Teman Curhat Bersama Psikolog Sri Juwita K., M.Psi (5)

teman kumparan

teman kumparanverified-green

Ayo gabung ke komunitas teman kumparan!

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi wanita yang sedang stres dan gelisah. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi wanita yang sedang stres dan gelisah. Foto: Pexels

Kondisi pandemi ini membuat semua serba tak menentu. Bukan hanya was-was soal kesehatan fisik, tetapi juga membuat kondisi psikologis kita jadi tidak stabil. Tak terkecuali bagi ibu yang setiap harinya menjalani aktivitas yang multiperan.

Teman kumparan membuat Program Teman Curhat khusus untuk member yang tergabung di grup online resmi komunitas teman kumparan Mom. Lewat Teman Curhat, teman kumparan bisa berkonsultasi, diskusi, dan curhat dengan psikolog yang ahli di bidangnya.

Pada Selasa (08/12), Teman kumparan Mom telah berkonsultasi dengan Sri Juwita K., Psikolog Keluarga yang sedang berpraktik di Tiga Generasi dan LPT UI. Selain sibuk berpraktik sebagai psikolog, wanita yang kerap disapa Wita ini juga merupakan Founder dari komunitas @cintasetara.

Tak hanya itu, pemilik akun Instagram @ladywitts ini juga merupakan salah satu penulis dari buku Anti Panik Mempersiapkan Pernikahan. Ia juga aktif menjadi narasumber untuk talkshow dan kelas di berbagai media online serta offline.

Penasaran seperti apa isi dari curhatan teman kumparan Mom dan bagaimana Mbak Wita menjawabnya? Simak rangkumannya di bawah ini, yuk!

Teman curhat bersama psikolog Sri Juwita Kusumawardhani, M.Psi. Foto: kumparan/Masayu Antarnusa.

Curhatan: Saya IRT dengan 3 anak, semenjak anak ke 3 saya lahir, saya sulit mengontrol emosi ke anak-anak, yang saya mau mereka nurut. Anak saya yang ke-2 perempuan belum genap 5 tahun, bermasalah dengan tumbuhnya. Sehingga saya kasih susu khusus, dan dia susah sekali makan, kalau diikutin ngabisin nasi 1 piring bisa 2 jam. Sarapan dan makan siang disuapin ART saya, itu pun masih lama makannya. Jadi hari ini saya marah-marah karena setiap ngga habis dalam waktu yang sudah saya tetapkan (30menit).

Hukumannya adalah dia nggak boleh keluar rumah, nggak boleh makan cemilan apapun, dan nggak boleh nonton TV. Saya keras hati emang orangnya, anak saya ini merengek-rengek minta ditemenin tidur. Saya bilang, karena kamu ngga dengerin mama, mama juga ngga mau dengerin kamu, apa pun permintaan dia saya tolak. Mulai dari nada halus sampai nada tinggi. Saya bingung mbak, apa yang saya lakuin terlalu berlebihan?

Tadinya saya mau terus menerapkan aturan waktu makan dan hukuman sampai seminggu ke depan, tapi saya takut kalau yang saya lakuin ini salah. Saya harus gimana, Mbak? Pada dasarnya saya khawatir dengan tumbuh kembang nya, tolong bantu saya, Mbak 🙏. Terima kasih.

Jawab : Halo Mom, rasanya pasti tidak karuan ya ketika melihat anak sulit makan. Yang perlu diperhatikan adalah utamakan skill makan (indra sensori, oral motor, otot kaki dan torso untuk duduk tegap, organ dalam tubuhnya, kemampuan belajar, dll) terlebih dahulu barulah kita pikirkan volume yang masuk.

Makan bukan hanya buka mulut dan menelan, tapi membutuhkan berbagai otot dan organ. Ini adalah proses yang sulit untuk anak, jadi jangan menambah kesulitan anak dengan memarahinya tapi fokus untuk mendampinginya.

Mungkin Mom bisa mencoba berkonsultasi dengan dokter anak yang dapat membantu melihat kesulitan anak untuk makan muncul dari mana dan memberikan edukasi secara tepat guna, sehingga Mom pun bisa membantu anak dengan lebih baik.

Semoga Mom diberikan kekuatan dalam mengurus dan membesarkan ketiga anak Mom yaa, sehat-sehat ya Mom.

Curhatan: Saya bingung dengan anak laki-laki saya dan suami. Mereka ngga pernah bisa akur. Yang bapaknya bisanya negatif thinking aja sama anaknya, nggak pernah coba mengerti anaknya atau setidaknya mencoba mendekati atau ngobrol sama anaknya. Yang anak lakinya sama aja. Selalu ngerasa disalah-salahin sama bapaknya, dan mungkin karena perkataan bapaknya dia jadi menganggap dirinya itu bodoh, bisanya menyusahkan orang tua.

Anak laki-laki saya usia 14 tahun. Saya bingung harus bagaimana lagi. Sejak bulan april suami saya dirumahkan, saya sempat berharap dengan dia dirumahkan bisa lebih dekat dengan anak lakinya tapi kenyataannya jauh sekali. Malah makin asyik dengan hobinya (memelihara merpati). Anak laki saya juga sejak pandemi lebih banyak bermain game online sehingga pelajaran dan tugas-tugas jadi keteteran. Tolong saya harus bagaimana ya, Mbak? Terima kasih.

Jawab : Halo Mom, pasti ingin sekali ya melihat suami dan anak laki-lakinya dapat memiliki hubungan yang harmonis. Mungkin Mom bisa mulai mencoba mendekatkan mereka dengan menyediakan kegiatan yang dapat mereka lakukan berdua, misal: meminta tolong untuk mereka belanja atau memperbaiki sesuatu di rumah.

Cuma yang Mom perlu ingat anak Mom sekarang sedang berada di tahapan remaja, memang secara alami yang ia rasakan adalah tidak merasa dipahami oleh orangtuanya dan lebih nyaman ketika menghabiskan waktu dengan teman-teman sebaya. Selain itu, Ayahnya juga memang perlu memiliki kesadaran pribadi untuk membangun hubungan yang baik dengan anaknya. Mom mungkin bisa mendekati Ayah untuk menjelaskan kondisi anaknya saat ini, namun jika tidak berhasil maka hal tersebut di luar kuasa Mom.

Terkait perilaku anak bermain game, Mom bisa mencoba berbicara secara dewasa ke anak. Para remaja senang jika mereka dianggap sebagai orang dewasa (bukan anak-anak), sampaikan bahwa "Kamu boleh main game, tetapi pastikan bahwa tanggung jawabmu sudah selesai dulu. Mama percaya bahwa kamu mampu untuk bertanggung jawab karena kamu sudah besar." Semoga bisa berhasil ya Mom.

Curhatan: Saya sedang hamil kehamilan kedua saya. Saya mempunyai orang tua yang hobby nya nonton youtube yang menyebut kata-kata kasar. Seperti perkataan yang tidak pantas didengar. Saya sedang hamil sering sekali mendengar itu, bahkan tidak dari youtube saja orang tua saya sering berucap kata-kata kasar.

Lalu saya menegur, lebih baik jangan seperti itu karena saya ngga mau jabang bayi di dalam kandungan saya sedari di dalam perut mendengar kata-kata yang tidak baik. Apa lagi kalau si bayi sudah lahir, saya tidak mau anak saya berada di lingkungan yang seperti itu. Saya masih tinggal dengan ke dua orang tua saya. Kemudian suami saya marah, tidak suka jika mertuanya seolah tidak perduli dengan itu.

Tapi orang tua saya tetap kekeuh dengan pendiriannya. Bahkan bilang bahwa mereka tidak peduli. Lalu saya memutuskan untuk tidak tinggal dengan kedua orang tua saya setelah melahirkan. Saya sedih sekali, kenapa mempunyai orang tua yang seperti itu.

Jawab: Hai Mom, selamat ya untuk kehamilan keduanya. Tentunya sebagai orang tua, Mom ingin memberikan yang terbaik untuk anak. Saya pun menyayangkan sikap orang tua Mom yang tidak merespon dengan baik terkait tontonan youtube ini.

Sayangnya karena Mom masih ada di rumah mereka, maka agak sulit memang untuk memaksa mereka berubah - karena mereka merasa aturan yang berlaku di rumahnya adalah aturan yang sesuai dengan keinginan mereka.

Jadi, jika memungkinkan ketika mereka menyetel itu, Mom bisa melakukan hal lain yang agak berjauhan dari mereka atau Mom pun tetap bisa mengatakan hal-hal yang baik kepada janin ya. Kemampuan janin untuk mendengar mulai berkembang di minggu ke-20, ia dapat mendengar dan merespon bunyi yang keras. Yang terdengar hanya gelombang suaranya, tapi bukan kata-katanya - sehingga Mom tidak perlu juga terlalu merasa khawatir.

Suara yang paling jelas ia dengar adalah suara Mom sebagai ibunya, bukan hanya dari luar tapi juga dari dalam tubuh mom yang disampaikan dalam bentuk getaran di tulang. Di dalam rahim pun, ada suara detak jantung Mom, aliran darah, dan air ketuban yang menenangkan janin. Semoga Mom jadi bisa merasa lebih tenang ya.

Curhatan: Aku dari kecil selalu dibanding-bandingkan sama orang lain dan adikku sama ibuku terutama, aku selalu merasa tidak diinginkan dan diharapkan karena ibuku dari kecil selalu bilang aku ini anak yang nyusahin karena sakit-sakitan.

Tapi ibuku juga cukup baik dalam memfasilitasi aku secara material. Namun bukan itu yang aku mau, karena secara psikis kebawa sampai sekarang aku udah punya anak, aku mulai jengah dan sangat tertekan karena selalu di judge gagal dalam segala hal, termasuk memilih pasangan hidup, sikap aku sebagai orang tua bagi anak aku.

Kebetulan sudah 5 taun aku masih satu rumah dengan orang tua ku karena berbagai pertimbangan, salah satunya ekonomi dan ngga tega ninggalin mereka. Kadang segala sesuatu yang aku capai dalam hidup aku hanya ingin aku tunjukkan pada ibuku bahwa aku bisa sukses dan tidak seperti yang ibu aku selalu bilang, kebetulan aku bekerja juga. Jadi apapun pencapaian aku dalam pekerjaan aku tujukkan untuk ibuku bahwa apa yg aku pilih itu benar dan bisa sukses.

Dan sampai aku sebesar ini aja aku masih selalu dibandingkan dengan orang lain dan adikku, hal ini juga sangat berpengaruh kepada kehidupan rumah tangga dan bagaimana aku bersikap ke anakku yang secara tidak langsung suka emosi sama anakku.. Aku tau aku harus healing karena secara psikis aku terganggu tapi aku ngga tau harus mulai darimana dan harus apa.. Tolong aku yaaa Mbak Wita, thank you.

Jawab : Halo Mom, lelah sekali ya rasanya terus menerus dibandingkan dengan orang lain apalagi dilakukan oleh ibu sendiri. Mom pun merasa frustasi karena apapun yang sudah dilakukan untuk menyenangkan dan membanggakan Ibu - tidak pernah terlihat cukup oleh beliau. Oleh karena itu, Mom perlu membangun aspirasi pribadi dalam menjalani kehidupan.

Mom perlu mengenali dan memahami apa yang paling penting untuk hidup (selain Ibu), fokus pada apa yang memang Mom sukai dan nyaman untuk kerjakan dan jadikan hal tersebut sesuatu untuk memenuhi mimpi pribadi Mom--bukan untuk menunjukkan kepada Ibu. Karena melihat cerita Mom, tampaknya Ibu memang agak sulit untuk bisa melakukan penerimaan dan mengapresiasi Mom, jadi jangan ngoyo untuk membuat Ibu bisa memberikan itu, hanya akan membuat Mom lelah saja dan bahkan berdampak kepada respon Mom terhadap anak.

Fokus untuk membangun hubungan yang lebih baik antara Mom dengan anak, jangan jadikan ia displacement dari kekecewaan Mom terhadap Ibu. Dengarkan kebutuhan anak, respon dengan tepat, dan tunjukkan penerimaan terhadap dirinya. Tentunya, Mom pun perlu memiliki sarana/outlet yang lebih sehat dalam menyalurkan emosi ya. Mom bisa coba dengan menulis (di buku atau notes HP) untuk mengeluarkan uneg-uneg secara aman dan tidak menyakiti orang lain. Semangat ya Mom.

Curhatan: Ngerasa bingung hubungan dengan pacar harus tetep dipertahanin, diperjuangin, atau harus dilepasin. Pacaran udah menuju 2 tahun di akhir januari tahun depan, udah lumayan banyak kemajuan satu sama lain agar bisa semakin jadi a better partner.

Tapi di satu sisi, kadang juga ngerasa apa kita memang terlalu jauh berbeda aja, jadi better ngga usah dipaksain karena mungkin ngga akan ketemu titik tengah yang selalu ada? (Biasanya perasaan macem ini muncul saat lagi PMS, bawaannya langsung emosional, sensitif, insecure, negative thinking, over thinking, lebih clingy dan needy ke pasangan) tapi dari dulu sampe sekarang pasangan tetep ngga sejago itu untuk lebih peka buat lebih kasih banyak waktu, lebih atentif ke kita, lebih peka, lebih bisa care dan kasih banyak effort.

Sering ngerasa aku lebih sayang ke pasangan daripada pasangan ke aku, aku selalu lebih prioritasin dia daripada sebaliknya, dan bukannya tandanya nggam sehat?

Udah sempet beberapa kali ngomong serius apa kita putus aja, tapi selalu berakhir dengn sebuah solusi-solusi yang tapi belum bisa berhasil banget menyelesaikan perbedaan level attachment kita yang bedanya sejauh itu.

Terakhir ada kesepakatan call tiap malem, dan kali ini hasilnya sangat jauh signifikan, yg darinya bisa ada msalah tiap minggu jadi jarang banget, karena biasa masalah muncul karena aku ngerasa dia kurang care, aku butuh dapat waktu dari dia (dan love language ku selain physical touch memang yang quality time), tapi setelah sekitar 3-4 bulanan dia mulai sibuk lagi dan ngga inget untuk tanyain buat call lagi kalau ngga dimulai dari kita duluan.

Kadang ditanyain pas malem dan dia udah ngga bisa karena sibuk dengan UTS dan juga project lain. Suka bingung harus gimana. Udah coba jelasin juga ke pasangan kalo lagi PMS aku butuh dia, butuh waktu dia.. tapi mungkin orangnya masih belum se 'ngeh' itu betapa waktu yang dia kasih, hal kecil kayak perhatian itu impactnya bisa gede buat aku dan hubungan kita. Bingung dan keabisan akal musih gimana lagi jelasin ke dia.

Mohon guidance nya ya Mba, terima kasih banyak.

Jawab : Halo Nona yang sedang bingung. Kamu rasanya lelah secara emosi ya karena sering dikecewakan oleh pacarmu. Sebenarnya kamu sudah oke karena tau betul apa yang kamu butuhkan darinya dan juga sudah mencoba mengomunikasikannya secara baik-baik. Memang benar bahwa ketika berada di dalam suatu hubungan, kita berhak untuk memperoleh waktu dan perhatian dari pasangan namun perlu disesuaikan juga dengan kesibukan masing-masing.

Yang perlu kamu ingat, kamu tidak bisa terus menerus menjadikan pacarmu sebagai sumber utama dari kebahagiaanmu - jadikan ia sebagai tambahan kebahagiaan. Artinya, kamu pun perlu banyak cara secara mandiri dalam membahagiakan diri sendiri.

Kamu perlu kegiatan produktif, atau mungkin mendalam suatu hobi/minat pribadi, dan juga bersenang-senang dengan teman-temanmu yang lain. Karena pacarmu tampaknya memiliki berbagai aktivitas--jika aktivitasmu tidak sebanding dengannya memang dampaknya jadi kamu yang merasa ditinggalkan olehnya atau merasa kesepian.

Semoga setelah mengisi hari-harimu dengan berbagai hal positif lainnya, kamu akan dapat merasa lebih santai menghadapi pacarmu. Nanti kamu dapat mengevaluasi hubunganmu dengan lebih objektif, apakah hubungan tersebut dapat menguatkan dan membahagiakanmu atau tidak dalam menjalani hidup.

(tan)

====================

Teman curhat merupakan program khusus yang diadakan di grup teman kumparan. Lewat Teman Curhat, teman kumparan bisa berkonsultasi, diskusi, dan curhat dengan para expert yang ahli di bidangnya. Yuk, gabung ke grup teman kumparan di Telegram melalui kum.pr/temankumparanMom. Jangan lewatkan keseruannya, ya!