Public Speaking di Era Modern Menjadi Kunci Awal Kesuksesan Mahasiswa

Mahasiswa manajemen di Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Teo Disius tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sebagai mahasiswa sekaligus anak muda di era modern saat ini dan di tengah perkembangan dunia yang semakin cepat, kemampuan seseorang tidak lagi hanya diukur dari seberapa tinggi nilai akademiknya. Dunia pendidikan dan pekerjaan saat ini membutuhkan individu yang mampu menyampaikan gagasan, bekerja sama, membangun relasi, serta meyakinkan orang lain. Salah satu kemampuan yang semakin penting tetapi sering dianggap sepele adalah public speaking atau kemampuan berbicara di depan umum.
Bagi sebagian mahasiswa, berbicara di depan banyak orang masih menjadi sesuatu yang menakutkan. Ketika dosen meminta presentasi, misalnya, tidak sedikit mahasiswa yang merasa gugup, suara bergetar, lupa materi, bahkan memilih membaca seluruh isi slide agar tidak kehilangan arah. Padahal, kemampuan berbicara di depan umum bukan hanya dibutuhkan ketika melakukan presentasi di kelas. Kemampuan tersebut merupakan salah satu modal penting untuk menghadapi dunia kerja dan kehidupan profesional.
Menurut saya, public speaking bukan tentang siapa yang paling banyak berbicara, melainkan siapa yang mampu menyampaikan gagasan dengan jelas dan membuat orang lain memahami apa yang ingin disampaikan.
Nilai Akademik Tinggi Saja Tidak Cukup
Mahasiswa sering kali berfokus pada pencapaian akademik. Mendapatkan nilai tinggi, menyelesaikan tugas tepat waktu, dan memperoleh indeks prestasi yang baik tentu merupakan sesuatu yang penting. Namun, kemampuan akademik tanpa kemampuan komunikasi dapat menjadi kurang maksimal ketika seseorang memasuki dunia kerja.
Bayangkan seorang mahasiswa memiliki kemampuan analisis yang sangat baik dan memiliki banyak ide untuk menyelesaikan permasalahan perusahaan. Namun, ketika diminta menjelaskan ide tersebut dalam sebuah rapat, ia tidak mampu menyampaikannya dengan baik. Gagasannya menjadi sulit dipahami, bahkan mungkin tidak mendapatkan perhatian dari orang lain.
Di sinilah kemampuan public speaking memiliki peran.
Seseorang yang mampu berkomunikasi dengan baik akan lebih mudah menyampaikan ide, berdiskusi, melakukan negosiasi, memimpin sebuah kelompok, hingga membangun hubungan profesional. Dengan kata lain, kemampuan berbicara menjadi jembatan antara apa yang kita pikirkan dengan apa yang dapat dipahami oleh orang lain.
Masalahnya Bukan Tidak Bisa, tetapi Tidak Terbiasa
Salah satu alasan mahasiswa takut melakukan public speaking adalah karena merasa dirinya tidak memiliki bakat berbicara. Ada anggapan bahwa orang yang pandai berbicara memang sudah memiliki kemampuan tersebut sejak lahir.
Menurut saya, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Public speaking merupakan keterampilan yang dapat dilatih. Orang yang awalnya gugup ketika berbicara di depan kelas dapat menjadi lebih percaya diri setelah sering berlatih. Begitu pula seseorang yang awalnya kesulitan menyusun kata-kata dapat menjadi lebih terstruktur jika terbiasa membaca, berdiskusi, dan berlatih menyampaikan pendapat.
Karena itu, mahasiswa seharusnya tidak menjadikan rasa takut sebagai alasan untuk menghindari kesempatan berbicara.
