Tips Mengatasi Gerakan Tutup Mulut (GTM) pada Anak ala teman kumparanMOM

Ayo gabung ke komunitas teman kumparan!
·waktu baca 3 menit

Gerakan Tutup Mulut (GTM) mungkin sudah menjadi fenomena yang cukup umum dijumpai oleh para orang tua. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan perilaku anak yang menolak makan, mulai dari menutup mulut, menyemburkan makanan, hingga melepehnya.
Kondisi tersebut biasanya terjadi ketika anak mulai disapih atau memasuki fase pemberian makanan pendamping ASI (MPASI). Di fase ini, anak masih perlu beradaptasi dengan berbagai rasa, tekstur, dan cara makan yang baru sehingga waktu makan bisa menjadi tantangan tersendiri.
Situasi ini tentu bisa membuat orang tua khawatir, apalagi jika GTM berlangsung cukup lama. Sebab, kondisi tersebut dapat membuat kebutuhan nutrisi anak nggak terpenuhi dan berisiko memengaruhi berat badannya.
Jika si kecil sedang mengalami hal serupa, jangan langsung panik ya, Moms. Sejumlah ibu-ibu yang tergabung dalam komunitas teman kumparanMOM punya beberapa tips yang bisa kamu coba untuk menghadapi GTM. Yuk, simak selengkapnya di bawah ini!
Cara Mengatasi Gerakan Tutup Mulut (GTM) pada Anak
Tips pertama datang dari teman kumparanMOM Ayu (36). Sebagai ibu dari anak yang kini berusia 6 tahun, Ayu tentu sudah cukup sering menghadapi momen ketika si kecil susah makan, salah satunya saat anaknya nggak menyukai nasi putih.
Untuk menyiasatinya, Ayu mencoba berbagai jenis makanan hingga harus mengeluarkan budget lebih untuk menemukan makanan yang sesuai dengan selera si kecil.
Usahanya pun nggak sia-sia. Ia akhirnya menemukan preferensi makanan anaknya yang ternyata lebih menyukai kuliner mancanegara. “Dia doyan banget disuapin nasi kebuli, nasi kabsah, zuppa soup,” kata Ayu.
Sementara itu, teman kumparanMOM Arvina (40) punya cara berbeda saat menghadapi anak yang sedang GTM. Ketika si kecil mulai menunjukkan penolakan untuk makan, Arvina memilih mencari tahu penyebabnya terlebih dahulu.
Beberapa hal yang biasanya ia perhatikan antara lain:
Apakah anak sedang mengalami sariawan?
Apakah ada radang tenggorokan yang membuatnya sulit atau terasa perih saat menelan?
Apakah anak mulai bosan dengan menu yang itu-itu saja?
Apakah makanan yang diberikan sudah cukup bervariasi?
Apakah anak terlalu banyak minum susu sehingga sudah merasa kenyang?
Apakah suasana atau kondisi tempat makan membuat anak kurang nyaman, misalnya terlalu dingin?
Setelah mengetahui penyebabnya, Arvina kemudian menyesuaikan cara untuk mengatasi GTM si kecil. Mulai dari memberikan jeda sebelum makan, menawarkan minuman hangat, hingga mencoba menyuapi atau membiarkan anak makan sendiri selama 5–10 menit.
Nggak kalah penting, ia turut memastikan makanan yang diberikan tetap hangat. Menurutnya, makanan dengan suhu yang pas bisa membuat hidangan terasa lebih nikmat dan menggugah selera makan anak.
Untuk membantu meningkatkan nafsu makan, Arvina juga mulai mengenalkan rasa pedas melalui sambal atau saus saat anak memasuki usia 2 tahun. “Kalau anakku 2 tahun dah mulai suka sambal sama saus walau dikit, kepedesan tapi jadi nafsu makan,” tuturnya.
Temukan beragam inspirasi parenting dari ribuan ibu di seluruh Indonesia, gabung komunitas teman kumparanMOM di kum.pr/mom4
