Konten dari Pengguna

False Memory: Ketika Ingatan Tidak Sesuai dengan Kenyataan

Uviek Destera

Uviek Destera

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Uviek Destera tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seseorang mengingat sesuatu. Foto: drobotdean - freepik
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seseorang mengingat sesuatu. Foto: drobotdean - freepik

Ingatan/memori memiliki peran yang besar dalam kehidupan kita, memberikan kita pengertian tentang siapa diri kita, apa saja hal–hal yang telah kita lakukan, dan sebagainya. Berkat besarnya peran memori dalam kehidupan ini, terdapat banyak penelitian yang telah mendalaminya.

Di antara banyaknya penelitian tentang memori, terdapat lebih dari 1.000 penelitian yang telah meneliti tentang interferensi memori dan membuktikan bahwa memori seseorang bisa terganggu. Pertama oleh memori lama kita yang menghambat pengambilan memori baru (interferensi proaktif) atau oleh memori baru yang menghambat pengambilan memori lama (interferensi retroaktif).

Memori yang terganggu ini dapat menyebabkan sebuah fenomena bernama false memory atau ingatan palsu, yaitu fenomena ketika kita salah mengingat suatu kejadian. Fenomena ini bisa terjadi pada semua orang, baik muda maupun tua, laki-laki maupun perempuan.

False memory sering terjadi pada ingatan tentang masa kecil. Hal ini disebabkan oleh sebuah bagian pada otak bernama hippocampus yang belum tumbuh sempurna ketika kita masih kecil, sehingga ingatan pada masa itu tidak bisa terekam dengan jelas dan sulit untuk kembali diingat ketika sudah dewasa. Maka dari itu, besar kemungkinan adanya ingatan palsu yang tercampur di dalam ingatan kita.

Munculnya ingatan palsu tentunya bukan tanpa alasan. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan adanya faktor-faktor eksternal yang mendukung terbentuknya ingatan palsu. Contohnya yaitu pengaruh perkataan orang lain.

Ada sebuah penelitian yang khusus meneliti hal ini. Seorang partisipan diwawancara oleh peneliti dan diminta untuk bercerita tentang sebuah kejadian di masa kecilnya. Partisipan diberi waktu beberapa minggu sebelum kemudian diwawancara kembali. Selama menunggu diadakannya wawancara kedua, partisipan diceritakan oleh ibu dan kakaknya tentang sebuah kejadian di masa kecilnya di mana ia tersesat di sebuah mal. Hari demi hari ia merasa ingatannya tentang tersesat di mal ini semakin kuat, sehingga pada interview kedua, detail demi detail ia ceritakan kepada peneliti, dari bagaimana ia diselamatkan oleh seorang laki-laki, hingga bagaimana saat itu ia merasa takut tidak bisa bertemu keluarganya kembali. Betapa kagetnya partisipan ketika mengetahui bahwa ternyata peristiwa tersebut hanyalah karangan semata dan bukan kejadian yang sebenarnya.

Selain ingatan tentang masa kecil, ingatan yang baru pun bisa dipalsukan. Hal ini dibuktikan pada satu penelitian lain, yaitu penelitian oleh Saul M. Kassin yang dilakukan di William College dengan rekan kerjanya. Penelitian ini meneliti bagaimana reaksi partisipan ketika dituduh merusak sebuah komputer karena telah menekan sebuah tombol yang seharusnya tidak ditekan. Awalnya, para partisipan mengelak tuduhan tersebut, namun saat ada seseorang yang berkata bahwa ia menyaksikan langsung kejadian ketika partisipan salah menekan tombol, beberapa partisipan pun mengakui kesalahan yang sebenarnya tidak mereka lakukan. Penelitian ini membuktikan bahwa bukti yang salah pun bisa membuat seseorang mengakui dan meyakini suatu kesalahan yang tidak ia perbuat, serta membentuk sebuah ingatan palsu yang mendukung rasa bersalah itu.

Hasil dari kedua penelitian tersebut dapat membantu kita untuk mengetahui beberapa penyebab terbentuknya ingatan palsu. Pertama, adanya tuntutan kepada individu untuk mengingat sebuah kejadian (contoh, peneliti memerintahkan partisipan untuk menceritakan pengalaman mereka). Kedua, imajinasi seseorang tentang sebuah kejadian juga bisa membantu proses mengingat, baik imajinasi yang didasarkan oleh kejadian asli ataupun palsu. Imajinasi dari kejadian palsu inilah yang nantinya membentuk ingatan palsu.

Ingatan palsu terbentuk dengan menyatukan ingatan asli dengan ingatan hasil pengaruh-pengaruh eksternal tadi. Pada prosesnya, seseorang kadang lupa dari mana sebuah informasi datang, sehingga terbentuklah ingatan palsu tersebut. Berdasarkan penelitian-penelitian di atas, terbukti bahwa memori manusia bisa diganggu dan diubah melalui pengaruh eksternal. Manusia dapat dipengaruhi untuk mengingat masa lalu, bahkan mengingat hal-hal yang sebenarnya tidak pernah terjadi.

REFERENSI

Braisby, N. (2005). Cognitive psychology: A methods companion. Oxford: Oxford University Press in association with the Open University.

Loftus, E. F., & Pickrell, J. E. (1995). The formation of false memories. Psychiatric annals, 25(12), 720-725.

Loftus, E. F. (1997). Creating false memories. Scientific American, 277(3), 70-75.