Mom16 September 2020 19:31

Teman Curhat Bersama Psikolog Anak & Remaja Vera Itabiliana

Konten kiriman user
Teman Curhat Bersama Psikolog Anak & Remaja Vera Itabiliana (1555047)
Ilustrasi stres pada ibu. Foto: Pexels
Kondisi pandemi ini membuat semua serba tak menentu. Bukan hanya was-was soal kesehatan fisik, tetapi juga membuat kondisi psikologis kita jadi tidak stabil. Tak terkecuali bagi ibu di rumah yang setiap harinya menjalani aktivitas yang multiperan.
ADVERTISEMENT
kumparan membuat Program Teman Curhat khusus untuk member yang tergabung di grup online resmi komunitas teman kumparan Mom. Lewat Teman Curhat, teman kumparan bisa berkonsultasi, diskusi, dan curhat dengan para expert yang ahli di bidangnya.
Pada Selasa (15/09), Teman kumparan Mom telah berkonsultasi dengan Vera Itabiliana, Psikolog Anak dan Remaja yang sedang berpraktik di LPTUI, Klinik Anak Mandiri di Depok, dan Tiga Generasi di Klinik Brawijaya Kemang.
Selain itu, wanita yang kerap disapa Mbak Vera ini juga merupakan psikolog di Sekolah Kepompong.
Penasaran seperti apa isi dari curhatan teman kumparan Mom dan bagaimana Mbak Vera menjawabnya? Simak rangkumannya di bawah ini, yuk!
Teman Curhat Bersama Psikolog Anak & Remaja Vera Itabiliana (1555048)
Teman curhat bersama Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi, Psikolog. Foto: dok kumparan
Tanya: Bagaimana membangun kepercayaan diri anak laki - laki umur 5 tahun? Sering kali ketika bertemu dengan orang baru dia malu.
ADVERTISEMENT
Sudah hampir 4 tahun saya dan keluarga beda pulau Pangkalpinang - Jakarta, paling ketemu 2 minggu sekali atau sebulan sekali. Apakah itu yg menyebabkan anak tidak memiliki rasa kepercayaan diri yang kuat, kurangnya sosok ayah dalam aktifitas sehari-hari, atau bagaimana?
Tapi Alhamdulillah saat ini kami sudah berkumpul bersama.
Jawab: Alhamdulillah sudah berkumpul lagi ya. Rasa percaya diri anak itu tumbuh dari pengalaman anak itu sendiri. Pengalaman seperti apa? Pengalaman mengandalkan diri sendiri dan berhasil.
Dengan terbiasa mandiri, anak terbiasa mengandalkan dirinya sendiri.
- Vera Itabiliana, Psikolog Anak & Remaja
Coba lihat apakah dia sudah cukup mandiri untuk anak seusianya; apakah dia sudah bisa melakukan aktivitas bantu diri secara mandiri? Untuk anak usia 5 tahun diharapkan sudah bisa makan, berpakaian, BAK, dan mandi secara mandiri. Ya, kalau masih dibantu, dengan bantuan yang minim sekali.
ADVERTISEMENT
Dengan terbiasa mandiri, anak terbiasa mengandalkan dirinya sendiri, tidak bergantung pada orang lain sehingga tumbuhlah rasa percaya dirinya.
Nah kaitannya dengan peran ayah, adanya waktu bersama ayah secara rutin dimana anak merasa mendapat perhatian utuh juga dapat meningkatkan kepercayaan diri anak. Ketika dia merasa diperhatikan, diterima dan dihargai, rasa percaya akan dirinya juga akan tumbuh.
Jadi coba jadwalkan waktu rutin antara ayah dengan anak, ya. Idealnya 10-15 menit sehari tapi kalau tidak bisa, paling tidak 2-3 kali seminggu ada waktu khusus yang dihabiskan berdua saja. Waktu ini sekaligus juga memberikan kesempatan anak untuk belajar peran sesuai dengan jenis kelaminnya.
Tanya: Selama pandemi ini sebagian besar waktu saya dihabiskan di rumah. Saya jadi suka panik Mbak, terutama setelah baca berita tentang corona yg makin parah. Sulit mencari ketenangan diri Mbak, apa yang sebaiknya saya lakukan biar mendapatkan ketenangan diri ya? Me time saja sulit sekali rasanya.
ADVERTISEMENT
Jawab: Kalau sudah sampai merasa tidak nyaman, sebaiknya stop dulu baca berita tentang Covid-19 atau hal lain yang berkaitan dengan pandemi. Mom punya hak kok untuk melindungi diri agar tidak terdampak negatif dari info yang beredar di media.
Untuk suami, ya begitu, ya. Bisa jadi dia juga sedang bergelut dengan emosinya sendiri dan juga bingung kalau di rumah bisa bantu apa. Seringnya sih kalau bapak-bapak memang perlu dikasih tahu langsung sih, mom 😁. Lebih ke ajak bicara, untuk saling bertukar harapan atau cerita kesulitan apa yg dialami selama pandemi ini.
Pandemi ini sulit untuk semua orang, apalagi untuk ibu yang memang sehari-harinya multiperan. Jadi tetap usahakan me time ya, mom. Meskipun bentuk dan durasinya perlu disesuaikan dengan kondisi saat ini. Cari waktu tenang untuk menyendiri, lakukan yang disuka agar emosi kembali tenang.
ADVERTISEMENT
Mengerjakan aktivitas yang mindful juga bisa membantu seperti memasak atau kembali menekuni hobi lama seperti melukis, merajut atau merawat tanaman yang sekarang lagi tren juga.
Di masa sulit seperti ini, juga penting bagi kita untuk menerima (acceptance) akan situasi dan peran yang harus kita jalani mau tidak mau. Begitu juga harapan/tuntutan kita terhadap orang-orang di sekitar kita juga perlu disesuaikan, misalnya untuk suami. Okelah dia kurang membantu pekerjaan di rumah tapi paling tidak dia masih bekerja sebagai wujud tanggung jawab pada keluarga. Jadi bersyukur juga penting ya, mom…
Tanya: Sejak anak saya lahir papanya belum bisa bertemu karena suatu hal yang membuat keluarga saya marah terhadap papanya baby.
Saya khawatir jika psikologis nya akan terganggu karena tidak adanya peran ayah di hidupnya. Bagaimana saya harus menyikapi hal tersebut, Mbak Vera?
ADVERTISEMENT
Jawab: Idealnya seorang anak tumbuh di lingkungan yang penuh kasih sayang dari kedua orangtuanya. Saran saya, sebaiknya diselesaikan dulu masalah yang ada dianatar suami dan keluarga mom, ya.
Semua pihak saya rasa ingin yg terbaik untuk anak ini jadi apapun yg perlu dilakukan, lakukanlah demi kebaikan anak ini.
Dan betul, anak ini perlu tahu asal usulnya, siapa ibu dan ayahnya. Nanti akan muncul juga pertanyaan kenapa ayahnya tidak tinggal bersama. Hindari anak sampai merasa dirinya kurang cukup baik sehingga tidak mendapatkan cinta yg utuh dari kedua orangtuanya.
Saya rasa saya tidak bisa memberikan masukan lebih jauh lagi untuk mom. Semoga cepat terselesaikan dan bisa hidup bahagia semua, ya.
Tanya: Saya lagi hamil besar dan kemungkinan melahirkan 2 bulan lagi. Saat ini sudah punya anak usia 2,5 tahun dan lagi nempel-nempelnya banget sama ibunya. Kadang saya khawatir nanti melahirkan di kondisi pandemi ini dan ninggalin si kakak beberapa hari ketika lahiran nanti. Gimana ya mbak mengatasi kecemasan ini?
ADVERTISEMENT
Jawab: Rasa cemas dalam kondisi seperti ini apalagi menjelang akan melahirkan, itu wajar sekali kemunculannya mom, bisa dipahami.
Namun mengikuti rasa cemas akan hal-hal yang belum tentu kejadian akan membuat energi kita terkuras dan fokus kita teralihkan.
Kita saat ini sedang butuh energi & fokus untuk menghadapi apa yg ada di hadapan mata saat ini dan di sini. Cobalah fokus pada here & now karena apa yang kita lakukan here & now ini nantinya juga akan menentukan apa yang akan terjadi nantinya.
Misalnya, mom bisa fokus saat ini untuk melatih kemandirian si kakak agar tidak terlalu menempel sehingga 2 bulan nanti dia sudah lebih siap jika harus ditinggal beberapa hari.
ADVERTISEMENT
Contoh lainnya lagi yang bisa dilakukan saat ini adalah betul-betul mempersiapkan apa yang diperlukan nanti saat kelahiran sehingga lancar dan aman sesuai dengan protokol kesehatan yang berlaku.
Mom juga bisa menyiapkan supporting team yang dibutuhkan nantinya, misalnya nenek yang nanti bisa menemani kakak selama mom melahirkan atau si mbak di rumah yang lebih disiapkan untuk membereskan tugas-tugas rumah.
Jika ketika melakukan persiapan ini masih ada rasa cemas, diterima saja dan coba ditenangkan lagi dengan mengalihkan kembali ke sini dan kini. Rasa cemas sebetulnya bagian dari perlindungan diri kita agar kita tetap aman dan melakukan persiapan sebaik mungkin.
Untuk menetralisir rasa cemas, ada banyak cara misalnya melakukan pernafasan dalam beberapa kali atau mengalihkan ke aktivitas mindful yang memang menyita fokus kita hanya pada aktivitas itu saja.
ADVERTISEMENT
Tanya: Sudah 6 bulan di rumah aja, rasanya jenuh sekali bertemu orang rumah lagi & lagi. Pengen ketemu & quality time dengan teman untuk mengatasi ini, tapi kondisi di luar masih nggak kondusif. Video call pun rasanya beda dengan ketemu langsung. Gimana ya, mbak?
Jawaban: Iya pasti sudah jenuh sekali dan mom tidak sendirian merasakan ini 😊.
Di situasi ini memang kita perlu kembali merumuskan ulang apa kebahagiaan sebetulnya buat kita. Apakah di rumah saja dan semua sehat? Atau berkumpul dengan teman-teman?
Sekarang ini kita memang sedang dihadapkan satu pilihan jalan saja untuk selamat. Dan jalan ini memang tidak enak. Bayangkan jalannya berlubang, becek, nggak ada ojek 😁 tapi jalan ini satu-satunya yang harus kita lewati.
ADVERTISEMENT
Dan melewatinya pun tidak sendirian, tapi ada orang-orang yang bergantung juga pada kita untuk selamat melewati jalan ini hingga sampai tujuan.
Jadi penting sekali untuk menerima/acceptance akan situasi, lalu beradaptasi dengan batasan2 yang ada. Misalnya ketemuan teman secara online saja sementara ini.
Tanya: Mbak Vera aku mau tanya bagaimana sih cara membuat anak remaja mau curhat/tidak malu apalagi takut di-judge sama orang tuanya, seperti masalah cinta/teman/pelajaran sekolah. Sebagai orangtua tentu kita ingin nya anak itu curhat sama orangtua, bukan ke orang lain. Apa yg harus dilakukan sebagai orangtua?
Jawab: Orang tua harus mau mendengar saja nih 😁. Dan itu yang seringkali susah betul karena 'tukang nasehat', udah nggak sabar ingin maju duluan.
ADVERTISEMENT
Kebutuhannya remaja adalah didengar. Kenapa? Karena dengan didengar, mereka akan merasa dihargai dan dipahami apa yang mereka pikirkan atau rasakan. Ketika mereka sudah merasa begitu, maka sebetulnya arahan/nasehat pun akan lebih mudah masuknya.
Jadi jangan terburu-buru untuk langsung menyalahkan, menjudge atau mengarahkan ini itu.
Dari perkembangan otaknya, remaja memang masih dalam tahap perkembangan. Bagian yg berperan untuk pengambilan keputusan dan melakukan fungsi-fungsi eksekutif lainnya memang belum selesai pembentukannya sehingga masih didominasi oleh emosi. Karena itulah, penting sekali untuk membuat mereka nyaman dulu saat bicara, yaitu dengan didengarkan dan dipahami.
Penting juga untuk orang tua punya waktu rutin untuk ngobrol santai dengan anak. Apa yang dibicarakan? Cari tahu topik apa yang sedang menarik bagi anak. Bisa cari tahu via sosmed yang diikuti anak. Jadi orang tua juga mesti gaul ya 😊. Buat anak nyaman bicara dengan ortunya, intinya itu dulu.
ADVERTISEMENT
Tanya: Jenuh dan lelah menghadapi situasi yang nggak pasti ditambah semua anggota rumah yg mengandalkan peran ibu.. mungkin boleh dibagi mbak tips2 buat menghadapi situasi ini?
Jawab: Satu, acceptance dulu. Terima bahwa inilah yang harus saya jalani suka atau tidak suka.
Dua, atur jadwal aktivitas dengan baik. Lakukan briefing singkat dengan seluruh anggota keluarga apa yg akan dilakukan besok & apa yang perlu disiapkan.
Tiga, cari waktu untuk diri sendiri. Entah saat masak sambil mendengarkan lagu2 kesukaan. Atau cari aktivitas yang memang memungkinkan dilakukan dan menyenangkan diri sendiri.
Empat, sesuaikan lagi target-target dengan kemampuan diri. Tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain. Yang lain rajin menanam, ya kita jangan paksakan diri untuk seperti itu juga. Jadilah versi bahagia dirimu sendiri.
ADVERTISEMENT
Lima, sesuaikan ekspektasi pada lingkungan termasuk orang-orang sekitar sehingga kita pun tidak lelah mengharapkan hal-hal yang mungkin sulit dipenuhi oleh orang lain. Begitu, ya. :)
Tanya: Anak sulung saya mulai remaja usia 12 tahun, sudah menstruasi dan sepertinya mulai menyukai lawan jenis. Tapi hanya sebatas suka seperti menyukai idol laki-laki.
Selama di beri handphone sendiri, anak ini seperti enggan berbagi dengan saya, apabila saya lihat hpnya dia emosi. Yang saya takutkan dia chatting dengan orang-orang yang tidak dikenal dan tidak baik ke depannya.
Saya harus gimana ya, Mbak Vera, biar si sulung ini membolehkan saya melihat hpnya?
Jawab: Halo mom.. Idealnya memang aturan pemakaian gadget termasuk mom boleh tahu passwordnya itu sebelum gadget sampai ke tangan anak. Kalau sudah terlanjur, memang sulit nih untuk menerapkan aturan lagi ke anak yang sudah terlanjur keenakan.
ADVERTISEMENT
Saran saya,mom Eka perlu tempatkan diri sebagai ibu yang asik diajak ngobrol tentang apa aaja. Buat dia nyaman ngobrol dengan mom. Nah tapi pas lagi ngobrol, tahan dulu keinginan untuk kepo soal hpnya yaa 😊.
Jika anak sudah nyaman bicara dengan kita, nanti dia akan dengan sendirinya cerita, kok. Untuk bahan obrolan, mom bisa cari tahu apa yang sedang disukai anak, misalnya dia suka K-Pop ya cari tahu apa yang sedang jadi isu hangat di dunia perKPopan.
Mom juga boleh mengutarakan kekhawatiran terhadap penggunaan hpnya dengan gunakan I message, contoh, "Mama khawatir kamu ketemu orang2 jahat di sosmed. Kamu bisa jaga diri, kan?"
Lalu bisa dilanjutkan ngobrol soal internet safety. Tapi bentuknya diskusi, ya. Jadi kita coba cek sejauh mana dia tahu bahayanya, bukan langsung bentuknya nasehat atau larangan. Ingat, usianya sudah masuk usia remaja.
ADVERTISEMENT
====================
Teman curhat merupakan program khusus yang diadakan di grup teman kumparan. Lewat Teman Curhat, teman kumparan bisa berkonsultasi, diskusi, dan curhat dengan para expert yang ahli di bidangnya. Yuk, gabung ke grup teman kumparan di Telegram melalui kum.pr/temankumparanMom. Jangan lewatkan keseruannya, ya!
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tim Editor
drop-down
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white