Konsisten Berlari meski Punya Gangguan Kesehatan, Begini Cerita teman kumparan

teman kumparan

teman kumparanverified-green

Ayo gabung ke komunitas teman kumparan!

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Lari. Foto: Sorn340 Studio Images/Shuttterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Lari. Foto: Sorn340 Studio Images/Shuttterstock

Olahraga lari kini sudah jadi gaya hidup yang digemari banyak orang, termasuk mereka yang hidup dengan kondisi kesehatan tertentu. Keterbatasan yang dimiliki nggak menghalangi mereka untuk tetap aktif berlari.

Bagi orang dengan kondisi kesehatan tertentu, lari tetap bisa dilakukan selama nggak memaksakan kemampuan tubuh. Seperti dikutip dari laman Mayo Clinic, pengidap asma, diabetes, maupun gangguan jantung perlu mengatur intensitas latihan, pola makan, dan waktu istirahat agar aktivitas lari tetap aman.

Hal serupa juga dialami oleh sejumlah teman kumparan. Meski harus hidup berdampingan dengan kondisi kesehatan yang dimiliki, mereka tetap berusaha konsisten berlari untuk menjaga kebugaran sekaligus meningkatkan kualitas hidup.

Ingin tahu bagaimana cara mereka menghadapi berbagai tantangan tersebut? Yuk, simak cerita inspiratif teman kumparan berikut ini.

Cerita teman kumparan yang Konsisten Berlari meski Punya Tantangan Kesehatan

Ilustrasi olahraga lari. Foto: Shutterstock

Salah satu teman kumparan yang tetap semangat berlari meski memiliki tantangan fisik adalah Muhammad Muhaimin Marta (34). Pria yang didiagnosis mengidap kelainan jantung Mitral Valve Prolapse (MVP) ini mengaku nggak pernah menjadikan kondisinya sebagai alasan untuk berhenti berlari.

Dikutip dari laman Cleveland Clinic, Mitral Valve Prolapse (MVP) merupakan kelainan pada katup jantung yang membuat katup mitral nggak menutup dengan sempurna. Kondisi tersebut bisa meningkatkan risiko aritmia atau detak jantung nggak beraturan, sehingga Muhaimin harus lebih berhati-hati saat berlatih.

"Mitral Valve Prolapse memiliki risiko aritmia atau detak jantung yang tidak beraturan. Kendala ini membuat saya nggak bisa push saat latihan berlari lebih kencang," tuturnya.

Karena itu, Muhaimin memilih mengubah strategi latihannya. Alih-alih mengejar kecepatan, ia lebih sering berlari dengan intensitas ringan namun dengan durasi yang lebih panjang agar tubuhnya tetap bisa beradaptasi dengan aman.

Ilustrasi Lari Foto: lzf/Shutterstock

Usaha tersebut akhirnya membuahkan hasil. Salah satu momen yang paling membekas baginya adalah ketika berhasil menyelesaikan marathon 42 kilometer di Jakarta International Marathon 2026.

"Bukan main terharunya, saya berhasil finish 42 KM di Jakarta International Marathon 2026 kemarin dengan catatan waktu 5 jam 39 menit. Menjelang garis finish air mata saya menitik haru, terlebih istri dan anak saya menanti di balik garis finish," katanya.

Meski sudah berhasil menaklukkan marathon pertamanya, Muhaimin belum ingin berhenti. Ia bercita-cita suatu hari nanti bisa mengikuti Copenhagen Marathon.

Di balik semua pencapaian itu, ada alasan sederhana yang terus memotivasinya. Sejak didiagnosis mengidap MVP, Muhaimin semakin bersemangat memperbaiki gaya hidup dan menjalani latihan secara lebih terukur agar bisa hidup sehat lebih lama bersama istri dan anaknya.

Ilustrasi pelari marathon. Foto: AFP PHOTO /Andrej ISAKOVIC

Cerita serupa juga datang dari teman kumparan Chasanah (31), yang hidup dengan skoliosis. Kelainan tulang belakang yang dialaminya membuat Chasanah harus lebih bijak dan menyesuaikan ritme saat berlari.

Ia nggak bisa memaksakan tubuhnya saat latihan maupun mengikuti race. "Kalau terlalu di-pressure, rasa pegal akan mulai terasa. Saya sering rehat sebentar untuk stretching di track saat lari," ujarnya.

Nggak cuma tantangan fisik, Chasanah juga diuji secara mental. Ada kalanya ia merasa ingin menangis ketika nyeri di tulang belakang muncul saat sedang berlari.

Agar kondisinya tetap terkendali, Chasanah selalu menerapkan arahan dari instrukturnya. Beberapa hal yang rutin ia lakukan antara lain:

  • Menghindari penggunaan satu sisi tubuh sebagai tumpuan atau penopang beban, termasuk saat berlari.

  • Melakukan peregangan yang berlawanan arah dengan kelengkungan tulang belakang. Karena skoliosis yang dialaminya berbentuk S terbalik, ia fokus membuka sisi kanan punggung atas yang melengkung dan berusaha meluruskan punggung bagian bawah.

Ke depannya, Chasanah berharap bisa mengikuti lebih banyak ajang lari, seperti Garmin Run, JRF, hingga BTN Jakarta International Marathon untuk kategori 5K. Saat ini, ia masih terus berlatih agar bisa menyelesaikan jarak tersebut dengan lebih stabil.

Dari pengalamannya, Chasanah belajar untuk nggak terlalu overthinking terhadap hal-hal yang belum tentu terjadi. Baginya, selalu ada harapan untuk melewati rasa takut selama mau terus mencoba.

"Masih ada sebersit harapan bahwa kita mampu melewati rasa takut kita sendiri. Salam We Love, We Care, We Share," tutup Chasanah.

Jangan ketinggalan info event Fun Run! Gabung komunitas teman kumparan Running Club sekarang http://kum.pr/running