Red Flag Pasangan Jadi Alasan Berpisah, Begini Pengalaman "Stop the Wedding" teman kumparan

teman kumparan

teman kumparanverified-green

Ayo gabung ke komunitas teman kumparan!

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi putus cinta. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi putus cinta. Foto: Shutter Stock

Belakangan ini, tren "Stop the Wedding" kerap meramaikan For You Page (FYP) TikTok. Diiringi lagu “Stop the Wedding” milik Ashe, banyak kreator membagikan pengalaman pahit dalam hubungan asmara mereka.

Para kreator mengangkat berbagai cerita masa lalu, penyesalan, hingga tanda bahaya (red flags) yang mereka sadari sebelum atau menjelang pernikahan. Setelah melewati berbagai ujian dalam hubungan, nggak sedikit dari mereka yang akhirnya memilih untuk mengakhiri hubungan atau membatalkan rencana pernikahan.

Hal serupa ternyata juga dialami sejumlah teman kumparan. Penasaran seperti apa pengalaman "Stop the Wedding" versi mereka? Yuk, simak cerita selengkapnya berikut ini!

Momen Stop the Wedding versi teman kumparan

Ilustrasi wanita ingin batal menikah. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Pengalaman pertama datang dari teman kumparan Adin (22). Ia mengaku pernah menjalani hubungan jarak jauh atau Long Distance Relationship (LDR) dengan sang kekasih. Sejak awal pacaran, Adin selalu berusaha menunjukkan keseriusannya dalam hubungan itu.

“Apa-apa aku usahain kasih kabar, ngabarin lagi di mana, sama kasih bukti juga kalau dia mulai curiga,” katanya. Alih-alih mendapat respons positif, berbagai upaya yang dilakukannya justru jarang diapresiasi, bahkan ia kerap mendapat tuduhan yang tidak-tidak.

Awalnya, Adin berusaha memaklumi sikap sang kekasih karena menganggap jarak mungkin jadi salah satu penyebab munculnya rasa curiga. Namun, lama-kelamaan ia merasa lelah karena hanya dirinya yang terus berusaha menjaga hubungan tersebut.

“Aku sadar kalau hubungan itu enggak bisa cuma satu pihak yang terus-terusan berusaha,” tuturnya.

Dari berbagai kejadian buruk itu, Adin mulai mempertimbangkan kembali kelanjutan hubungannya. Hingga akhirnya, ia memilih untuk mengakhiri hubungan tersebut.

Ilustrasi putus cinta Foto: Shutterstock

Berbeda dengan Adin, teman kumparan Gina (39) punya pengalaman "Stop the Wedding" karena komunikasi yang buruk dengan pasangan. “Ngobrol sih tetap jalan, tapi isinya cuma kayak makan apa, jemput jam berapa, bayar apa,” ungkapnya.

Saking jarangnya berbincang dari hati ke hati, Gina bahkan merasa lebih nyaman bercerita dengan teman dibandingkan pasangannya sendiri. Selain komunikasi yang semakin renggang, ada sejumlah persoalan kecil yang terus berulang hingga akhirnya membuat Gina merasa nggak nyaman dalam hubungan.

Beberapa hal yang menjadi pemicunya antara lain:

  • Merasa nggak didengarkan - Gina kerap merasa pendapat dan ceritanya nggak mendapat perhatian yang cukup dari pasangan.

  • Kurangnya respons terhadap hal penting - Puncaknya, saat Gina menceritakan sesuatu yang sangat berarti baginya, pasangannya nggak kasih respons yang serius.

Ilustrasi putus cinta Foto: Shutterstock

Selanjutnya, ada cerita dari teman kumparan Chen (24). Saat hubungannya mulai menuju jenjang yang lebih serius, ia justru mendapati sang kekasih masih menjalin komunikasi dengan mantan pasangan.

Mengetahui hal tersebut, Chen akhirnya coba membicarakan masalahnya secara langsung dengan pasangan. Setelah berdiskusi, ia memutuskan untuk menetapkan sejumlah batasan (boundaries) agar bisa kembali merasa nyaman sebelum menata ulang hubungan mereka.

Nikmati serunya sharing hal-hal seru dengan ribuan teman baru di komunitas teman kumparan. Klik kum.pr/temankumparan