Orderan Ojol Sepi di Awal Tahun Ajaran Baru? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 1 menit
Tulisan dari Tera Bagus Adining Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Masuk bulan Juli, linimasa media sosial selalu diramaikan oleh keluhan para driver ojek online (ojol) yang sepi orderan. Banyak pengemudi mengeluhkan penurunan omzet yang drastis, padahal jalan justru sedang ramai-ramainya. Anehnya, fenomena "anyep" ini justru terjadi saat anak-anak mulai kembali masuk sekolah.
Kenapa mobilitas jalanan sedang tinggi, tapi orderan ojol malah terjun bebas?
Jawabannya bisa dijelaskan dengan satu prinsip ekonomi dasar dari ekonom Gregory Mankiw: Masyarakat menghadapi trade-off (pertukaran).
Dilema Uang Sekolah vs Kenyamanan
"There ain’t no such thing as a free lunch." Tidak ada yang benar-benar gratis di dunia ini. Untuk mendapatkan sesuatu, ada hal lain yang harus kita korbankan.
Di awal tahun ajaran baru, jutaan rumah tangga dihadapkan pada pengeluaran wajib berskala besar secara mendadak, diantaranya adalah:
Uang pangkal atau uang gedung sekolah.
Seragam baru beserta atributnya.
Buku pelajaran dan alat tulis
Karena pendapatan bulanan orang tua tidak mendadak naik, mereka terpaksa melakukan trade-off. Demi memprioritaskan pendidikan anak yang merupakan kebutuhan primer, sektor kenyamanan yang bersifat sekunder harus dikorbankan.
Korban Pertama: Sektor Jasa Digital
Bagi sebuah keluarga, biaya peluang (opportunity cost) untuk naik ojol di awal semester menjadi terlalu mahal.
Uang Rp20 ribu sampai Rp50 ribu per hari yang biasanya dipakai untuk ongkos layanan penumpang seperti GoRide atau GrabBike, maupun untuk memesan makanan lewat GoFood atau GrabFood, kini dialihkan untuk mengamankan biaya SPP.
Masyarakat pun mengambil pilihan rasional:
Para orang tua rela bangun lebih pagi demi mengantar anak sekolah secara langsung menggunakan sepeda motor pribadi.
Anak-anak mulai diminta beralih ke angkutan umum atau berjalan kaki bersama temannya.
Kesimpulan
Pengetatan ikat pinggang yang dilakukan jutaan rumah tangga secara serentak ini menciptakan guncangan permintaan (demand shock) di jalanan.
Omzet ojol yang menurun di awal semester bukan karena algoritma aplikasi yang rusak atau akun yang gagu, Fenomena ini adalah bukti nyata bahwa "negara kecil" bernama rumah tangga di sekitar kita sedang berjuang memenangkan masa depan anak mereka di meja kasir sekolah.
