Konten dari Pengguna

Sebelum Membangun Ekosistem, Kami Memilih Berjumpa

Ari J  Palawi

Ari J Palawi

Praktisi dan Akademisi Seni, Warga Kota Banda Aceh

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ari J Palawi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selasa malam, 14 Juli 2026, sekitarlima belas orang lebih berkumpul di Halaman JEDA Rafly Kande, Banda Aceh. Mereka datang dari latar belakang yang berbeda: pendidik, pegiat literasi, pekerja hak asasi manusia, musisi, penyair, fotografer, pegiat teater, praktisi teknologi informasi, penggerak komunitas, hingga anak-anak muda yang baru pertama kali mendengar tentang Skate Park Stage (SPS) Revival.

Ruang Perjumpaan #001 di Halaman JEDA Rafly Kande menjadi ruang saling mengenal, berbagi pengalaman, dan merintis kolaborasi sebagai bagian dari ikhtiar SPS Revival dan Darud Dunia.Dok. pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Ruang Perjumpaan #001 di Halaman JEDA Rafly Kande menjadi ruang saling mengenal, berbagi pengalaman, dan merintis kolaborasi sebagai bagian dari ikhtiar SPS Revival dan Darud Dunia.Dok. pribadi.

Tidak ada panggung. Tidak ada moderator. Tidak ada presentasi. Tidak ada sesi materi.

Selama lebih dari tiga jam, forum berjalan sederhana. Setiap orang diberi kesempatan memperkenalkan dirinya, menjelaskan perjalanan hidupnya, bidang yang sedang dikerjakan, sekaligus menyampaikan pandangan mengenai kondisi masyarakat Aceh hari ini.

Pertemuan itu diberi nama Ruang Perjumpaan #001.

Nama tersebut sengaja dipilih karena forum ini memang tidak dirancang sebagai seminar ataupun rapat organisasi. Tujuannya lebih sederhana, yakni: mempertemukan orang-orang yang selama ini bekerja di ruang masing-masing, tetapi belum tentu pernah saling mengenal.

Undangan yang dibagikan via whatsApp beberapa hari sebelumnya bahkan menegaskan hal itu melalui satu kalimat pendek: Before We Roll, We Meet.

Ruang Perjumpaan merupakan bagian dari rangkaian persiapan Skate Park Stage (SPS) Revival dan Darud Dunia yang dalam beberapa bulan terakhir mulai membangun jejaring lintas komunitas, profesi, dan lembaga. Sebelumnya, ikhtiar ini juga telah menjajaki komunikasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh mengenai kemungkinan pengembangan ruang publik berbasis seni, kebudayaan, dan kolaborasi masyarakat.

Pada awal forum, saya mencoba menjelaskan kembali perjalanan gagasan tersebut.

SPS Revival tidak dimulai dari keinginan menyelenggarakan sebuah festival. Gagasan awalnya jauh lebih sederhana, yaitu menghidupkan kembali Skate Park Lamprit sebagai ruang publik yang dapat dipakai bersama oleh lebih banyak kalangan. Dari sana, percakapan berkembang mengenai kemungkinan mempertemukan seni, literasi, pendidikan, olahraga, teknologi, kewirausahaan, hingga investasi sosial dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.

Dalam konteks itulah kemudian muncul Darud Dunia, sebagai ikhtiar yang lebih luas untuk menghubungkan berbagai inisiatif yang selama ini berjalan sendiri-sendiri.

Menariknya, hampir seluruh peserta membawa pengalaman yang berbeda, tetapi persoalan yang mereka sampaikan memiliki banyak irisan.

Diskusi berlangsung terbuka lintas profesi dan generasi. Setiap peserta berbagi pengalaman, gagasan, serta komitmen untuk memperkuat ekosistem kolaborasi yang sedang dirintis bersama. Dok. pribadi.

Pendiri RUMAN Aceh, misalnya, menceritakan bagaimana lembaga yang mereka bangun memilih tetap menjalankan pendidikan nonformal, taman kanak-kanak, dan perpustakaan komunitas tanpa bergantung pada berbagai skema bantuan yang dinilai dapat mengurangi independensi lembaga. Ia menjelaskan bahwa perpustakaan yang semula berisi sekitar dua ribu buku kini telah berkembang menjadi lebih dari dua puluh tiga ribu buku, hampir seluruhnya berasal dari sumbangan masyarakat.

Sistem peminjamannya juga tetap dipertahankan tanpa uang jaminan maupun denda. Siapa pun dapat meminjam hingga lima buku selama satu minggu. Menurutnya, perpustakaan itu dibangun di atas tiga nilai yang terus diupayakan: kejujuran, saling percaya, dan tanggung jawab.

Dari bidang yang berbeda, perwakilan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Aceh yang juga pengurus pengurus PAPPRI Aceh berbagi pengalaman mendampingi penyintas pelanggaran HAM masa lalu melalui pendekatan seni dan musik. Baginya, seni bukan sekadar ekspresi, tetapi juga medium untuk merekam ingatan, menyampaikan pengalaman, dan membuka ruang percakapan yang sering kali sulit dilakukan melalui cara-cara formal.

Sementara itu, terkait PAPPRI Aceh dijelaskan bagaimana organisasi profesi penyanyi, pencipta lagu, dan pemain musik di Aceh dibangun secara swadaya. Mereka melihat pentingnya memperluas ruang kolaborasi agar pekerja seni tidak hanya bertemu ketika ada proyek atau pertunjukan, tetapi juga memiliki ruang belajar dan bertukar pengalaman.

Pengalaman lain datang dari praktisi teknologi informasi yang pernah bekerja bersama UNICEF, Asian Development Bank, serta sektor perbankan. Ia mengingatkan pentingnya membangun sistem yang bertumpu pada kepercayaan, bukan semata-mata pada prosedur administratif. Dalam pandangannya, banyak persoalan sosial tidak selalu membutuhkan struktur baru, tetapi memerlukan cara berpikir baru dalam mengelola hubungan antarmanusia.

Peserta lain mengangkat isu yang berbeda-beda. Seperti, budaya membaca yang semakin lemah, ruang teater yang terbatas, kecenderungan fotografi yang hanya berkembang pada aspek komersial, hingga perlunya ruang-ruang kecil yang memungkinkan seniman, pelajar, dan masyarakat berdiskusi secara rutin tanpa harus menunggu kegiatan besar.

Infografik SPS Revival × Darud Dunia menggambarkan visi, misi, nilai, serta proses membangun ruang perjumpaan, pembelajaran, kolaborasi, dan pewarisan pengetahuan secara berkelanjutan. Hybrid Intelegence designed.

Di antara berbagai pembahasan tersebut, isu regenerasi muncul beberapa kali.

Kehadiran generasi muda pada malam itu memang masih terbatas dibandingkan peserta yang telah lama berkecimpung di bidangnya masing-masing. Kondisi tersebut memunculkan sejumlah pandangan. Ada peserta yang mengaitkannya dengan perubahan pola interaksi akibat dominasi gawai dan media digital. Ada pula yang melihat kecenderungan sebagian anak muda lebih mempertimbangkan manfaat yang langsung terlihat sebelum memutuskan terlibat dalam sebuah kegiatan.

Namun forum tidak berhenti pada penilaian terhadap Generasi Z.

Sebaliknya, percakapan berkembang menjadi refleksi bersama bahwa generasi sebelumnya juga memiliki tanggung jawab menghadirkan ruang belajar, ruang berkarya, serta teladan yang lebih terbuka. Regenerasi tidak cukup hanya diharapkan, tetapi perlu dipersiapkan melalui perjumpaan yang berkelanjutan.

Dalam konteks inilah diperkenalkan gagasan Lingkar Wali Perjumpaan, yaitu jejaring para senior dari berbagai bidang yang bersedia berbagi pengalaman, membuka akses jejaring, dan mendampingi generasi muda tanpa mengambil alih ruang tumbuh mereka.

Forum juga memperkenalkan pembaruan Investment Prospectus SPS Revival × Darud Dunia.

Investment Prospectus SPS Revival × Darud Dunia disusun sebagai living prospectus yang memetakan peluang kolaborasi dan partisipasi berbagai pihak dalam pengembangan ekosistem kreatif Aceh (hybrid Intellegence designed.

Dokumen ini tidak disusun sebagai proposal pendanaan dalam pengertian konvensional. Prospectus tersebut dirancang sebagai dokumen yang terus berkembang mengikuti bertambahnya gagasan, jejaring, serta bentuk partisipasi yang lahir dari masyarakat. Di dalamnya dipetakan berbagai peluang keterlibatan, baik bagi individu, komunitas, dunia usaha, lembaga pendidikan, pemerintah, filantropi, maupun sponsor yang ingin berkontribusi sesuai kapasitas masing-masing.

Dengan pendekatan itu, partisipasi tidak dipahami hanya sebagai dukungan finansial, tetapi juga dapat berupa pengetahuan, pengalaman, karya, jaringan, fasilitas, maupun pendampingan.

Menjelang penutupan, suasana forum berubah ketika Rafly Kande menghadirkan 'semedi musikal'. Melalui petikan gitar, nyanyian, dan pembacaan puisi bersama sejumlah penyair lintas generasi, ia mengingatkan kembali posisi Aceh di kawasan Selat Malaka sebagai wilayah yang sejak lama menjadi titik temu berbagai bangsa, pengetahuan, dan kebudayaan.

Menurutnya, pengalaman sejarah tersebut merupakan modal penting untuk membangun masa depan Aceh yang tetap berakar pada identitasnya, tetapi tidak menutup diri terhadap perkembangan dunia.

Ruang Perjumpaan #001 ditutup dengan kesepakatan sederhana untuk kembali bertemu pada pelaksanaan SPS Revival, Sabtu, 18 Juli 2026, di Skate Park Lamprit.

Melalui semedi musikal, Rafly Kande mengingatkan kembali jejak kosmopolitan Aceh di Selat Malaka sebagai modal sejarah, budaya, dan peradaban untuk menatap masa depan. Dok . pribadi.

Kehadiran SPS Revival pada momentum tersebut tidak dimaksudkan mengambil alih agenda Kardo National Stage Qualifier 2026 yang telah lama dipersiapkan komunitas skateboard Aceh. Sebaliknya, SPS Revival memilih memulai langkahnya dengan melapisi ruang yang telah lebih dahulu mereka hidupkan melalui tambahan aktivitas seni, literasi, dialog publik, dan kolaborasi lintas komunitas.

Pendekatan itu dipilih karena membangun ekosistem tidak selalu berarti menghadirkan ruang baru. Dalam banyak keadaan, langkah yang lebih mungkin dilakukan adalah memperkuat ruang yang sudah ada, mempertemukan orang-orang yang selama ini bekerja sendiri-sendiri, lalu memberi waktu agar kolaborasi berkembang secara bertahap.

Ruang Perjumpaan hanyalah satu malam. Namun bagi saya, malam itu menunjukkan bahwa masih banyak orang di Aceh yang bersedia berbagi pengalaman, membuka jejaring, dan bekerja bersama. Tantangannya bukan lagi mencari orang-orang tersebut, melainkan menjaga agar ruang perjumpaan seperti ini terus berlangsung, konsisten, dan memberi kesempatan bagi semakin banyak generasi untuk ikut mengambil bagian.