Belajar Menjadi Kota Kreatif

Praktisi dan Akademisi Seni, Warga Kota Banda Aceh
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ari J Palawi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setiap kota memiliki sekolah. Banyak kota memiliki kampus. Sebagian membangun gedung pertunjukan, galeri, atau taman budaya. Infrastruktur itu menyediakan tempat. Kota kreatif lahir ketika orang saling membuka pengetahuan, berbagi pengalaman, dan membangun kepercayaan melalui perjumpaan yang terus berlangsung.

Saya menyaksikan proses itu pada Sabtu sore di Arena Skate Lamprit, Banda Aceh.
Persiapan berlangsung di setiap sudut arena. Seorang santri berdiri di depan perangkat sound system. Ia memperhatikan operator menghubungkan kabel, mengatur suara, lalu mengajukan beberapa pertanyaan. Gurunya menyempurnakan rias wajah pemain monolog dengan beberapa garis tipis. Sebuah kamera dokumentasi berpindah dari satu tangan ke tangan lain karena memancing rasa ingin tahu. Di sisi arena, para skater tetap berlatih. Bunyi roda papan seluncur menyatu dengan pengecekan mikrofon. Mereka tetap menikmati ruangnya, sekaligus memberi ruang bagi kegiatan yang berlangsung sore itu. Arena Skate Lamprit menunjukkan fungsi sebuah ruang publik: banyak aktivitas hidup berdampingan tanpa saling menyingkirkan.
SPS Revival Vol. 11 tumbuh dari suasana itu.
Di tengah persiapan, seorang santri berkata kepada saya, "Kami latihan terus selama ini di pesantren, Pak. Waktu Pak Guru Firmansyah mengajak tampil di sini, kami senang sekali. Ada panggung untuk kami."
Kalimat itu langsung menjelaskan persoalan yang lebih besar. Banda Aceh memiliki banyak anak muda yang berlatih dengan serius di sekolah, pesantren, kampus, dan sanggar. Mereka memerlukan ruang untuk menguji hasil latihan, bertemu publik, berdialog dengan praktisi, dan belajar dari pengalaman yang tidak mereka temukan di ruang kelas.
Monolog Mumtaz, remaja Madasah Aliyah Dayah Ruhul Islam Anak Bangsa, berjudul AENG/ALIMIN, membuktikan kualitas latihan itu. Selama sekitar dua puluh lima menit, tokoh Alimin menghidupkan pergulatan seorang narapidana yang menunggu eksekusi mati. Bangku sederhana berubah menjadi bagian dari dramatika. Gerak tubuh, intonasi, tempo, dan ekspresi berpadu dengan meyakinkan. Tepuk tangan panjang yang menutup pertunjukan menjadi penghargaan atas disiplin yang mereka bangun selama berlatih.
Pembelajaran berlanjut setelah pertunjukan usai. Para santri mengelilingi perangkat suara. Mereka bertanya kepada Bang Said tentang tata suara, mikrofon, dan sistem audio. Mereka mengamati kamera dokumentasi sambil melontarkan berbagai pertanyaan. Guru pendamping berbincang dengan peserta lain. Pengetahuan berpindah melalui percakapan sederhana, pengamatan, dan rasa ingin tahu.
Lingkar pertemuan terus meluas. Anak-anak bermain di sekitar arena. Balita hadir bersama orang tua yang ikut menggerakkan SPS Revival. Pelajar, mahasiswa, seniman senior, musisi, skater, pekerja kreatif, hingga warga yang semula hanya melintas berkumpul dalam ruang yang sama. Sebagian tampil. Sebagian berbagi pengalaman. Sebagian memilih mendengar. Semua memiliki tempat.
Semangat itu berlanjut ketika Azhari, putra muda pembuat rapa'i dari Aceh Utara, bergabung dalam sesi berbagi. Ia datang ke Banda Aceh untuk membantu perawatan sejumlah rapa'i. Jejaring SPS Revival menghubungkannya dengan forum itu. Dipandu Taufik Maru, Azhari mengajak hadirin memahami rapa'i dari sudut pandang seorang perajin. Ia bercerita tentang memilih kayu, memasang kulit, belajar kepada para guru, hingga tantangan regenerasi pembuat rapa'i. Percakapan itu mengingatkan bahwa keberlanjutan kesenian bergantung pada seluruh mata rantai yang membentuknya, termasuk para pembuat instrumen yang jarang tampil di atas panggung.
Menjelang sore berakhir, Galuh mengambil saksofon. Yanis memainkan cajón. Coach Sandi Islamanda mulai bersenandung. Saya merespons dengan gitar. Bungong Jeumpa menjadi titik awal improvisasi yang tumbuh dari saling mendengar. Musik lahir tanpa aba-aba. Setiap bunyi memancing bunyi berikutnya. Setiap pemain memberi ruang kepada pemain lain.
Tema MEUTALOE—Menautkan Karya, Merawat Perjumpaan hadir sebagai pengalaman yang nyata. Guru mempertemukan murid dengan publik. Operator suara membuka pengetahuan teknis. Perajin membagikan pengalaman. Musisi membangun dialog melalui bunyi. Skater berbagi ruang. Warga ikut masuk ke dalam percakapan. Perjumpaan berubah menjadi proses belajar bersama.
Banda Aceh memiliki talenta, komunitas, dan semangat berkarya. Kota ini memerlukan lebih banyak ruang yang terbuka, mudah diakses, dan mengundang siapa saja untuk terlibat. Ruang yang tidak membatasi orang dengan status, biaya, atau seremonial yang berlebihan. Ruang yang tidak bergantung pada transaksi sebagai alasan utama orang berkumpul. Orang cukup datang membawa karya, pengalaman, pertanyaan, atau sekadar rasa ingin tahu. Dari ruang seperti itulah jejaring tumbuh, regenerasi berlangsung, dan ekosistem kreatif menguat dari bawah.
Arena Skate Lamprit memperlihatkan arah itu. SPS Revival berjalan melalui gotong royong, partisipasi sukarela, dan kepercayaan antarkomunitas. Setiap pertemuan memperluas jejaring, memperkaya pengalaman, dan membuka peluang kolaborasi baru. Kota kreatif tidak lahir dari satu festival atau satu gedung. Kota kreatif tumbuh ketika warganya membiasakan diri belajar bersama.
