Konten dari Pengguna

Meuseuraya: Ketika Jalan Raya Ikut Menjadi Penonton

Ari J  Palawi

Ari J Palawi

Praktisi dan Akademisi Seni, Warga Kota Banda Aceh

·waktu baca 7 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ari J Palawi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika lampu merah menyala di Jalan T. Nyak Arief, beberapa pengendara membuka kaca mobil. Mereka menoleh ke arah arena skateboard di kawasan Lampriet, Banda Aceh. Dari sana terdengar biola, gitar, perkusi, puisi, dan suara orang bernyanyi. Mereka tidak datang karena undangan, tidak membeli tiket, dan sebagian mungkin bahkan tidak tahu apa yang sedang berlangsung. Mereka hanya sedang berhenti di lampu merah. Sore itu, jalan raya ikut menjadi penonton SPS Revival.

Saya bersama host Taufik Maroe menyiapkan SPS Revival Vol. 12. Di belakang kami Jalan T. Nyak Arief, sementara panggung berbagi berada tepat di hadapan kami. Dok. pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Saya bersama host Taufik Maroe menyiapkan SPS Revival Vol. 12. Di belakang kami Jalan T. Nyak Arief, sementara panggung berbagi berada tepat di hadapan kami. Dok. pribadi.

Beberapa jam sebelumnya, saya sendiri belum tahu sore itu akan berakhir seperti apa. Sekitar pukul 15.30 WIB, Sabtu, 8 Agustus 2026, Avi, *soundman* D'Blue Studio, menelepon dan mengatakan bahwa ia sudah berada di lokasi untuk menata *sound system*. Ia menanyakan posisi yang akan digunakan. Kebetulan, sejak dua malam sebelumnya saya memang sudah memikirkan perubahan posisi panggung. Tiga pertemuan sebelumnya, SPS Revival berada di sisi kanan, berseberangan dengan Jalan T. Nyak Arief. Kali ini saya ingin mencoba posisi di bagian belakang-tengah arena, menghadap langsung ke jalan utama.

Saya kemudian meminta persetujuan Reza, koordinator skater Kota Banda Aceh. Pertimbangannya sederhana: kami ingin mengubah posisi panggung tanpa membuat teman-teman skater kehilangan ruang latihan. Reza setuju dan para skater juga tidak keberatan. Perubahan itu kemudian saya sampaikan kepada jamaah SPS Revival melalui grup WhatsApp yang saat itu beranggotakan sekitar 148 orang. Tidak ada persoalan. Arena skateboard tetap digunakan untuk berlatih, sementara bagian lainnya perlahan berubah menjadi tempat orang bertemu, belajar, memainkan musik, membaca puisi, dan berbagi karya.

Flyer SPS Revival vol.12. Designing with hybrid intelligence.

SPS Revival Vol. 12 memang membawa tema Meuseuraya, yang kira-kira berarti bekerja dan berkarya bersama. Tema itu sebenarnya sudah dirumuskan sebelum kegiatan berlangsung. Tetapi maknanya baru terasa ketika berbagai hal mulai terjadi di lapangan. Tidak ada satu orang yang mengendalikan seluruh kejadian sore itu. Ada yang datang membawa karya, ada yang membawa alat musik, ada yang sekadar ingin bertemu, dan ada pula yang tiba-tiba mendapat kesempatan untuk tampil. Ruang publik tersebut seperti memberi kesempatan kepada siapa saja yang hadir untuk mengambil bagian.

Taufik Maroe, penyiar radio senior yang pernah dikenal melalui Flamboyant dan Kontiki Banda Aceh, menjadi "host". Ketika ia mempersilakan saya membuka sesi, saya melihat rombongan besar remaja Madrasah Aliyah Dayah Ruhul Islam Anak Bangsa. Mereka datang bersama guru-guru dan membawa dua karya musikalisasi puisi, Alam Teluk dan Tarian Sunyi. Mereka tidak datang sekadar untuk menonton. Mereka datang membawa sesuatu yang sudah mereka kerjakan dan ingin mereka bagikan kepada masyarakat.

Siswa Madrasah Aliyah Dayah Ruhul Islam Anak Bangsa membawakan dua karya musikalisasi puisi di SPS Revival Vol. 12. Dok. pribadi.

Di balik penampilan beberapa menit itu ada proses yang jauh lebih panjang. Guru pengasuh mereka, Firmansyah, turut tampil bersama para siswa. Cut Masyitah, "coach" profesional, telah membersamai mereka berlatih selama berbulan-bulan. Yang terlihat di panggung hanyalah hasil akhir dari latihan, pengulangan, koreksi, rasa gugup, dan proses membangun kekompakan. Bagi saya, bagian ini justru penting untuk dilihat. Seorang remaja yang berlatih sampai mampu membawa karya ke ruang publik sedang belajar lebih banyak daripada sekadar bagaimana tampil di depan orang.

Saya kemudian menawarkan sesuatu kepada warga Banda Aceh. “Yang mau belajar gitar klasik, "japri",” kata saya. “Bayarnya dengan disiplin dan latihan. Syaratnya punya gitar klasik standar.” Saya tidak sedang menawarkan kursus berbayar. Saya sedang mencari kawan belajar, sekaligus ingin menemukan metode yang lebih baik untuk belajar musik dan ekspresi bunyi melalui gitar klasik dalam konteks sekarang. Saya sendiri sedang kembali berlatih setelah cukup lama tidak menjalani latihan dengan intensitas seperti dulu. Karena itu saya membawa gitar, footstool, dan buku partitur ke area panggung.

Gitar klasik dan partitur dibawa ke ruang publik sebagai bagian dari ajakan belajar musik dengan disiplin dan latihan. Dok. pribadi.

Saya kemudian menunjukkan beberapa tahapan yang perlu dilewati seorang pembelajar: teknik fingering, artikulasi, lalu interpretasi. Belajar gitar bukan sekadar membuat jari sampai ke senar yang benar. Ada cara sebuah nada dibunyikan, bagaimana kalimat musik dibentuk, serta bagaimana pemain memahami konteks budaya dan sejarah yang melekat pada sebuah karya. Saya ingin belajar bersama mereka. Mereka berlatih, saya juga berlatih. Barangkali itulah cara paling jujur untuk mengajak orang belajar: tidak berdiri sebagai orang yang sudah selesai, tetapi ikut masuk kembali ke proses belajar.

Setelah itu, kejutan lain muncul. Nurul Laila Mutia, yang dikenal sebagai CutAnda_Laila, mengajak Maimunzir atau Bang Gaes tampil bersama. Mereka membawakan sajak Salam Damai karya Fikar W. Eda, dengan Maimunzir mengiringi melalui gitar dan nyanyian. Mereka sebenarnya bukan orang baru satu sama lain. Ketika masih SMP dan SMA, keduanya pernah tergabung dalam Sanggar Cuek. Sudah lama tidak bermain bersama. Maimunzir kebetulan sedang berada di Banda Aceh, Laila mengajaknya tampil, dan akhirnya mereka bermain tanpa persiapan khusus.

CutAnda_Laila dan Maimunzir kembali tampil bersama setelah lama tidak bermain, membawakan “Salam Damai” secara spontan. Dok. pribadi.

Belum selesai suasana itu, Tuanku Muhammad Radiyan Syukrillah Narukaya mengambil biola. Dua minggu sebelumnya ia sudah berpesan kepada saya, “Bang, kalau ada biola yang bisa dipinjam, bawa ya. Biolaku di rumah Jakarta.” Biola pinjaman itu akhirnya sampai di arena skateboard. Radiyan kemudian memainkan Méditation dari opera "Thaïs" karya Jules Massenet, karya terkenal untuk biola solo dan orkestra.

Permainan Radiyan menurut saya luar biasa. Ia sendiri mengakui masih banyak kekurangan karena sudah lama tidak berlatih. Saya memahami perasaan itu karena saya sendiri sedang mengalaminya dengan gitar. Tetapi dari karakter gesekan dan kestabilan *fingering*-nya, fondasi latihan panjang masih terlihat. Ia memang pernah menjalani pembelajaran biola secara serius hingga Grade 8. Seorang penonton kemudian berteriak, “Kami juga enggak tahu kalau ada yang salah!” Kami tertawa. Radiyan sendiri mengaku tadi masih ada bagian yang salah. Saya ikut menimpali bahwa bagi orang yang belajar musik klasik, kesalahan kecil kadang terasa sangat besar. Penonton mungkin tidak mendengarnya, tetapi pemainnya tahu. Saya bercanda, rasanya seperti dipukuli orang sekampung.

Tuanku Muhammad Radiyan Syukrillah Narukaya memainkan “Méditation” karya Jules Massenet dengan biola pinjaman. Dok. pribadi.

Dari percakapan itu kemudian muncul pembicaraan tentang disiplin belajar musik klasik. Ada mentalitas tertentu yang terbentuk ketika seseorang bertahun-tahun berhadapan dengan teknik, partitur, latihan berulang, dan standar permainan yang tidak mudah ditawar. Semakin lama belajar, seseorang justru semakin sadar bahwa dirinya belum selesai. Penonton mendengar musik, sementara pemain mendengar musik sekaligus kemungkinan kesalahannya. Radiyan sendiri punya mimpi agar suatu hari Aceh memiliki orkestra simfoni sendiri. Mungkin masih jauh, tetapi mimpi semacam itu bisa dimulai dari sesuatu yang sederhana: sebuah biola pinjaman, seseorang yang mau kembali berlatih, dan sebuah ruang yang bersedia memberi tempat.

Tidak lama kemudian, Mas Kun tampil. Ia berasal dari Yogyakarta dan dikenal sebagai folksinger serta pencipta lagu. Dua karyanya dibagikan secara spontan. Sandy Islamanda mengisi perkusi dan Radiyan kembali dengan biolanya. Suasananya berubah lagi. Petikan gitar folk membawa cerita tentang kehidupan sosial sekaligus pengingat terhadap nilai-nilai kesejarahan Aceh. Tidak ada upaya untuk membuat semua penampilan berada dalam satu genre. Puisi musikal remaja, gitar klasik, musik klasik, folk, resitasi puisi, dan perkusi bertemu begitu saja karena orang-orangnya berada di tempat yang sama.

Mas Kun berbagi karya bersama Sandy Islamanda dan Radiyan, mempertemukan gitar folk, perkusi, dan biola. Dok. pribadi.

Kemudian Amris Albayan datang. Ia baru kembali ke Aceh setelah menyelesaikan program doktor seni di ISI Solo. Ia mengajak Deddy Mulia, perkusionis Seuramoe Reagee dan Band Ranup, serta Sandy Islamanda. Amris memainkan biola, Deddy bernyanyi sambil bermain gitar, dan saya ikut bernyanyi. Deddy memulai dengan Untuk Yani karya Iwan Fals. Saya terpancing dan kemudian ikut Bongkar.Kami hanya sedang bermain. Waktunya memang sedikit overtime, tetapi syukurlah semuanya selesai sebelum pembacaan ayat suci Al-Qur'an menjelang azan Magrib terdengar dari Masjid Oman.

Saat itu saya kembali melihat ke seberang jalan. Ketika lampu merah menyala, beberapa pengendara membuka kaca mobil. Mereka menonton dari dalam kendaraan. Ada yang mungkin hanya beberapa detik, ada yang lebih lama. Panggung tersebut ternyata tidak hanya menghadap orang-orang yang sengaja datang ke SPS Revival. Ia menghadap kota. Dan kota sesekali menoleh.

Secara administratif, tidak semua yang terjadi sore itu tercatat dalam formulir Kesekretariatan Bersama yang kami sebut Meunasah SPS Revival. Tiga sesi awal memang sudah terdaftar. Agenda SPS Revival Vol. 13 juga sudah disiapkan, termasuk pertunjukan mahasiswa perantau Papua di Aceh. Tetapi seperti kelakar Taufik Maroe, “Bukan SPS namanya kalau tidak ada spontanitas dan kejutan.” Saya kira ia benar. Formulir diperlukan, jadwal diperlukan, koordinasi diperlukan. Tetapi tidak semua yang penting dalam sebuah perjumpaan bisa ditulis sebelum perjumpaan itu terjadi.

Update Meunasah SPS Revival: sekretariat bersama yang menopang administrasi, koordinasi, dokumentasi, komunikasi, dan layanan jejaring untuk menghidupkan ekosistem kreatif Aceh. Designing with hybrid intelligence.

Sore itu dimulai dari sebuah telepon tentang posisi sound system. Posisi panggung berubah. Skater tetap berlatih. Remaja datang membawa karya. Guru berdiri bersama siswanya. "Coach" membawa proses latihan berbulan-bulan ke panggung. Seorang pemain gitar membuka kesempatan belajar. Dua kawan lama kembali bermain. Biola pinjaman mengalunkan Massenet. Musisi folk membawa cerita sosial dan sejarah Aceh. Seorang doktor seni yang baru pulang bertemu kembali dengan kawan-kawan musiknya. Dan pengendara yang berhenti di lampu merah ikut menjadi penonton.

Tidak semuanya direncanakan. Tetapi semuanya terjadi karena orang-orang hadir dan bersedia mengambil bagian.

SPS Revival Vol. 12 akhirnya selesai. Meuseuraya juga selesai. Dan orang-orang mulai berkemas.

Usai pertunjukan, para kontributor karya kreatif dan warga kembali berbaur. Di ruang publik itu, tidak ada lagi batas yang tegas antara siapa yang tampil, siapa yang menyaksikan, dan siapa yang ikut bekerja.

Sore itu kami tidak hanya berbagi panggung.

Kami berbagi ruang dengan kota.