Bisnis
·
15 September 2021 13:48
·
waktu baca 11 menit

Teman Curhat Usaha: Bagaimana Caranya Memulai Usaha?

Konten ini diproduksi oleh Teman kumparan
Teman Curhat Usaha: Bagaimana Caranya Memulai Usaha? (104848)
searchPerbesar
Program Teman Curhat Usaha Bersama Glenn Marsalim dan Shasya Pashatama. Foto: dok. kumparan.
Memulai usaha ataupun mengembangkannya selama pandemi bukanlah perkara mudah. Adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) membuat pelaku usaha harus memutar otak supaya dagangannya bisa tetap laris manis di pasaran.
ADVERTISEMENT
Supaya teman kumparan yang punya usaha nggak bingung lagi, ada program baru bernama Teman Curhat Usaha! Bareng Glenn Marsalim (Owner MGKYM) dan Shasya Pashatama, teman kumparan bisa bertanya, curhat, ataupun konsultasi soal mengelola bisnis ataupun UMKM ke pelaku usaha yang sudah berpengalaman.
Salah satu pertanyaan teman kumparan di pembahasan Teman Curhat Usaha perdana adalah tentang bagaimana caranya memulai usaha dan mengatasi rasa takut saat baru mulai usaha. Lantas, bagaimana jawaban dari Shasya dan Glenn? Seperti apa curhatan tentang usaha dari teman kumparan? Simak rangkumannya berikut ini!
Curhatan: Halo, saya ingin bertanya, nih. Sebelumnya saya pernah membuka usaha pempek di salah satu aplikasi, karena belum punya tempat offline. Tapi tidak ada pembeli, jadinya pempeknya dimakan sendiri, deh. Sekarang saya sudah tidak jualan lagi. Saya jadi kepikiran membuka usaha lain, masih di bidang kuliner, seperti minuman, makanan ringan. Namun kadang masih ragu untuk memulainya karena pengalaman sebelumnya. 😁
ADVERTISEMENT
Gimana ya untuk meyakinkan diri memulai bisnis lagi dan adakah tips berjualan online agar menghasilkan?
Jawaban dari Glenn: Hi Nur, dari hasil pengamatan dan survey memang belakangan makanan yang sudah familiar, lebih bisa bertahan. Di tengah kondisi ekonomi seperti sekarang, sepertinya konsumen enggan untuk mencoba produk makanan baru. Tapi bukan berarti tidak mungkin. Beberapa produk F&B baru yang sepertinya berhasil di saat pandemi ini, punya keunikan sendiri sehingga bikin konsumen ingin mencobanya. Misalnya dari keunikan resep, cara pembuatan, dll. Crofle contohnya, sebenarnya itu adonan croissant yang diwafflekan. Tapi karena "tampak" baru jadi menarik.
F&B sebagai kebutuhan pokok akan tetap hidup. Memang untuk bisa maju dan berkembang butuh usaha lebih. Kalo diperhatikan juga banyak pedagang makanan di Tiktok yang berhasil karena memperlihatkan proses di dapur. Ada juga keluh kesah dan tantangan yang harus dilaluinya. Jadi bukan sekedar makanannya, tapi juga cerita dibaliknya.
ADVERTISEMENT
Tapi saran saya tetap, kualitas makanan harus didahulukan. Tidak ada strategi pemasaran yang lebih baik dari kualitas produknya itu sendiri.
Jawaban dari Shasya: Proses meyakinkan diri sendiri datangnya memang harus dari dalam diri sendiri. Setiap mengambil keputusan baik bisnis maupun hal lain, saya selalu menggunakan 2 faktor utama:
- Faktor logis
- Faktor chemistry
Faktor logis dalam berdagang tentu saja diawali dengan punya produk yang baik, dalam makanan artinya enak, ini hal utama yang tidak boleh diganggu gugat. Kata siapa enak? Kalau kita sendiri yang jualan, ya pasti kita bilang enak. Tapi kita pasti punya teman yang bisa dimintai pendapat dan tanggapannya, nah coba kirim sample produk kita, tanya apa kurangnya, dan jangan menyerah sampai mendapatkan hasil yang terbaik.
ADVERTISEMENT
Faktor chemistry ya memang ada kaitannya dengan gambling, karena semua bisnis pasti ada risikonya. Tapi risiko harus bisa diukur. Artinya gini, oke kita gambling coba dagang tanpa yakin 100% akan berhasil. Start small, jangan baru mulai kemudian mengeluarkan modal besar. Mulai kecil-kecilan dulu, lalu membesar sedikit demi sedikit. Kalau memungkinkan, usahakan tidak meminjam uang berbunga untuk modal usaha. Kalau (amit-amit) usaha tidak jalan, setidaknya kita tidak punya hutang kemudian hari.
Tips berjualan online yang bisa saya share :
1. Produk mesti enak —> ini tidak bisa ditawar lagi
2. Survey makanan apa yang sedang laku di dunia online. Bila ingin menjual makanan siap makan, sediakan packaging menarik dan praktis sehingga memudahkan yang beli untuk makan di mana saja. Bila ingin menjual makanan frozen, pastikan makanan benar-benar awet untuk jangka waktu tertentu, bisa dikirim ke jarak yang lumayan jauh, dan juga packing yang bagus.
ADVERTISEMENT
3. Hadir online. Artinya jangan cuma mau post di socmed sendiri, tapi harus mau berinteraksi dengan pembeli, calon pembeli, juga pedagang lain
4. Buat content menarik baik dari produk makanan, testi pelanggan, proses masak (benar kata Glenn) dan rajinlah post di socmed. Perlu diingat, post di social media sendiri itu gratis, jadi minimal harus dilakukan sehari sekali posting-nya.
Semoga membantu ya, selalu semangat. :)
Curhatan: Saya baru mau mulai usaha dropship skincare. Tapi ingin jual banyak varian produk, jadi berencana ngambil dari beberapa toko. Ada tips kah untuk memulai dropship? Kalau jualan lewat e-commerce, lokasinya harus menyesuaikan toko supplier ya? Terima kasih.
Jawaban dari Glenn: Wow skincare memang lagi merajai di era pandemi ini. Banyak brand skincare & beauty baru launch juga dan semuanya menarik.
ADVERTISEMENT
Keunggulan dropship sebenarnya ada di komunitas pembelinya. Kebanyakan pembeli dropship karena sudah percaya dengan seller-nya. Produk orisinal, packaging rapi, pengiriman tepat waktu dll., sehingga konsumen tidak keberatan untuk membeli dengan harga sedikit lebih mahal dari toko resmi. Selain membeli di dropshipper bisa menghemat ongkir.
Sarannya ada dua: pertama mulai membentuk komunitas pembeli, tentunya ini makan waktu tapi tidak ada pilihan lain. Kedua mulai menjalin kerjasama dengan para merchant sehingga bisa ada diskon atau keringanan lain yang menguntungkan.
Salah satu trik dropshipper biasanya dimulai dengan menjual barang yang langka di pasaran. Dengan adanya koneksi dengan berbagai merchant ada kemungkinan untuk mendapatkan produk langka tersebut.
Tidak mudah, tapi bisa.
Jawaban dari Shasya: Halo :). Berbisnis dengan sistem dropship adalah salah satu bentuk bisnis yang minim risiko, kan tidak perlu modal besar, bisa dibilang modalnya hanya rajin pasang mata dan menjalin koneksi dengan calon pembeli. Karenanya, model bisnis ini banyak yang menjalankan, jadi mau tak mau kita harus tampil dengan nilai lebih yang tidak diberikan oleh toko sebelah.
ADVERTISEMENT
Misalnya :
1. Memberikan tips dan petunjuk pemakaian produk skincare. Perlu diingat bahwa tidak semua pembeli produk skin care sudah paham betul manfaat dan cara menggunakan produk itu. Sebagai gambaran : kadang jualan makanan aja mesti dikasi petunjuk masak, ya apalagi skin care ya :) 
Tips dan petunjuk pemakaian ini bisa diberikan saat orang membeli (dalam bentuk kartu misalnya), bisa juga dalam bentuk postingan. Jadi toko lain mungkin jualan barang yang sama, tapi tokomu lebih menarik karena menjelaskan manfaat dan petunjuk pemakaian
2. Memberikan bonus. Bonus ini bisa berupa cashback, sample masker, atau sample produk lain.
3. Jaga reputasi. Karena sistemnya dropship, jangan sampai orang sudah pesan lalu tiba-tiba barang kosong sehingga kita tidak bisa kirim.
ADVERTISEMENT
4. Berjualan di e commerce harus menggunakan foto yang jelas dan terang. Beda halnya dengan jualan di Instagram yang fotonya harus lebih estetik
Untuk lokasi dengan toko, saya rasa tidak masalah bila kita berjauhan, kan semuanya dilakukan secara online?
Curhatan: Saya ingin sedikit bercerita tentang usaha saya. Saya memiliki usaha kuliner yaitu ayam bakar & goreng. Sebelumnya memang saya belum terlalu masuk ke dunia digital, seperti instagram usaha saya tidak terlalu aktif. Jadi hanya fokus jualan pada offline saja.
Tiba-tiba pandemi ini membuat omzet usaha saya menurun 70-90% dari biasanya, saya stress dan bingung harus bagaimana, karena disatu sisi saya juga tidak terlalu paham menggunakan media sosial untuk mempromosikan usaha saya. Saya sudah mencoba tapi media sosial usaha saya stuck di situ saja dan tidak berkembang.
ADVERTISEMENT
Bagaimana ya caranya supaya bisa mengoptimalkan media sosial untuk membantu usaha saya dikenal oleh orang-orang? Apa yang harus saya lakukan?
Jawaban dari Shasya: Halo :) Social media untuk berdagang ini memang bisa dibilang gampang-gampang susah. Seperti yang gampang tapi ternyata susah, seperti yang susah tapi eh kok orang lain bisa dan (kelihatannya) gampang.
Kuncinya ada dua: satu kita menyediakan modal yang cukup besar untuk beriklan di Google, di FB, di IG, bayar influencer, dll. Kunci kedua gratis, tapi harus kita tekuni dan perlu waktu, nggak bisa instan.
Kunci kedua adalah kita mesti terjun betul di social media. Bayangkan seperti ini, kita mau jualan asuransi, lalu kita menelpon teman lama yang sudah bertahun-tahun tidak ketemu. Pasti dia sebel kan, udah lama nggak ketemu dan nggak pernah ngobrol, eh tiba-tiba telepon mau nawarin asuransi. Social media kurang lebih demikian. Mbak/Mas bisa “berlatih” menggunakan socmed pribadi untuk kemudian secara perlahan mengalihkan penjualan ke socmed jualan.
ADVERTISEMENT
Tips lain dalam berpromosi lewat social media ya sediakan content yang menarik. Saat ini banyak kelas-kelas belajar motret produk barang jualan pake smartphone, tidak harus selalu hire photographer profesional, jaga juga konsisensi dalam posting. Upload dagangan di social media sendiri itu gratis, jadi setidaknya minimal sehari harus post satu.
Usaha digital yang dilakukan generik, hasilnya juga akan generik, nggak bisa instan. Saran saya, manfaatkan situasi pandemi yang kelihatannya mulai membaik ini (di tempat saya sudah bisa buka dan makan di tempat, semoga di tempat Mbak/Mas juga) untuk menggenjot growth social medianya. Jangan karena udah bisa jualan offline, lalu online diabaikan, nanti kalau kejadian jualan mesti balik online lagi, kita setidaknya sudah terlatih.
ADVERTISEMENT
Oh iya, saya juga menjalin hubungan dengan pembeli-pembeli offline. Karena saat terpaksa hanya jualan online, ya mereka inilah yang akan jadi pembeli-pembeli pertama kita.
Semoga membantu ya. :)
Curhatan: Hallo Pak Glenn dan Kak Shasya, salam kenal. Jadi saya ini working mom, tapi saya ingin sekali punya usaha ayam geprek karena memang saya penyuka ayam. Tapi untuk buka usaha ini saya ada kendala nggak bisa masak dan mungkin waktunya belum bisa full, kira-kira menurut Pak Glenn dan Kak Shasya, lebih baik saya beli franchise ayam atau saya create brand saya sendiri ya? Makasih.
Jawaban dari Glenn: Saran saya, coba beli franchise dulu. Karena untuk create brand sendiri tentu pemilik brand setidaknya harus bisa masak atau setidaknya tertarik dengan memasak. Suka berpakaian belum tentu bisa jadi pedagang baju. Suka kopi tidak otomatis bisa berjualan kopi. Jadi saran saya coba franchise dulu sekalian memberikan waktu untuk diri sendiri mencicipi apakah benar bisnis kuliner ini cocok atau tidak.
ADVERTISEMENT
Jawaban dari Shasya: Halo :)
Kalau saya pribadi kebetulan saya suka masak dan ngulik makanan jadi pasti tidak akan memilih model bisnis franchise.
Tapi perlu diakui franchise sangat memudahkan usaha terutama buat mereka yang masih punya kerjaan tetap di samping bisnisnya. Bisnis franchise tentu mahal di awal tapi bisa langsung mulai jalan setelah kita beli franchise-nya.
Saran saya sih kalau sampai memutuskan beli franchise, pelajari juga bisnisnya. Supaya kalau satu saat punya waktu mengulik, bisa punya brand sendiri dan nggak tergantung sama brand orang lain.
Semoga jawabannya membantu.
Curhatan: Saya pengen memulai usaha tapi takut memulai karena takut tidak laku. Setiap punya ide usaha, selalu muncul rasa takut tersebut. Bagaimana cara mengurangi rasa takut tersebut, ya?
ADVERTISEMENT
Jawaban dari Glenn: Kalau takut gagal, takut tidak laku, sebaiknya jangan memulai usaha dulu. Setiap usaha pasti punya risiko dan itu tak terelakkan.
Saran saya coba kerja untuk orang dulu, supaya belajar lebih banyak mengenai sistem dan lainnya sampai semakin percaya diri untuk memulai usaha sendiri. Belajar dari pelaku industri dengan bekerja langsung bersamanya adalah cara belajar yang paling efisien dan tepat guna.
Curhatan: Berapa modal yang diperlukan Kak Glenn dan Kak Shasya ketika awal memulai usaha? Apakah memulai usaha harus dengan modal yang besar?
Jawaban dari Glenn: Modal awal saya 5 juta rupiah. Dari keuntungannya diputar terus sampai kurang lebih 5 tahun sebelum akhirnya saya bisa mengambil keuntungannya untuk gaji dan kehidupan saya.
ADVERTISEMENT
Jawaban dari Shasya: Karena Glenn sebut angka, maka saya rasanya harus sebut angka juga :)).
Modal awal saya kurang lebih 20 jutaan. Waktu itu pakai uang sendiri. Cici Claypot adalah usaha pertama saya secara offline, sebelumnya saya punya usaha catering tapi online saja jadi risikonya minim sekali karena semua pesanan dibuat berdasarkan PO.
Buat saya, uang yang saya ‘pertaruhkan’ saat itu cukup besar tapi cukup risikonya. Artinya kalau amit2 usaha tidak berhasil, yaudah, uang segitu saya anggap uang sekolah belajar bisnis saja. Karenanya saat mulai usaha (sampai saat ini) saya tidak berani pinjam uang ke bank.
Usaha saya membesar perlahan sesuai kemampuan sendiri. Bukan berarti saya anti pinjam modal usaha, tapi ya risikonya memang harus dihitung lebih hati-hati.
ADVERTISEMENT
Curhatan: Bagaimana mengatur uang jualan supaya tidak bercampur atau digunakan untuk keperluan sehari-hari? Saya sudah mulai usaha kecil-kecilan tapi uangnya masih suka tercampur
Jawaban dari Glenn: Pisahkan rekeningnya. Saya pelaku pisah rekening dan memisahkan antara uang usaha dan uang pribadi. Karena kalau dicampur, kita tidak pernah bisa tau persis berapa keuntungan dan kerugian kita. Dan sulit untuk mengembangkan bisnis ke depannya karena idealnya pengembangan bisnis menggunakan laba yang dihasilkan oleh bisnisnya itu sendiri. Skala yang terukur akan menentukan arah bisnis yang lebih berkesinambungan.
====================
Teman Curhat Usaha merupakan wadah bagi teman kumparan untuk bertanya seputar usaha kepada pelaku UMKM berpengalaman. Di program ini, kamu bisa tanya, konsultasi, bahkan curhat secara gratis. Yuk, gabung ke grup teman kumparan UMKM di Telegram melalui kum.pr/Temanumkm. Jangan lewatkan keseruannya, ya!
ADVERTISEMENT
(sif)
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white