Wanita Boleh Berpendidikan Tinggi

Mahasiswi Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Tenistya Deril Aisyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Siapa saja boleh berpendidikan tinggi, terutama bagi seorang wanita

“Setelah ini lanjut sekolah atau nikah?”
“Aduh! Buat apa sekolah tinggi-tinggi, nanti juga balik ke dapur”
Itulah beberapa pernyataan yang sering kali kita dengar saat kita menuju tahap pendewasaan. Pada fase tersebut, seorang wanita dianggap matang untuk menikah dan melanjutkan kehidupan bersama keluarga kecilnya.
Selain itu, faktor budaya dan nilai-nilai yang dianut juga berpengaruh bagi masa depannya. Sehingga hal tersebut membuat wanita seakan-akan membatasi dirinya untuk menuntut ilmu dan menempuh pendidikan yang lebih tinggi.
Di era revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan perkembangan teknologi, setiap individu dituntut untuk mampu mengikuti perkembangan zaman dengan berbekal skill yang bermanfaat bagi kemaslahatan masyarakat luas. Tidak terkecuali bagi wanita yang cenderung disepelekan dan dipandang sebelah mata.
Sebagai seorang wanita, kita seharusnya juga memiliki kemauan serta kemampuan yang tak kalah dari pria. Karena saat ini ruang gerak wanita juga sudah setara, lebih bebas, terbuka lebar, bebas berkarya, dan bebas meraih pendidikan. Tak lupa jika wanita juga memegang peranan penting dalam perkembangan zaman.
Pendidikan adalah kunci dari perkembangan dan peningkatan kualitas diri. Seorang wanita yang berpendidikan akan berpengaruh pada peningkatan pola pikir dan kematangan diri. Dengan pemikiran yang matang, wanita akan mampu menyaring informasi yang diterima.
Sehingga dia akan tahu apa langkah tepat berikutnya. Pemikiran yang berkembang akan menjadi benteng untuk menghindari segala bentuk pengaruh buruk.
Tidak hanya berpengaruh pada pola pikir,pentingnya pendidikan bagi wanita berpengaruh pada strata sosial. Tak dapat dipungkiri bahwa salah satu dampak dari kurangnya tingkat pendidikan adalah kemiskinan sehingga, wanita yang memiliki pendidikan tinggi akan mampu bersaing agar meningkatkan taraf hidup dan strata sosialnya.
Banyak dari masyarakat sepakat bahwa wanita tidak memiliki batasan untuk terus menuntut ilmu. Banyak alasan yang menunjukkan bahwa memang seorang wanita bebas dan boleh melanjutkan pendidikannya untuk mencapai cita-cita yang selalu diidam-idamkan.
Sebenarnya tidak ada alasan mengapa seorang wanita tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Adanya beasiswa yang telah dikeluarkan oleh banyak lembaga membuat para wanita berpeluang untuk memperoleh pendidikan lebih tinggi, sehingga tak perlu ragu dengan biaya yang ada.
Alasan lain adalah adanya prospek kerja yang makin tinggi. Saat ini banyak perusahaan yang membutuhkan peran wanita yang memiliki intelektual dan berkualitas untuk bekerja dan berkontribusi pada perusahaannya. Maka dari itu, pendidikan wanita yang makin tinggi akan membantunya untuk mendapatkan pekerjaan yang layak sesuai dengan kemampuan.
Ada ungkapan bahwa “Seorang anak yang cerdas,berasal dari ibu yang cerdas” memang benar adanya. Nantinya, seorang wanita akan menjadi ibu sekaligus guru pertama bagi anaknya. Ibu yang cerdas akan mewarisi dan mengedukasi anaknya untuk memiliki pemahaman dan kualitas terbaik.
Mendidik anak bukanlah pekerjaan yang mudah, dibutuhkan ilmu untuk melakukan itu semua di zaman teknologi seperti sekarang. Seorang ibu harus paham akan teknologi untuk bisa mengawasi anak-anak mereka supaya tak salah jalan.
Seseorang yang cerdas pasti paham jika apa yang diajarkan kepada anak sangat berpengaruh terhadap pola pikir dan perkembangannya kelak. Cara berpikir seorang ibu akan sangat berpengaruh bagi cara dia mendidik anaknya.
Namun, banyak juga orang yang beranggapan bahwa seorang wanita tidak perlu menempuh pendidikan lebih tinggi. Anggapan tersebut muncul karena adanya nilai-nilai budaya yang dianut oleh suatu wilayah.
Pendapat lain menyatakan bahwa wanita tidak perlu memiliki pendidikan tinggi, karena pada akhirnya wanita akan beraktifitas di dapur untuk melayani suami dan anaknya. Sehingga menurutnya, wanita hanya perlu memiliki keterampilan dasar seperti memasak, merawat anak, membersihkan rumah, dan keterampilan lainnya yang berguna saat ia sudah mulai berkeluarga.
Menurut saya, sah-sah saja untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi dan saya tidak setuju dengan pernyataan jika wanita hanya berakhir di dapur dan hanya perlu memiliki keterampilan dasar untuk mengurus keluarganya sehingga pendidikan lebih lanjut itu tidak penting.
Padahal, sebagai wanita kita harus mandiri dan tidak melulu bergantung pada laki-laki karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi berikutnya pada masa depan. Kita sebagai wanita mempunyai pegangan tetap untuk melindungi diri sendiri. Hal ini mengapa melanjutkan pendidikan bagi wanita itu penting.
Saat kita berkeluarga lalu ternyata kita dihadapkan dengan kenyataan dalam rumah tangga mengenai permasalahan ekonomi yang goyah,maka dengan bekal ilmu pengetahuan dan gelar pendidikan yang kita punya, tentu akan membantu dalam berkarier dan tidak perlu bergantung pada orang lain.
“Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa bahagia baginya”. Pernyataan tersebut sama halnya dengan pemikiran RA Kartini yang menjadikan pendidikan itu sebagai alat untuk memajukan sebuah bangsa.
Ilmu pengetahuan yang didapat seorang wanita merupakan sebuah jalan mencapai kebahagiaan untuk individu atau masyarakat. Semua ini bertujuan untuk mencetak seorang wanita yang mempunyai kecerdasan akal dan budi pekerti.
"Wanita berpendidikan tinggi bukan untuk menyaingi lelaki, tetapi untuk membangun generasi"
Jadi, pendidikan bagi wanita merupakan kunci dari peningkatan kualitas diri. Makin tinggi pendidikannya, maka kualitas diri pun juga makin tinggi. Sehingga wanita juga bebas dan boleh untuk berpendidikan tinggi.
