Entertainment
·
21 Juli 2021 14:27
·
waktu baca 9 menit

Quarter Life Crisis, Umur 25 Harus Punya Apa?

Konten ini diproduksi oleh Teman kumparan
Quarter Life Crisis, Umur 25 Harus Punya Apa? (149824)
searchPerbesar
Diskusi Quarter Life Crisis Bersama Psikolog Klinis Nago Tejena. Foto: dok. kumparan
Kata orang, umur 25 tahun idealnya harus sudah punya gaji di atas 8 juta, pekerjaan tetap, tabungan puluhan juta, dan sudah mulai nyicil mobil atau rumah. Setujukah kamu dengan pernyataan tersebut, teman kumparan?
ADVERTISEMENT
Nyatanya, realitas terkadang nggak selalu sesuai dengan harapan ekspektasi kita. Nasib dan jalan hidup orang pun berbeda-beda. Standar di atas nggak harus jadi patokan agar kamu dilirik jadi orang 'sukses' di umur 25 tahun.
Kalau kamu sering insecure, khawatir, dan terus membandingkan diri dengan pencapaian orang lain--terlebih kamu sedang ada di usian 20-an--bisa jadi kamu sedang mengalami fase quarter life crisis. Untuk membahas lebih lanjut tentang ini, teman kumparan sudah mengundang Psikolog Klinis Nago Tejena ke program Teman Curhat Liva untuk berdiskusi via Zoom.
Menurut Nago Tejena, fase krisis ini wajar terjadi ketika kamu memasuki usia 20-an. Sebab, menurut penelitian, otak manusia mengalami puncak perkembangan di usia tersebut. Nggak heran kalau kamu sering menanyakan tentang target atau capaian yang belum kamu dapatkan hingga saat ini.
ADVERTISEMENT
Ya, Quarter Life Crisis (QLC) merupakan krisis yang harus dilewati di masa-masa usia 20-an. Psikolog Klinis Nago Tejena menyampaikan, Krisis ini sebenarnya tidak perlu dihindari karena bisa menjadi pacuan bagi kamu untuk terus berjuang dan menemukan jati diri kamu yang sebenarnya.
Terlebih lagi, Nago menambahkan, manusia juga akan selalu melakukan eksplorasi semasa hidupnya. Karena itu, kamu tidak akan lepas dari masalah dan hambatan. Dari kecil hingga sekarang, kamu terus berjuang, bukan?
"Dari sekolah, kuliah, sampai kerja, kita akan terus berjuang hingga akhir hayat. Di umur 25 tahun, kita juga berjuang untuk menemukan jati diri, menemukan siapa diri kita sebenarnya," ujar Nago kepada teman kumparan di acara Teman Curhat Live.
Teman kumparan dan Nago Tejena juga sudah diskusi tentang Quarter Life Crisis di Zoom. Seperti apa diskusinya? Simak rangkumannya di bawah ini.
ADVERTISEMENT
Dhini Wahyu: Hallo Kak Nago! Aku Dhini umur 23 tahun :) Salah satu kekhawatiran dalam hidupku adalah aku belum mendapatkan pekerjaan dan belum hidup mandiri karena masih bergantung ke orang tua. Apakah wajar kak jika di usia 23 tahun belum hidup mandiri?
Jawab: Kadang-kadang kata wajar nggak wajar itu membuat masalah baru. Misalnya kalau aku bilang wajar, apakah itu menenangkan kamu atau itu akan menjustifikasi kalau kamu boleh kayak gini terus? Kalau aku bilang nggak wajar, apakah itu akan membuatmu merasa nggak nyaman, atau membuatmu merasa kamu sebenarnya orang yang nggak mampu untuk melakukan ini?
Nah, jadi menurutku daripada kita bingung mikirin ke label ‘wajar/nggak’, aku rasa lebih bagus buat kamu untuk melihat apa yang mau kamu lakukan selanjutnya. Bergantung ke orang tua, oke memang itu tidak menyenangkan dan nggak fulfilling buat kamu, tapi ya kalau memang saat ini fase hidupmu masih di sana, ya tidak apa-apa.
ADVERTISEMENT
Yang penting adalah kamu memastikan bahwa kamu masih mengarahkan diri ke arah yang tepat, kamu masih berusaha cukup.. Ibaratnya setiap orang punya start yang berbeda-beda, itu nggak masalah. Kamu mau lebih mundur dibanding orang lain, kamu mau lebih maju dibanding orang lain, itu jangan dijadikan beban terlalu banyak.
Yang penting kamu memastikan bahwa dirimu sedang mengarah ke sesuatu dan sedang berusaha, kurasa itu yang lebih penting dibandingkan mungkin melihat apakah ini ‘wajar/nggak’.
Irma Rahma: Halo kak nago, aku Irma. izin bertanya. Saat ini aku mengalami quarter life crisis perihal belum punya rumah dan mobil. Sudah menikah punya anak 1, tapi masih mengontrak dan naik motor.
Saat ini suami sudah ada di titik karir yang lebih baik, kami ingin memiliki salah satu dari rumah atau mobil. Suami pun ingin sekali punya mobil, cuma ketentuan dari suami biaya mobil ini mengurangi biaya kontrakan kami, dan meminta kami untuk kembali ke rumah orang tuaku dan tinggal bersama.
ADVERTISEMENT
Tapi, hatiku menolak dengan sangat tegas, jujur aku tak mau kembali tinggal bersama orang tuaku, karena aku lebih nyaman mengontrak seperti ini. Menurut kak nago aku mengambil keputusan seperti apa?
Jawab: Pertama gini, apapun yang aku ucapkan jangan jadikan itu alasan kamu mengambil keputusan itu, ya. Karena, ibaratnya apa yang akan aku sampaikan ini merupakan sebuah informasi, jadi bagaimana kamu mengambil keputusan berdasarkan informasi itu, selanjutnya akan kembali ke kamu.
Dalam fase tertentu setiap keluarga tentu punya nilainya masing-masing ya, ada yang yang mungkin lebih butuh punya rumah dibandingkan dengan punya kendaraan. Ada yang mungkin nggak masalah kalau tinggal di mana pun juga, mau itu kontrak, tinggal dengan orang tua, yang penting punya kendaraan, ya itu beda.
ADVERTISEMENT
Tapi, yang paling penting untuk mendapat nilai itu, keputusan itu, kamu harus bicara dulu ke suami kamu. Karena dia nggak akan bisa paham situasi nya kalau kamu nggak bicara, dia nggak akan bisa memahami alasan kamu. Kalau dia nggak dibicarakan, dan itu akan menjadi suatu kesalahan kalau kita nggak mengutarakannya sekarang.
Jadi memang sih, semua hal yang berupa hubungan di dunia psikologi itu solusinya akan balik lagi ke komunikasi. Karena komunikasi itu merupakan cara kita untuk mengungkapkan diri kita, menegaskan apa yang kita mau, dan menyampaikannya ke lingkungan tentang ini.
Aku nggak tahu ke depannya bakal kayak gimana, aku nggak tahu suamimu seperti apa, yang penting itu pertama kamu coba ungkapkan dulu tentang apa yang kamu rasakan, apa yang kamu takutkan, apa yang kamu khawatirkan, dan apa yang kamu inginkan.
ADVERTISEMENT
Perkara nanti suamimu mengambil keputusan apa, bisa jadi mendengarkan keinginan kamu, bisa jadi mengajak kamu berdiskusi, bisa jadi dia mungkin memaksa, misalkan ‘yasudah tetap mempunyai mobil’.
Menurutku itu pertimbangan ke sekian, yang penting kamu keluarin dulu, kamu ajak dia berdiskusi dulu, karena itu yang membentuk komunikasi keluarga kamu antara suami kamu menjadi suatu hal yang lebih terbuka.
Azswita Hanafiary: Hai Kak, aku Ari. Mau tanya tips untuk mengendalikan tingkatan stres di usia 26 tahun, itu bagaimana ya, Kak?
Jawab: Stres itu adalah bentuk tekanan, dan itu muncul dengan berbagai jenis situasi di dunia ini punya ujian itu juga namanya stres, punya tugas itu juga namanya stres, berantem dengan teman kantor itu juga namanya stres, konflik dengan orang tua juga stres, kesepian itu juga mungkin bisa menimbulkan stres dan seterusnya.
ADVERTISEMENT
Untuk bisa mengendali tingkatan stres itu ada dua caranya, yang pertama adalah menyelesaikan masalahnya dulu. Apa yang membuat kamu stres? Ujian? Itu kita harus belajar untuk bisa menyelesaikan ujian itu. Apa yang buat kamu stres? Tuntutan dari mungkin, kerjaan kantor ya kamu harus meningkatkan skill kamu untuk bisa mengatasi stres itu dan seterusnya. Yang pertama, jadi yang pasti adalah untuk menyelesaikan sumber stressnya itu dulu.
Nah, yang kedua kalo nggak bisa, kadang-kadang kamu harus ibaratnya, melatih ketahanan kamu terhadap stres tersebut. Jadi kadang kita ini kan manusia, ibaratnya punya batas kemampuan kalo kita diberikan stres yang lebih besar dibandingkan apa yang kita bisa hadapi, itu kadang membuat kita merasa gak nyaman, itu kadang membuat hidup kita mulai berantakan. Nah, kamu harus melatih ketahanan ini, gimana caranya, hadapin. Kalau kewalahan mundur sejenak, istirahat. Kalau sudah lebih baik, hadapin lagi, mundur sejenak, istirahat.
ADVERTISEMENT
Mundur ini adalah untuk membuat dirimu untuk lebih fit, maju ini adalah untuk pelan-pelan mengekspos dirimu terhadap permasalahan tersebut sehingga kamu bisa lebih ibaratnya lebih kuat dalam menghadapi. Ini suatu hal yang kadang mungkin jarang kita sadari, karena kalau kita lihat nih, setiap sehari-hari kita menemui stress pasti pikiran kita antara dua. Satu, bagaimana supaya masalah ini cepat-cepat selesai atau dua, bagaimana kita kabur dari masalah ini.
Jarang ada diantara kita, benar-benar bisa tahu kalo penting untuk kita melatih supaya diri kita bisa tetap hidup dengan stres ini gitu. Jadi kadang nih aku coba dalam hidup ku sendiri, kalau aku punya masalah kecil-kecil kadang aku tidak langsung mendorong diriku untuk mencari menghubungi sana-sini untuk menyelesaikannya. Aku tanyakan ke diriku, bisa nggak aku hidup dengan masalah ini? Bisa nggak aku tetap menjalani keseharian ku, dengan beban baggage stres ini dalam hidupku.
ADVERTISEMENT
Jadi itu akan pelan-pelan melatih kita untuk lebih kebal terhadap berbagai jenis tekanan, berbagai jenis masalah dalam hidup ini, gitu. Jadi untuk menyimpulkannya pertama, selesaikan masalah nya, itu cara pertama. Kedua, ambil waktu sejenak kalau kamu merasa nggak tahan, maju lagi ketika kamu merasa cukup, atau merasa bisa menghadapi kembali. Ketiga, coba tantang dirimu, untuk berada atau memiliki stres ini dalam hidup kamu gitu.
Dwi Hastuti: Hai kak nago, aku Dwi. Ijin bertanya ya kak, bagaimana ya kak untuk membangun kepercayaan kepada diri sendiri bahwa diri kita mampu untuk melalui banyak hal yang ada di depan kita? Terima kasih kak.
Jawab: Setiap orang beda-beda, anggap lah satunya programnya tentang kepercayaan diri. Kamu tidak percaya diri untuk melakukan sesuatu, apa yang harus dilakukan? Ada orang yang mungkin lebih suka kalo dibilang kaya ‘kamu pasti bisa kok’, ibaratnya habis ini kamu pun akan mampu untuk menyelesaikannya.
ADVERTISEMENT
Jadi, ada orang yang ketika gak percaya diri, itu bisa lebih maju ketika dia memberikan afirmasi kepada dirinya ‘aku bisa kok’, ‘buktinya selama ini aku bisa’, ‘selama ini banyak masalah tapi aku tetap baik-baik saja.’ Nah, itu bisa memupuk dirinya dia menghadapi masalah ataupun banyak hal di depan dia.
Ada juga orang yang kadang-kadang balikin juga nggak masalah gitu, kayak mungkin kita tidak selalu mampu untuk menghadapi masalah di depan kita, kita pasti akan gagal suatu saat nanti. Tapi, ingat saja kalau kadang itu bukan akhir dari segalanya gitu, jadi aku rasa kamu boleh memberikan afirmasi kepada dirimu tentang, ‘aku mampu untuk melalui ini’, ‘aku bisa’ dan seterusnya. Tapi, jangan itu dijadikan suatu target baru, ‘aku harus bisa’ ‘aku harus bisa’, nggak.
ADVERTISEMENT
Karena nggak ada yang mengharuskan kamu bisa, kamu gagal pun tidak masalah. Dan kamu gagal bukan akhir dari hidup kamu, karna apa yang kita omongin ini semua di ranah psikologis gitu kan ,segagal-gagalnya apapun kamu, sejelek-jeleknya itu tidak akan membuat kamu meninggal dunia kok. Kamu gagal masuk universitas, kamu dipecat oleh bos, bisnis kamu bangkrut, kadang itu tidak langsung membuat kamu tiba-tiba menghilang atau selesai dari hidup ini.
Jadi, aku sih kadang suka memberikan ekspektasi yang kurang, gagal pun bukan masalah itu bukan akhir dari segalanya. Dan ibaratnya kepercayaan diri pun akan pelan-pelan terbentuk ketika ternyata, ‘kamu bisa’ ‘kamu bisa’ ‘kamu bisa’, dan itu yang menjadi suatu landasan untuk percaya diri.
ADVERTISEMENT
Ku rasa ngak perlu untuk memaksa kamu untuk bisa percaya diri, cukup kurangi semua ekspektasi, mulai dengan anggapan bahwa kamu pasti akan melakukan banyak kesalahan, kamu akan melakukan banyak kegagalan, pelan-pelan nanti kepercayaan diri akan terbentuk dari setiap ibaratnya, keberasaan-keberasaan kecil yang kamu buat sepanjang jalan itu.
Erlita Putri: Perkenalkan saya Erlita. Hai kak nago izin bertanya. Bagaimana menghilangkan ketakutan atas resiko besar atau kegagalan, hingga menghantui diri sampai rasa semangat memudar?
Saat mengambil keputusan memulai suatu bisnis atau pekerjaan yang ingin kita geluti untuk mengembangkan potensi diri atau hobi, muncul keraguan untuk menunda bahkan tidak melakukannya?
Jawab: Buat kalian yang mengasah diri dalam pekerjaan, sedang mengasah diri ke I, atau memulai bisnis, sering kali kita mempunyai ketakutan, karena hanya berfokus kepada hasilnya. Apakah keputusan ini akan membuat bisnis kita bagus, apakah keputusan ini akan membuat trading kita bagus, jika main saham, dst.
ADVERTISEMENT
Namun, kita harus melihat bahwa yang kita asah di sini adalah diri kita, dalam menjalani ini semua. Pertama-tama yang aku rasa penting bagi diri kita untuk fokus kepada diri kita dulu, bukan sebagai orang yang harus membangun bisnis yang besar, tapi mengasah diri untuk menjadi pebisnis, pebisnis yang besar itu seperti apa? Apakah dia orang yang mudah takut atau mudah gentar akan keputusan-keputusan kecil, atau orang yang ibaratnya mampu membuat keputusan penting dan mampu menerima konsekuensinya seperti apapun resikonya?
Sekarang kalau kita fokus terlalu banyak kepada ketakutan, resiko besar, dan lainnya sampai menghantui diri kita berarti kita masih takut dan kita berarti kita masih merasa satu kegagalan di depan akan menghancurkan semua hidup kita. Padahal sebenarnya yang perlu kita fokuskan ini adalah bagaimana pengambilan keputusan ini mengasah kita, mengasah kita untuk apa?
ADVERTISEMENT
1. Membuat analisa yang tepat.
2. Membuat keputusan.
3. Menghadapi konsekuensinya.
Jadi 3 faktor itu sangat penting ya. Nah, aku rasa yang penting kamu lakukan adalah untuk memastikan ketiga ini, yg penting kamu sudah menganalisanya dengan bagus, coba untuk ambil keputusan itu walaupun ada rasa takut dan apapun hasilnya coba untuk terima itu.
Ketakutan tidak akan sepenuhnya hilang, selama kamu masih bekerja, selama kamu masih berkehidupan sosial, selama kamu masih berbisnis, resiko akan selalu ada, ketakutan akan selalu ada.
Keberanian itu bukan ketika ketakutan itu hilang, keberanian itu bukan juga ketika resiko itu nggak ada. Keberanian itu justru muncul ketika meski ada ketakutan, meski ada resiko, kamu tetap melakukannya karena kamu rasa ini sudah keputusan terbaik yang bisa kamu miliki.
ADVERTISEMENT
(sif)
====================
Teman curhat merupakan program khusus yang diadakan di grup teman kumparan. Lewat Teman Curhat, teman kumparan bisa berkonsultasi, diskusi, dan curhat dengan para expert yang ahli di bidangnya. Yuk, gabung ke grup teman kumparan di Telegram melalui kum.pr/Temankumparan. Jangan lewatkan keseruannya, ya!