian, hal-hal yang dialami perempuan, termasuk diri saya sendiri.
Tanya: Bagaimana memasukkan tulisan kita ke penerbit? Adakah tata cara agar tulisan kita bisa dipublish?
Jawab: Sebetulnya sekarang ada banyak sekali jalan agar tulisan kita diterbitkan. Beberapa media, termasuk kumparan, memberi kesempatan bagi masyarakat untuk mem-publish tulisan di platform kami secara independen, dan menerbitkan apa yang disebut user story. Semudah kita buka akun media sosial atau blog, lalu kemudian tinggal menulis apa yang menjadi minat kita; apakah parenting, beauty, travel, religi, dll.
Kamu bisa mulai dari hal-hal seperti ini, jadi tidak harus melalui kirim submission untuk tunggu disetujui para editor. Kalau sudah ditulis di-blog atau platform seperti kumparan, bisa share link-nya ke teman-teman agar mereka bisa kasih pendapat.
Nah, kemudian jika ingin naik tingkat untuk tulisan berbayar, bisa dilihat dari feedback mereka, apakah tulisan menarik, banyak yang baca? Biasanya banyak media yang mencari penulis lepas untuk menambah konten mereka.
Dulu jauh sebelum jadi penulis majalah, saya coba mulai dengan kirim-kirim surat pembaca ke majalah. Itu jadi langkah awal bagi saya untuk tulisan terbit di majalah.
Tanya: Bagaimana kita tahu kalau tulisan kita potensial dan dapat menghasilkan profit?
Jawab: Tentunya ini bisa kita ukur dari feedback positif pembaca. Namun yang terpenting; apakah kita puas dan percaya diri dengan tulisan tersebut?
Jadi sebelum kita menghasilkan tulisan yang profitable, saran saya, kita harus banyak-banyak dulu membuat tabungan tulisan. Sama seperti saran saya sebelumnya, sekarang kita banyak keuntungan dengan adanya blog gratis, dan platform media seperti kumparan yang memberi kesempatan untuk menulis dan dibaca khalayak.
Jika tulisan kita mendapatkan banyak feedback, artinya tentu orang senang membaca tulisan kita. Tapi jangan berkecil hati juga jika tidak ada feedback, bukan berarti tulisan tidak bagus.
Dulu karena saya memang punya passion yang tinggi dan punya purpose dalam tulisan saya, saya berprinsip; bahkan jika hanya 1 orang yang tergugah dengan tulisan saya, tidak apa-apa. Artinya saya bisa melakukan sesuatu untuk orang lain, menginspirasi mereka, membuka pikiran atau menambah pengetahuan mereka.
Jadi kalau menurut saya, jika ingin menjadi penulis kita harus menemukan sense of purpose dulu.
Why do we want to write? And what do we want to write?
- Fitria Sofyani, Chief of kumparanWOMAN
Ini kemudian bisa dijadikan portofolio jika kita ingin menjadi penulis profesional ke depannya. Ada beberapa komunitas yang menampung penulis freelance, memberikan project dari perusahaan yang membutuhkan copywriter.
Kita tinggal attach link blog kita di submission, sehingga mereka akan mudah untuk melihat jejak tulisan kita sebelumnya. Selain itu sekarang juga ada kesempatan luas untuk menjadi social media manager. Pekerjaan ini juga membutuhkan kemampuan menulis yang baik untuk tulisan caption, deskripsi atau Tweet misalnya.
Tanya: Bagaimana caranya untuk tetap menulis ketika sedang tidak ada ide menulis sama sekali?
Jawab: Biasanya ketika sedang tidak ada ide, tapi ingin tetap menulis, saya akan menulis di jurnal pribadi tentang perasaan. Jadi semacam curhat begitu. Jika ada hal-hal yang berkesan di hari itu, baik perasaan baik, perasaan buruk, rasa bahagia, sedih, atau kesan terhadap suatu hal, saya coba tuangkan ke dalam tulisan.
Dan ketika menulis jurnal pribadi, kita juga tidak perlu harus memperhatikan alur dan lain-lain. Langsung aja tulis apa yang ada di pikiran, biasanya setelah mulai beberapa saat, kata-kata bisa mengalir begitu saja. Selain bagus untuk melatih tulisan, ini juga bagus buat kesehatan mental.
Tanya: Bagi yang suka menulis tapi terkadang belum bisa fokus karena terbagi dengan pekerjaan, bagaimana tips atau cara untuk tetap fokus saat menulis?
Jawab: Menulis memang sangat erat kaitannya dengan fokus dan juga mood. Kadang kita susah untuk memaksakan untuk menulis jika memang sedang tidak fokus dan tidak mood.
Bagi saya, karena ini pekerjaan utama, memang ini sudah harus menjadi fokus setiap hari--mood harus dilawan dan dikondisikan sedemikian rupa.
Untuk teman-teman yang menulis di sela-sela pekerjaan utama, saya sarankan untuk benar-benar set waktu, misalnya di malam hari (jam tertentu), atau hari tertentu untuk menulis. Tidak perlu lama-lama menurut saya, cukup dimulai dengan 1 jam dulu.
Jika nanti ide memang sedang mengalir deras, teruskan saja waktunya, jangan disetop, karena momen tersebut biasanya jarang terjadi (berdasarkan pengalaman). Kalau sudah tidak ada ide berhenti dulu, dan lebih baik baca-baca sumber yang banyak.
Selain itu, jika memang memungkinkan, sediakan satu corner atau meja untuk menulis tempat kita bisa menyimpan segala hal yang memberi kita inspirasi untuk menulis. Misalnya buku-buku bacaan, majalah dan lain-lan.
Tapi perlu diingat juga, jangan menyerah jika kita sedang mengalami writer's block. Saya kadang bisa menghabiskan waktu seharian di depan laptop, memilih untuk tidak keluar bersama teman-teman, lalu pada akhirnya tidak menghasilkan apa-apa hari itu. That’s okay, it happens.
Kadang saya harus menulis 3 draft dulu, sampai akhirnya menemukan alur yang pas. Kadang ada artikel feature hampir selesai, saya rombak lagi dari awal karena saya merasa menemukan alur yang lebih menarik dan menyenangkan untuk dibaca. Jadi jangan cepat menyerah jika tidak fokus. Coba lagi, dan coba lagi.
Tanya: Apa tips supaya ide untuk menulis bisa terus mengalir? karena terkadang ketika di tengah perjalanan menulis tiba-tiba stuck kehabisan ide lalu jadi demotivasi dan akhirnya berhenti.
Jawab: Baca, baca, baca. Saya belajar bahwa 60 % aktivitas dari menulis itu adalah membaca. Artinya, kita nggak akan punya ide apa-apa untuk ditulis jika kita tidak banyak membaca. Ketika saya bingung untuk memulai tulisan, saya akan membaca berbagai hal terlebih dahulu. Mulai dari buku, internet dan majalah.
Nah, karena dulu saya sempat lama bekerja di majalah, ini memang jadi sumber inspirasi penting bagi saya. Kadang ketika melihat gambar-gambar saja, saya bisa terinspirasi kata-kata atau ide tertentu. Ini juga bisa jadi cara untuk mengusir ketegangan ketika kita stuck dengan tulisan.
Selain itu, kalau memang stuck di tengah jalan, tidak apa berhenti dulu. Biasanya kalau saya mengalami writer's block, saya akan tutup semua hal yang berhubungan dengan tulisan tersebut. Saya jauhkan dulu, dan lakukan hal yang berbeda. Lakukan hal-hal yang mengangkat mood; denger musik, masak, nonton, nyanyi, ketemu teman, apapun itu. Nanti kalau perasaan sudah membaik, sudah ringan lagi, baru buka kembali tulisan tersebut.
Tapi perlu diingat juga, jangan menyerah jika kita sedang mengalami writer's block. Saya kadang bisa menghabiskan waktu seharian di depan laptop, memilih untuk tidak keluar bersama teman-teman, lalu pada akhirnya tidak menghasilkan apa-apa hari itu. That’s okay, it happens.
Kadang saya harus menulis 3 draft dulu, sampai akhirnya menemukan alur yang pas. Kadang ada artikel feature hampir selesai, saya rombak lagi dari awal karena saya merasa menemukan alur yang lebih menarik dan menyenangkan untuk dibaca.
Sering saya merasa stres sampai perutnya mual, kok tulisan nggak maju-maju, kok nggak ada ide, kok bahan terlalu banyak, nggak tahu harus mulai dari mana? Kadang nggak bisa tidur kalau udah mau deadline. Ya hal-hal seperti ini pasti terjadi. Tapi kalau memang kita yakin kita ingin menghasilkan tulisan, ini hal yang kita cintai, pasti, at the end tulisan itu akan jadi juga. Jadi semangat terus! :)
===================
KELAS merupakan diskusi online yang diadakan di grup teman kumparan. Di KELAS, kamu bisa berdiskusi dengan para pakar di bidangnya secara gratis. Tertarik ikuti keseruannya? Yuk join Grup Telegram Teman kumparan di kum.pr/temankumparan
