Opini teman kumparanMOM Soal Acara Wisuda TK, Setuju atau Nggak?

Ayo gabung ke komunitas teman kumparan!
·waktu baca 3 menit

Wisuda selama ini dikenal sebagai seremoni akademis yang menandai tuntasnya jenjang pendidikan di perguruan tinggi. Momen ini identik dengan pengukuhan gelar atas proses belajar yang telah ditempuh selama bertahun-tahun.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, tradisi wisuda mulai banyak diterapkan di jenjang pendidikan lain, mulai dari sekolah dasar, menengah, bahkan TK. Fenomena ini tentu memunculkan beragam polemik di masyarakat.
Sebab, wisuda TK dinilai kurang esensial secara akademis dan berpotensi menambah beban biaya bagi orang tua. Meski begitu, nggak sedikit juga yang menganggap momen ini sebagai bentuk apresiasi agar anak merasa bangga atas proses belajar yang sudah mereka jalani.
Merespons hal tersebut, sejumlah teman kumparanMOM yang memiliki anak di jenjang Taman Kanak-kanak turut membagikan opininya. Ingin tahu bagaimana pendapat mereka? Yuk, simak selengkapnya di bawah ini!
Acara Wisuda Anak TK Menurut teman kumparanMOM
Sejumlah teman kumparanMOM punya pandangan yang berbeda-beda terkait tradisi wisuda di jenjang Taman Kanak-Kanak (TK). Respons kurang setuju datang dari Mom Brenda Marini (29).
Menurutnya, prosesi wisuda terasa berlebihan untuk anak usia dini yang belum sepenuhnya memahami makna dari acara tersebut. Ia merasa ada bentuk kenang-kenangan lain yang jauh lebih bermanfaat dan tetap berkesan untuk anak-anak.
“Menurutku jauh lebih baik dananya dialokasikan untuk buku kenang-kenangan yang berisi semua foto siswa dan kegiatan selama PAUD/TK,” tuturnya.
Pendapat serupa juga disampaikan oleh Mom Oktaviani Tarigan (34). Baginya, tradisi wisuda TK sudah seperti budaya yang mengakar sejak lama sehingga sulit diubah.
Meski kurang setuju dengan adanya acara tersebut, ia tetap memahami jika ada saja pihak wali murid nggak merasa keberatan. Sebagai orang tua, Mom Oktaviani mengaku berada di posisi yang serba salah.
“Serba salah sebagai orang tua. Kita bersuara untuk tidak mau ada wisuda, tapi cuma kita sendiri. Dari misal 40 siswa yang ada, bikin voting pun kalah suara,” ujarnya.
Sikap penolakan ini bukan semata-mata didasari pendapat pribadi. Oktaviani turut menyinggung imbauan pemerintah terkait kegiatan wisuda sekolah yang tertuang dalam Surat Edaran Sekretaris Jenderal Kemendikbudristek Nomor 14 Tahun 2023.
Dalam surat tersebut dijelaskan bahwa sekolah dilarang menjadikan wisuda sebagai kegiatan wajib dan pelaksanaannya juga nggak boleh membebani orang tua.
Sementara itu, pandangan berbeda datang dari Mom Febby (33). Ia mengaku setuju dengan adanya kegiatan wisuda di jenjang TK selama pelaksanaannya nggak memberatkan wali murid dan merupakan hasil kesepakatan bersama.
Menurutnya, wisuda bisa menjadi momen seru sekaligus kenangan spesial bagi anak sebelum memasuki jenjang sekolah dasar (SD). Selain itu, acara tersebut juga menjadi ajang perpisahan dengan guru, siswa, dan para orang tua murid.
Apalagi, Mom Febby melihat anaknya sangat antusias mengikuti acara tersebut. “Anak kembar aku excited banget soalnya untuk acara itu, mamak support aja selama hal positif,” katanya.
Temukan beragam inspirasi parenting dari ribuan ibu di seluruh Indonesia, gabung komunitas teman kumparanMOM di kum.pr/mom4
