Tanda Terjebak Emotional Burnout dalam Hubungan yang Mesti Kamu Waspadai

Ayo gabung ke komunitas teman kumparan!
·waktu baca 3 menit

Setiap hubungan nggak selalu penuh suka cita. Ada kalanya konflik melanda dan bikin interaksi bareng pasangan terasa melelahkan. Sebenarnya, konflik itu wajar dan bisa bikin hubungan jadi makin erat kalau disikapi dengan sehat.
Tapi nggak sedikit pasangan yang justru berujung emotional burnout gara-gara konflik. Buat yang belum tahu, burnout dalam hubungan tuh merujuk ke perasaan capek dan stres banget saat bertemu pasangan.
Menurut Choosing Therapy, relathionship burnout nggak muncul dalam semalam, tapi hasil dari lelah berkepanjangan sampai akhirnya seseorang nggak antusias dan bahkan stres ketemu pasangannya.
Lantas, apa sih tanda-tanda seseorang terjebak relationship burnout? Yuk, simak penjelasannya berikut ini biar kamu nggak salah bedain stres biasa dengan burnout dalam hubungan.
Tanda Terjebak Emotional Burnout dalam Hubungan
Mengutip Abundance Therapy Center, tanda-tanda paling umum saat seseorang ngerasa burnout dalam hubungannya adalah sebagai berikut:
Alih-alih merasa bersemangat atau berbunga-bunga, kamu justru merasa terkuras energinya saat berinteraksi dengan pasangan.
Kebiasaan atau sifat yang dulu kamu abaikan dari pasangan kini bisa memicu frustrasi dan bahkan amarah.
Buat yang udah nikah, keintiman fisik mulai berkurang dan merasa lebih mirip teman sekamar daripada pasangan.
Menciptakan jarak dengan kerja lembur, melakukan aktivitas secara terpisah, atau diam-diam menarik diri secara emosional.
Fokus pada kekurangan pasangan dan mulai lupa dengan kualitas positifnya.
Percakapan menjadi dangkal, defensif, atau bahkan terhenti sepenuhnya, sehingga isu-isu penting udah nggak dibahas lagi.
Pengalaman member teman kumparan juga menambah daftar tanda relationship burnout yang mesti kamu waspadain. Setiap orang punya “alarm” tersendiri, dan dalam kasus Nadia (22), alarm itu adalah cemas tiap kali nama pacarnya muncul di pop-up notification hp.
“Aku udah pacaran 1,5 tahun sama pacarku. Awalnya manis banget, asli deh, tapi lama-lama aku sadar kalau aku yang selalu jadi ‘pemadam kebakaran’ buat semua emosi cowokku dulu,” cerita Nadia. “Tiap liat nama pacarku muncul di pop-up notification hp, bukannya seneng, yang muncul malah rasa cemas dan capek duluan.”
Maya (20) juga punya kisah serupa, ia lelah menghadapi pasangan yang selalu silent treatment dan ghosting ketika ada masalah. Efeknya, Maya merasa mulai kehilangan dirinya sendiri.
“Hobi yang biasanya bikin aku seneng sekarang terasa hambar karena otakku terus-terusan overthinking mikirin mood dia hari ini,” tutur Maya.
Nah, yang dirasain Maya juga termasuk tanda burnout, guys. Kalau kamu udah mulai mencurahkan hidup hanya untuk pasangan sampai lupa kebahagiaan sendiri, sebaiknya segera benahi hubungan, ya.
Pengalaman relationship burnout juga dirasakan Clarissa (30). “Aku baru sadar kena emotional burnout pas ngeh kalau aku lebih milih nambah jam kerja di kantor daripada harus pulang dan ketemu dia,” ucapnya.
Clarissa menambahkan bahwa energinya benar-benar terkuras habis sehingga untuk mesra-mesraan pun rasanya sudah hambar. “Jangankan buat mesra-mesraan, buat berantem aja aku udah nggak punya tenaga,” katanya.
Jika kamu juga mulai merasakan tanda-tanda burnout dalam hubungan seperti yang dialami teman kumparan, sebaiknya segera komunikasikan secara jujur dengan pasangan, lalu berusaha cari solusi bersama. Jangan ragu untuk cari bantuan profesional seperti psikolog kalau memang udah nggak bisa ditangani berdua, ya.
Nikmati serunya sharing hal-hal seru dengan ribuan teman baru di komunitas teman kumparan. Klik kum.pr/temankumparan
