kumparan
16 Oktober 2019 11:11

kumparanTALK Edisi Membangun Bisnis Kuliner Melalui Hobi

Poster kumparanTALK FOOD. Dok: kumparan.

Berbicara soal bisnis kuliner, selalu menarik untuk tahu siapa yang mendirikan, bagaimana prosesnya seperti jatuh bangun dan mengelolanya supaya bertahan dan menguntungkan. Serta berbagai tips dalam meraih pelanggan dan selalu ramai dikunjungi.

ADVERTISEMENT
WhatsApp grup teman kumparanFOOD pada kamis, 26 September 2019 juga dipenuhi oleh pembicaraan tentang bisnis kuliner karena pada malam itu teman kumparanFOOD kedatangan tamu spesial pada kumparanTALK (diskusi di grup whatsapp teman kumparan dengan tema tertentu dan mengundang pembicara expert di bidangnya) yaitu Shasya Pashatama, influencer; food blogger sekaligus founder dari resto Cici Claypot di Bandung. Obrolan seru itu membahas tentang bagaimana sih membangun bisnis melalui hobi. Berikut ini ringkasan diskusi kumparanTALK teman kumparanFOOD:
Tanya: Saya bisnis makanan baby. Salah satu yang jadi kendala saya sekarang bisnis makanan via online adalah melayani calon pelanggan yang udah tanya jawab panjang lebar tapi setelah tau saya hanya jual via "Toko Online" langsung ga ada respon. Bagaimana cara membuat pelanggan percaya?
ADVERTISEMENT
Shasya: saya kebetulan juga pernah punya bisnis makanan online yang ga ada tokonya, jualannya hanya mengandalkan sosmed aja. Salah satu cara untuk membuat calon pelanggan percaya adalah dengan mengumpulkan sebanyak mungkin testimonial dari yang sudah pernah beli dan puas sama produk kita. Bisa di post di Instagram feed atau stories, facebook atau di platform apapun yang dipakai untuk berjualan.
Berjualan online memang 'berisiko' menghabiskan waktu kita menjawab pertanyaan calon pelanggan yang kadang-kadang menurut kita aneh dan ga perlu ya, hehe. Tapi selama masih ada waktu, biasanya saya jawab. Lama-lama kita akan punya sense yang lebih tajam apakah si calon pelanggan ini memang mau beli atau cuma tanya-tanya aja. Nanti kalau sense nya sudah terlatih, waktu untuk menjawab pertanyaannya bisa lebih efektif
ADVERTISEMENT
Bisa juga membuat postingan FAQ, Frequently Asked Question. Jadi untuk pertanyaan yang itu-itu aja kita bisa arahkan ke postingan tsb sehingga ga perlu dijawab satu per satu lagi
Tanya: Apa saja kiat-kiat mengembangkan bisnis online makanan pre-order rumahan? Kapan saat yang tepat membuka online kitchen yang melayani pesanan melalui Go-Food? Terima kasih :)
Shasya: beberapa kiat yang bisa aku share untuk bisnis dengan metode PO :
1. Sebelum buka PO, kirimkan beberapa sample ke teman yang punya pengaruh dan bisa meng-influence teman lain untuk membeli. Jadi pas buka PO, kita udah punya testimonial dari yang udah pernah coba makanan kita
2. On time. Ini ga bisa ditawar, kalau janji kirim hari itu, mesti kirim hari itu, jangan meleset apalagi makanan cepat kadaluwarsa atau gak enak rasanya kalau pengirimannya tertunda.
ADVERTISEMENT
3. Sekali lagi, bikin konten menarik dari makanan yang akan dijual. Karena dengan sistem PO modalnya cuma foto. Karena yang beli gak bisa mencium aroma, gak bisa melihat bentuk asli makanannya, jadi foto sangat penting.
Pertanyaan kedua soal kapan saat yang tepat, ya saat kita merasa siap menerima pesanan. Kalau soal ini kurasa pelaku sendiri yang bisa memutuskan. Kirim beberapa sample ke teman atau influencer juga kayak "latihan" sebelum PO beneran dimulai. Sekaligus buat menghitung berapa waktu yang diperlukan dari pembuatan makanan, packing, kirim ke kurir sampai makanan tsb sampai di tangan penerima.
Shasya Pashatama, pembicara kumparanTALK. Dok: pribadi.
Tanya: Gimana cara meyakin kan diri berani buka stand food di bazar, karena aku kurang percaya diri. Saat ini aku jualan dessert mini
ADVERTISEMENT
Shasya: untuk memupuk percaya diri, harus yakin dulu kalau makanan kita memang enak dan bisa bersaing. Untuk bisa bergabung di bazar, lengkapi stand kita dengan tampilan yang menarik. Foto makanan, design booth yang menarik pasti akan mengundang calon pembeli untuk datang. Karena bazaar sifatnya temporari, bisa juga memberikan promo yang hanya berlaku saat bazar berlangsung
Tanya: Tips menekan food cost yang tinggi pada suatu produk. namun tetap menjaga mutu porsi, rasa dan kualitas produk tersebut?
Shasya: Untuk menekan food cost, kita perlu tau dulu mana cost yang bisa ditekan, mana yang engga. Biasanya bahan baku penting agak sulit untuk ditekan. Misalnya nih daging sapi, kan memang mahal, kalau mau bertahan menghasilkan produk dengan grade A ya mau ga mau bahan sapinya ga bisa diganti. Cari lagi bahan yang bisa diganti dengan cost yang lebih murah, misalnya kecap, kalau pake kecap dengan merk yg lebih tidak terkenal hasilnya sama aja, maka bisa diganti. Harus rajin survey harga supaya dapet supplier yang kualitasnya A tapi harganya miring. Kita mesti tau juga mau jual di harga berapa dan ke siapa. Kalau misalnya memang target marketnya middle low, bisa pakai daging grade B, dan seterusnya.
ADVERTISEMENT
Tanya: Gimana caranya biar banyak yang tau bisnis makanan baby saya?
Shasya: Kalau targetnya ibu-ibu yang kurang update medsos ya keliatannya mesti cari platform lain untuk berjualan. Misalnya nih, broadcast barang dagangan, promosi, diskon lewat whatsapp. Setidaknya ibu2 ini pakai whatsapp atau line kan ya. Atau cari tau biasanya ibu-ibu suka 'berkumpul' di mana. Di facebook sepertinya masih banyak ibu-ibu yang aktif jadi bisa dicoba posting di sana dan membuat sponsored post.
Kalau sekiranya di whatsapp pun tidak aktif, ya kembali ke cara konvensional, membuat flyer dan dibagikan ke rumah atau ke ibu-ibu di sekolah. Bisa juga bikin di acara kumpul ibu-ibu seperti arisan dan membagikan sampel gratis.
ADVERTISEMENT
Tanya: Mba shasya punya rekomendasi aplikasi edit di ios biar bisa bikin konten jadi ciamik?
Shasya: biasanya aku pakai app snapseed dan VSCO. Untuk instagram story yang menarik aku pakai Story Art atau Unfold. Jangan lupa, kalau kontennya makanan, editnya jangan terlalu banyak supaya tetap terlihat asli makanannya.
Ilustrasi kuliner. Dok: kumparan.
Tanya: Btw aku sebulan yang lalu pernah daftarin menu makanan di gojek dan google. kenapa ga di approve ya? Mba shasya punya info dan tips kah buatku?
Shasya: menurut pengalaman aku dan teman-teman, daftar gojek kadang memang suka lama. saranku di follow up aja terus karena mereka bekerja per regional, jadi udah ada wakil2 per area, Seharusnya sekarang jauhlebih baik dan cepat. Kalau di google maksudnya di google review kah? kalau google review asal bisnisnya sudah kita claim biasanya kita tinggal post aja kok mbak
ADVERTISEMENT
Tanya: Ada rekomendasi food bazaar yg oke buat dessert gitu ga? Sekarang kan banyak bgt food bazaar, sulit jg milih food bazaar mana yg sekira bakal bikin makanan kita laku dan dpt exposure hehe
Shasya: Kalau food bazaar tergantung di kota mana ya, kan beda-beda penyelenggara dan eventnya. Saranku, coba datengin beberapa food bazaar dan lihat apakah pengunjung yang datang ke sana adalah target market kita. Misalnya nih jualan es krim yang digemari anak-anak, ya mesti liat apakah food bazaar yg diikuti banyak dikunjungi keluarga apa enggak. Perhatikan juga mana penyelenggara food bazaar yang kompeten ; yang ga pelit promo, dan yang bazarnya biasa dikunjungi banyak orang. Pendeknya, cari yang terpercaya gitu. Kalau saya kan di Bandung, Food Bazar yang terpercaya misalnya Poppins atau MYSM, di kota lain mungkin bisa disurvei terlebih dahulu
ADVERTISEMENT
Tanya: saya mau tanya tips dan trik agar customer repeat order Ka, karena biasanya pada bilang enak tapi tidak repeat order ka
Shasya: Ini pelik memang, hehe. Karena menurutku kalau mereka suka beneran, mereka akan repeat order. Tapi jualan makanan itu kan enak bukan satu-satunya indikasi. Bisa jadi enak tapi misalnya tempatnya jauh. Atau enak tapi harganya gak murah sehingga ga bisa sering-sering repeat order. Saranku, bisa diakali dengan diskon untuk pembelian kedua, atau cashback untuk pembelian kedua, ini bisa menarik orang untuk datang lagi
Tanya: Aku berminat banget bisnis kuliner online lewat gofood atau grabfood, cuma masih bingung nih mau bisnis apanya haha. Cici kan update banget masalah kuliner, ada rekomendasi gak bisnis yg mantep buat sekarang ini?
ADVERTISEMENT
Shasya: cari makanan yang belum ada yang jual tapi juga jangan terlalu aneh sehingga orang ragu mencoba. atau coba jualan makanan yang sudah ada (dan orang suka) tapi dimodifikasi misalnya sate biasanya ditusuk pakai tusuk sate, kamu jual sudah dilepas dari tusukannya, kan lebih mudah juga packaging untuk pengirimannya. Atau misalnya jualan masakan Indonesia tapi istimewanya menyediakan 6 macam sambal berbeda. karena aku gak hafal persisnya tiap daerah menggemari makanan macam apa, jadi harus rajin2 survei juga :)
Tanya: Kalau trik yg dipakai mba Syasa apa aja kalau boleh tau biar bisa repeat order? Hehe
Shasya: trik aku sebetulnya sederhana, aku perhatikan mana customer yang suka datang, dan aku suka sapa. dengan disapa mereka merasa dikenal dan akhirnya jadi punya ikatan sama kita dan akan balik lagi. Aku juga selalu kembali ke tempat ngopi yang sama karena begitu aku masuk, baristanya suka menyapa "hai mbak shasya". Dikenal dan diingat orang itu kan menyenangkan, aku berusaha melakukan itu di bisnisku. Lebih hebat lagi kalau kita bisa ingat, dia sukanya pesan apa, terutama kalau ada request khusus misalnya tamu A suka pedas banget, tamu B anti pakai bawang.
Ilustrasi memotret makanan. Dok: kumparan.
Tanya: Tiba tiba muncul pertanyaan, wajibkah sebagai penjual pintar memfoto ? (Tentunya dalam hal foto makanan)
ADVERTISEMENT
Shasya: sebaiknya iya, lumayan menghemat budget daripada hire fotografer kan. Apalagi sekarang banyak dijual alat-alat pendukung foto produk yang tidak mahal, misalnya box atau lampu untuk lighting sederhana. Semua foto di menu Cici claypot saya foto sendiri dan saya gak pernah belajar secara profesional, modalnya latihan aja.
Tanya: Mending langsung jorjoran di awal (ngeluarin budget gede buat buka bisnis) atau mending merangkak dari pake stand dulu, terus punya resto dll?
Shasya: tergantung berapa modal dan budget yang kita punya. bisnis kan ada skalanya. Tapi bisa aja misalnya modalnya besar tapi kita pengen start small kan. Jadi tentukan dulu mau ikut skala bisnis yang mana
Tanya: Misalnya aku mau buka bisnis makanan tapi budgetnya mepet. Enggak bisa sewa tempat nih. Untuk kickstart, better jualan online aja dulu atau from bazaar to bazaar teh?
ADVERTISEMENT
Shasya: menurut pendapatku, better jualan online dulu. kalau punya modal lebih, ikut bazaar, ada modal lebih lagi, buka tempat. step by step :)
Closing statement dari Shasya Pashatama…
“Jadi kesimpulannya dariku, pas mau memulai bisnis ukur dulu kemampuan kita udah di mana. kalau udah bisa langsung buka besar, kenapa engga tapi mulai dari hal kecil dengan mengandalkan sumber daya yang kita punya semaksimal itu ideal banget. Untuk usaha2 kecil dan middle, usahakan kita bisa turun langsung ke dapur dan kita ngerti persis apa yang kita jual, supaya kalau misalnya karyawan kita resign kita ga matgay alias mati gaya dan masih bisa meneruskan usaha makanannya. Demikian, semoga bermanfaat buat semua yah.”
ADVERTISEMENT
Mau ikutan diskusi seru di kumparanTALK?
Yuk gabung whatsapp group teman kumparan sesuai dengan topik yang kamu sukai:
→ klik di sini untuk gabung ke whatsapp grup Teman kumparan MOM (mom dan parenting)
→ klik di sini untuk gabung ke whatsapp grup Teman kumparan WOMAN (beauty, isu perempuan dan lifestyle)
→ klik di sini untuk gabung ke whatsapp grup Teman kumparan BISNIS (finansial, usaha, ekonomi bisnis, startup)
→ klik di sini untuk gabung ke whatsapp grup Teman kumparan OTO (otomotif)
→ klik di sini untuk gabung ke whatsapp grup Teman kumparan BOLA (sepak bola di dalam dan luar negeri)
→ klik di sini untuk gabung ke whatsapp grup Teman kumparan MILENIAL (jokes, zodiak, brand kekinian, current issues)
ADVERTISEMENT
→ klik di sini untuk gabung ke whatsapp grup Teman kumparan FOOD (kuliner)
→ klik di sini untuk gabung ke whatsapp grup Teman kumparan TRAVEL (perjalanan ke dalam dan luar negeri)
→ klik di sini untuk gabung ke whatsapp grup Teman kumparan TECH (isu seputar games, gadget dan isu teknologi)
Join juga di Facebook Group Teman kumparan di sini
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan