Komunitas Gajahlah Kebersihan Ajak Anak Muda untuk Peduli Isu Sampah Laut

Ayo gabung ke komunitas teman kumparan!

Tahukah kamu? Persoalan sampah laut di Indonesia merupakan isu yang mendesak dan perlu ditangani secara menyeluruh. Berdasarkan penelitian dari University of Georgia, Indonesia menjadi negara kedua setelah China yang menghasilkan sampah laut terbanyak di dunia.
Selain itu, berdasarkan data Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton/tahun. Sekitar 3,2 juta ton diantaranya merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut.
Melihat permasalahan tersebut, empat pemuda asal Lampung, Dicky Dwi Alfandy, Edy Fajar Prasetyo, Putri Winda Sari, dan Mutia mendirikan Gajahlah Kebersihan, komunitas yang berfokus pada pemberian edukasi masyarakat terhadap isu sampah laut (marine debris).
"Gajahlah Kebersihan lahir pada 28 Oktober 2017 di Jakarta. Kegiatan pertama Gajahlah Kebersihan pada saat itu online seminar," ujar Putri kepada kumparan.
Menurut Putri, Gajahlah Kebersihan terbentuk setelah ia dan keempat kawannya mengikuti program Indonesian Youth Marine Debris Summit (IYMDS) 2017. Kata 'gajah' dipilih sebagai penamaan karena hewan pintar ini merupakan icon dari Provinsi Lampung. Karena ingin menyampaikan pesan 'jagalah kebersihan', akhirnya dinamakanlah komunitas ini menjadi Gajahlah Kebersihan.
Para founders Gajahlah Kebersihan sangat menaruh perhatian terhadap isu-isu lingkungan, terutama permasalahan sampah laut di kota asalnya, Lampung. Menurut mereka, isu sampah ini ternyata sangat penting untuk diatasi. Terlebih, pencemaran microplastic yang sangat berbahaya bagi tubuh manusia. Sebagai generasi muda, mereka percaya dapat menggerakkan banyak orang untuk memiliki tujuan yang sama, yakni mengatasi isu sampah laut di Indonesia.
Menjadi komunitas pertama yang membahas isu marine debris di Lampung, Putri dan tim berharap dapat memberikan solusi dan membantu pemerintah dalam mengatasi masalah sampah di sana. Pasalnya, Lampung merupakan salah satu daerah yang belum menerapkan kebijakan penggunaan kantong plastik seperti yang sudah dilaksanakan di beberapa daerah lainnya.
"Saya melihat belum ada komunitas yang berfokus pada isu sampah laut di Lampung, sedangkan isu ini merupakan isu yang urgent untuk dibahas," tutur Putri.
Lewat Gajahlah Kebersihan, Putri dan tim dapat mengedukasi masyarakat luas dengan mengadakan pengajaran dan pelatihan, seperti pelatihan upcycling, seminar online dan offline, serta edukasi ke sekolah maupun universitas.
Setelah dua tahun didirikan, Gajahlah Kebersihan telah memberikan edukasi kepada lebih 13.500 masyarakat Indonesia lewat seminar, workshop, kegiatan summit, maupun kunjungan edukasi ke beberapa universitas dan sekolah, serta kegiatan lainnya.
Tak hanya di Lampung, kini Gajahlah Kebersihan memiliki 120 member yang tersebar di seluruh Indonesia. Lebih dari separuhnya, merupakan member Gajahlah Kebersihan nasional yang tak berdomisili di Lampung. Mereka saling berkoordinasi secara online. Menurut Putri yang juga sedang menempuh studi di India, jarak bukan masalah bagi para member asalkan ada niat dan usaha yang dilakukan secara konsisten.
Putri mengatakan, sudah banyak kegiatan lingkungan yang dilakukan oleh Gajahlah Kebersihan untuk membebaskan lautan dari sampah. Pada 2019, mereka bahkan menyelenggarakan Lampung Youth Marine Debris Summit (LYMDS). Lewat LYMDS, sebanyak 30 calon pemimpin dari berbagai penjuru Lampung dikumpulkan untuk diberikan pemahaman serta pelatihan mendalam mengenai isu sampah laut.
Menghadapi persoalan sampah yang kian pelik semasa pandemi, Gajahlah Kebersihan menyiasatinya dengan mengadakan seminar online lingkungan ataupun mengundang narasumber untuk memberikan informasi mengenai lingkungan lewat live Instagram @gajahlahkebersihan.id.
Harapannya, Gajahlah Kebersihan berharap dapat ikut serta dalam mendukung target pemerintah dalam mengurangi sampah hingga 70% pada tahun 2025.
(sif)
