Dari Daulat Pengetahuan ke Kerja Bersama

Senior Lecturer, Universitas Syiah Kuala
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ari J Palawi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seni, Universitas, dan Tanggung Jawab yang Tidak Bisa Diwakilkan
Setiap kali masa depan universitas dibicarakan, yang pertama kali muncul biasanya adalah angka: akreditasi, peringkat, indeks kinerja, jumlah publikasi, dan capaian administratif lainnya. Semua itu memang penting dalam tata kelola modern. Namun ada sesuatu yang lebih mendasar yang sering luput: bagaimana universitas membentuk cara masyarakat memahami dirinya sendiri, sejarahnya, dan arah masa depannya.
Di titik itulah pertanyaan tentang seni menjadi tidak bisa diabaikan.
Dalam tulisan sebelumnya, saya mempertanyakan posisi seni di universitas. Apakah ia sungguh diperlakukan sebagai pengetahuan yang setara? Ataukah masih menjadi pelengkap kegiatan akademik—hadir saat seremoni, tetapi jarang dilibatkan dalam percakapan serius tentang arah keilmuan dan pembangunan masyarakat?
Pertanyaan ini bukan soal gengsi disiplin. Ia menyentuh hal yang lebih dalam: bagaimana kita mendefinisikan pengetahuan, dan siapa yang memiliki otoritas untuk mengakuinya. Jika seni benar kita tempatkan sebagai pengetahuan, maka pekerjaan kita belum selesai pada pengakuan. Pekerjaan berikutnya adalah memastikan bahwa ia memiliki ruang hidup, ruang tumbuh, dan ruang berkontribusi.
Seni sebagai Cara Memahami Dunia
Seni bekerja dengan cara yang tidak selalu linear. Ia tidak bergerak dari premis ke kesimpulan seperti logika formal, tetapi melalui pengalaman, kepekaan, dan proses yang sering kali panjang dan berulang. Dalam latihan yang konsisten, dalam dialog dengan tradisi, dalam respons terhadap perubahan sosial, seorang seniman membangun pengetahuan yang melekat pada tubuh, ingatan, dan intuisi yang terlatih.
Pengetahuan seperti ini tidak selalu dapat diringkas dalam definisi yang kaku. Namun ia nyata. Ia memengaruhi cara seseorang membaca situasi, merasakan ketegangan sosial, dan menerjemahkan pengalaman kolektif ke dalam bentuk yang dapat dibagikan kepada publik.
Di Aceh, misalnya, banyak praktik budaya lahir dari pergulatan sejarah dan pengalaman sosial yang kompleks. Seni pertunjukan, musik, dan narasi lisan tidak sekadar hiburan; ia menjadi medium masyarakat memahami dirinya—antara agama, adat, modernitas, dan ingatan kolektif. Dalam konteks seperti ini, seni bukan tambahan bagi kehidupan sosial. Ia adalah cara masyarakat mengolah makna.
Karena itu, ketika seni hadir di universitas, yang dipertaruhkan bukan sekadar apakah ia masuk kurikulum, melainkan apakah cara memahami dunia yang dibawanya diakui sebagai bagian sah dari proses ilmiah. Universitas yang mengabaikan dimensi ini berisiko menyempitkan definisi pengetahuan hanya pada apa yang mudah diukur dan dibakukan.
Ekosistem, Bukan Sekadar Peristiwa
Sering kali kita terjebak pada logika peristiwa. Festival digelar, seminar diadakan, laporan disusun, lalu semua kembali ke rutinitas semula. Peristiwa memang penting sebagai momentum, tetapi pengetahuan tidak tumbuh dari momentum semata. Ia tumbuh dari kebiasaan dan kesinambungan.
Ekosistem pengetahuan berarti adanya ruang yang terus-menerus hidup: diskusi yang tidak hanya formal tetapi juga reflektif; dokumentasi karya yang dilakukan dengan serius sehingga dapat menjadi rujukan; keberanian menulis meski belum sempurna; serta keterbukaan menerima kritik dan pembacaan ulang.
Dalam konteks universitas dan komunitas di Aceh, ekosistem ini dapat berbentuk pertemuan rutin lintas generasi, kolaborasi antara dosen dan pegiat budaya, serta publikasi yang dapat diakses masyarakat luas, bukan hanya kalangan terbatas. Dengan cara ini, seni tidak berhenti pada hasil akhir berupa pertunjukan, tetapi juga menjadi sumber wacana dan refleksi yang terus berkembang.
Infrastruktur pengetahuan tidak selalu identik dengan proyek besar. Ia lebih sering hadir dalam konsistensi kecil yang dijaga bersama. Tanpa ekosistem seperti ini, seni akan selalu tampak aktif di permukaan, tetapi miskin kedalaman dalam jangka panjang.
Menata Ulang Relasi dan Ukuran Keberhasilan
Universitas dan komunitas sering diposisikan dalam relasi yang tidak seimbang. Kampus dianggap pusat teori, komunitas dianggap sumber praktik. Pola ini perlu ditata ulang. Komunitas menyimpan pengalaman, konteks, dan dinamika sosial yang kaya. Universitas memiliki kapasitas untuk membantu mengartikulasikan pengalaman tersebut dalam kerangka yang lebih sistematis dan dapat dibagikan lebih luas.
Relasi yang sehat bukanlah relasi menggurui, melainkan saling memperkaya. Dalam konteks Aceh, di mana sejarah dan identitas memiliki bobot yang kuat, dialog antara kampus dan komunitas menjadi sangat penting agar produksi pengetahuan tidak terlepas dari realitas sosialnya.
Pada saat yang sama, kita perlu mengubah cara mengukur keberhasilan. Jumlah kegiatan dan penghargaan memang memberi gambaran capaian administratif, tetapi belum tentu menunjukkan kedalaman dampak. Pertanyaan yang lebih relevan adalah: apakah praktik seni memperluas cara masyarakat memahami dirinya? Apakah ia membuka ruang dialog yang jujur? Apakah ia memberi generasi muda rasa percaya diri terhadap kebudayaannya sendiri?
Ukuran-ukuran seperti ini tidak selalu bisa dihitung secara cepat, tetapi justru menentukan kualitas jangka panjang. Daulat pengetahuan akan bermakna ketika ia terlihat dalam perubahan cara berpikir dan bertindak masyarakat, bukan hanya dalam laporan tahunan.
Kerja Kecil, Dampak Jangka Panjang
Gagasan tentang seni sebagai pengetahuan bukan urusan kampus semata. Ia menyentuh berbagai sektor. Dalam pendidikan dasar dan menengah, seni membantu membentuk kepekaan dan imajinasi. Dalam kebijakan publik, seni menjadi bagian dari pembangunan karakter dan identitas daerah. Dalam ekonomi kreatif, karya yang berakar pada pengetahuan lokal memiliki daya tahan yang lebih kuat dibanding produk yang hanya mengikuti tren global.
Bagi komunitas budaya, pengakuan terhadap dimensi pengetahuan dalam praktik seni memperkuat posisi tawar mereka. Bagi masyarakat luas, seni menyediakan ruang untuk memahami perubahan sosial secara lebih manusiawi.
Namun semua itu tidak akan terwujud jika kita menunggu kebijakan besar. Perubahan sering kali dimulai dari langkah sederhana: kelompok kecil yang konsisten berdiskusi, karya yang didokumentasikan dengan baik, tulisan yang dibagikan secara terbuka, serta kolaborasi yang dijaga tanpa terlalu banyak formalitas.
Ketika praktik-praktik kecil ini hidup dan berkelanjutan, ia membentuk arus yang sulit diabaikan. Institusi biasanya menyusul setelah melihat bahwa sesuatu benar-benar tumbuh. Di situlah kerja bersama menemukan maknanya.
Di Titik Ini, Kita Menentukan Arah
Universitas seharusnya bukan hanya tempat memproduksi gelar, melainkan ruang merawat horizon berpikir masyarakat. Jika seni sungguh kita akui sebagai pengetahuan, maka kita harus bersedia menyediakan kondisi yang memungkinkannya berakar dan berkembang.
Daulat pengetahuan bukan sekadar istilah. Ia adalah komitmen untuk merawat keberagaman cara mengetahui—ilmiah, sosial, dan artistik—dalam satu ekosistem yang saling menguatkan. Ia menuntut keberanian untuk tidak hanya mengikuti ukuran yang sudah ada, tetapi juga membangun ukuran yang lebih sesuai dengan konteks dan kebutuhan kita.
Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana namun menentukan: apakah kita bersedia bekerja bersama, melampaui batas sektor dan kepentingan jangka pendek, demi membangun fondasi pengetahuan yang lebih berakar dan bermakna?
Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan arah universitas—dan kebudayaan kita—ke depan.
