Pentingnya Sportivitas dalam Race menurut teman kumparan Running Club

Ayo gabung ke komunitas teman kumparan!
·waktu baca 4 menit

Garis finish menjadi tujuan utama setiap pelari dalam sebuah race. Namun, perlu diingat bahwa keberhasilan dalam perlombaan nggak cuma diukur dari catatan waktu, tetapi juga dari sportivitas yang ditunjukkan sepanjang race.
Mengingat setiap pelari punya ambisi untuk mengejar personal best masing-masing, semangat berkompetisi tentu menjadi bagian dari perlombaan. Meski begitu, menghargai sesama pelari dan mematuhi aturan yang berlaku tetap perlu dijunjung agar persaingan berjalan sehat.
Setiap pelari tentu punya prinsip tersendiri dalam memaknai sportivitas saat berlomba. Penasaran bagaimana teman kumparan Running Club memandang hal ini? Yuk, simak selengkapnya di bawah ini!
Kata teman kumparan soal Sportivitas dalam Race
Pandangan pertama datang dari teman kumparan Ocha (32). Ia sangat menjunjung tinggi kejujuran dalam race, termasuk mematuhi aturan perlombaan yang telah ditetapkan penyelenggara.
“Harus sesuai BIB sendiri, jangan pakai BIB orang lain dan kalau udah terkena CoP atau CoT jangan memaksakan sampai menerobos,” ujarnya.
Sebagai informasi, BIB adalah nomor identitas peserta yang digunakan pelari selama perlombaan. Sementara itu, CoP (Cut-off Point) merupakan titik batas yang harus dilewati peserta dalam waktu tertentu. Adapun CoT (Cut-off Time) adalah batas waktu maksimal untuk menyelesaikan race.
Menurut Ocha, sportivitas juga berarti mampu menghargai sesama pelari dan nggak cuma mementingkan diri sendiri. Sebab, race merupakan ruang bersama yang perlu dijaga kenyamanan dan keamanannya oleh seluruh peserta.
Di sisi lain, teman kumparan Ivan (26) selalu berpegang pada prinsip “Run Your Own Bib”. Meski terdengar sederhana, prinsip ini mengingatkan setiap pelari untuk bertanggung jawab atas nomor BIB, hasil, dan pencapaiannya sendiri, alih-alih mengambil jalan pintas yang melanggar aturan.
Selain itu, Ivan juga membagikan beberapa saran yang bisa kamu terapkan untuk menjaga sportivitas selama race:
Pilih DNS daripada menjual atau mengalihkan BIB kepada orang lain - Jika berhalangan mengikuti race pada tanggal yang ditentukan, lebih baik memilih DNS (Did Not Start) daripada memberikan nomor peserta kepada pelari lain.
Pahami aturan dan batas kemampuan diri - Jika merasa belum mampu memenuhi ketentuan perlombaan, lebih baik menerima DNF (Did Not Finish) daripada memaksakan diri hingga menerobos batas CoP.
Nggak cuma mematuhi regulasi, Ivan juga mengingatkan pentingnya menjaga keselamatan dan kenyamanan bersama, terutama saat kondisi lintasan ramai.
“Tetap berbagi track dengan runners lain, apalagi ngejar PB dengan tidak ada pembagian corral, pasti akan bertumpuk saat start line. Saling respect untuk tidak mendorong runner lain yang bisa membahayakan runners lain,” katanya.
Sementara itu, teman kumparan Iswar menilai bahwa sportivitas bisa dimulai dengan melakukan persiapan yang matang sebelum race. Ini cukup membantunya untuk mengenali kemampuan diri, jadi nggak mudah tergoda melakukan tindakan non-sportif ketika hasil yang diharapkan belum tercapai.
Selain mempersiapkan diri sebaik mungkin, Iswar juga menekankan pentingnya menghormati pelari lain selama race. Dengan begitu, setiap peserta bisa berkompetisi secara sehat.
Terakhir, ada teman kumparan Suryasora yang turut membagikan pandangannya tentang sportivitas dalam perlombaan lari. Menurutnya, sikap sportif seorang pelari bisa dilihat dari berbagai hal, mulai dari persiapan sebelum race, perilaku selama berlari, hingga cara menyikapi hasil perlombaan.
Berikut beberapa prinsip sportivitas yang bisa kamu terapkan menurut Suryasora:
Sebelum race: Daftarkan diri melalui jalur resmi dan pastikan memahami seluruh ketentuan lomba.
Saat race berlangsung: Bertanggung jawablah dalam menjaga kelancaran dan kenyamanan bersama, serta tetap menjunjung tinggi kejujuran.
Hormati pelari lain: Ingat bahwa lintasan digunakan bersama. Berikan ruang bagi peserta lain dan gunakan bagian lintasan yang tersedia dengan bijak.
Jadikan hasil race sebagai bahan evaluasi: Jika belum mampu mencapai garis finish sesuai target, gunakan pengalaman tersebut untuk meningkatkan kemampuan.
Menurutnya, berbagai sikap tersebut bisa diterapkan ketika pelari mampu mengendalikan ego dan memahami bahwa setiap pencapaian butuh proses. Nggak perlu terburu-buru mengejar hasil terbaik, sebab setiap pelari punya kemampuan dan waktu berkembang yang berbeda.
“Setiap pencapaian tidak pernah instan. Kalau kamu belum mampu mencapainya saat ini, masih ada kesempatan di lain waktu. Semangat untuk terus konsisten dalam berlatih,” pesannya.
Jangan ketinggalan info event Fun Run! Gabung komunitas teman kumparan Running Club sekarang http://kum.pr/running
