Dari Rocky Gerung hingga Brian Yuliarto: Membangun Imperium Pengetahuan dari Peradaban Sendiri

Praktisi dan Akademisi Seni, Universitas Syiah Kuala
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ari J Palawi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Perdebatan tentang pendidikan Indonesia sering berhenti pada persoalan kurikulum, metode belajar, atau kesiapan lulusan menghadapi dunia kerja. Walau sesungguhnya, ada pertanyaan yang lebih mendasar, yakni: apakah pendidikan tinggi Indonesia telah mampu membangun manusia dan institusi yang menghasilkan pengetahuan baru?

Pertanyaan itu kembali muncul ketika Rocky Gerung (2025) mengkritik kecenderungan pendidikan yang terlalu berorientasi pada hafalan. Kritik tersebut bukan hanya tentang cara belajar, tetapi menyentuh tujuan pendidikan itu sendiri. Pendidikan seharusnya tidak berhenti pada kemampuan mengingat informasi, melainkan membangun manusia yang mampu berpikir, mempertanyakan, dan menciptakan gagasan.
Namun, pemikir tidak lahir hanya karena metode pembelajaran berubah. Pemikir tumbuh dalam ekosistem yang menyediakan ruang dialog, kebebasan akademik, budaya riset, dan keberanian menguji gagasan.
Karena itu, tantangan pendidikan tinggi Indonesia bukan hanya mencetak lulusan yang kompeten, tetapi membangun universitas yang memungkinkan lahirnya pengetahuan baru.
Dari Transfer Ilmu Menuju Produksi Pengetahuan
Percakapan tentang pendidikan, riset, dan masa depan perguruan tinggi yang berkembang dalam diskusi Bagus Muljadi bersama Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto (2026) memperlihatkan persoalan penting: Indonesia membutuhkan penguatan budaya riset.
Bangsa yang maju tidak hanya ditentukan oleh jumlah perguruan tinggi atau banyaknya lulusan. Kekuatan bangsa juga ditentukan oleh kemampuannya menghasilkan pengetahuan yang mampu menjawab persoalan zaman.
Riset tidak boleh dipahami hanya sebagai kewajiban akademik atau target administratif. Riset adalah cara sebuah bangsa memahami dirinya sendiri, membaca perubahan, dan menemukan jalan keluar atas persoalan yang dihadapi.
Universitas perlu bergerak dari sekadar tempat transfer ilmu menuju ruang produksi pengetahuan. Dosen tidak hanya menyampaikan pengetahuan yang telah tersedia, tetapi memperluas batas ilmu. Mahasiswa tidak hanya dipersiapkan sebagai pengguna pengetahuan, tetapi sebagai generasi yang mampu menghasilkan gagasan.
Inilah tantangan transformasi pendidikan tinggi: membangun budaya akademik yang membuat universitas hidup sebagai pusat pemikiran.
Indonesia: Negara Muda dengan Peradaban Tua
Transformasi pendidikan tinggi tidak dapat dilepaskan dari pertanyaan penting lainnya: dari mana pengetahuan Indonesia dibangun?
Indonesia adalah negara modern yang relatif muda, tetapi memiliki akar peradaban yang panjang. Masyarakat Nusantara telah menghasilkan pengetahuan melalui bahasa, seni, tradisi, sistem sosial, teknologi lokal, dan hubungan manusia dengan alam.
Sayangnya, pengetahuan tersebut sering belum ditempatkan sebagai bagian dari kekuatan intelektual bangsa.
Kebudayaan masih sering dipahami sebagai sesuatu yang harus dilestarikan, dipertunjukkan, atau dijadikan simbol identitas. Padahal kebudayaan adalah hasil pengalaman panjang manusia dalam memahami kehidupan.
Seni, tradisi, dan praktik sosial menyimpan pengetahuan tentang manusia, lingkungan, solidaritas, serta cara masyarakat menghadapi perubahan.
Dalam konteks ini, gagasan tentang negara muda dengan peradaban tua menjadi penting. Indonesia tidak cukup hanya menjadi pengguna pengetahuan yang diproduksi oleh bangsa lain. Indonesia perlu mengembangkan kemampuan untuk mengolah pengalaman peradabannya sendiri menjadi sumber ilmu yang dapat memberi kontribusi bagi dunia.
Kebudayaan sebagai Sumber Pengetahuan
Cara pandang terhadap kebudayaan perlu diperluas. Kebudayaan bukan hanya urusan pelestarian, tetapi bagian dari pembangunan pengetahuan.
Tradisi Saman, misalnya, tidak hanya dapat dilihat sebagai pertunjukan seni. Di dalamnya terdapat pengetahuan tentang kerja kolektif, disiplin sosial, pendidikan nilai, hubungan tubuh dan suara, serta cara sebuah komunitas membangun identitas bersama.
Begitu pula berbagai praktik masyarakat dalam mengelola ruang hidup. Pengetahuan lokal tentang lingkungan bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi dapat menjadi sumber pembelajaran dalam menghadapi tantangan ekologis saat ini.
Perspektif ini juga memperluas pemahaman tentang riset. Pengetahuan tidak selalu lahir hanya dari laboratorium atau ruang akademik. Fotografi, film, seni pertunjukan, dan dokumentasi budaya juga dapat menjadi cara memahami perubahan masyarakat.
Seniman, komunitas, dan masyarakat bukan hanya objek kajian. Mereka adalah mitra intelektual dalam membangun pengetahuan.
Daerah sebagai Sumber Pengetahuan Nasional
Selama ini banyak daerah masih diposisikan sebagai objek penelitian. Masyarakat diamati, budaya dicatat, dan pengalaman lokal didokumentasikan. Pendekatan tersebut penting, tetapi perlu berkembang menuju hubungan yang lebih setara.
Daerah harus dipandang sebagai sumber pengetahuan nasional.
Pengalaman Aceh menunjukkan hal tersebut. Kekayaan budaya, sejarah, dan ruang hidup masyarakat Aceh tidak hanya memiliki arti lokal, tetapi juga menawarkan pengetahuan yang relevan bagi Indonesia.
Saman, hikayat, arsitektur, sejarah sosial, serta hubungan masyarakat dengan lingkungan merupakan bagian dari pengetahuan yang hidup.
Banda Aceh juga dapat dilihat lebih luas. Kota ini bukan hanya memiliki sejarah panjang tentang konflik dan bencana, tetapi juga pengalaman tentang perdamaian, kebudayaan, pendidikan, dan transformasi sosial.
Hal ini menunjukkan bahwa sumber pengetahuan Indonesia tidak hanya berada di pusat-pusat akademik. Pengetahuan tumbuh di berbagai ruang kehidupan.
Membangun Imperium Pengetahuan
Karena itu, masa depan pendidikan tinggi Indonesia tidak cukup dijawab melalui perubahan struktur kelembagaan semata. Yang lebih penting adalah membangun ekosistem pengetahuan.
Ekosistem tersebut membutuhkan hubungan terbuka antara universitas, masyarakat, pemerintah, komunitas, seniman, dan berbagai kelompok sosial.
Berbagai ruang budaya dan komunitas menunjukkan bahwa pengetahuan dapat tumbuh melalui perjumpaan. Walau dalam tantangan kehidupan yang tidak stabil, mereka memperlihatkan bagaimana seni, pendidikan, riset, lingkungan, dan komunitas dapat bertemu dalam satu ruang pembelajaran.
Model seperti ini penting karena pengetahuan masa depan tidak hanya lahir dari satu institusi. Ia tumbuh dari hubungan manusia dengan persoalan nyata yang dihadapinya.
Imperium pengetahuan bukan berarti dominasi satu bangsa atau satu cara berpikir. Imperium pengetahuan adalah kemampuan sebuah bangsa membangun kekuatan melalui ilmu, kreativitas, dan gagasan.
Indonesia tidak kekurangan pengalaman, budaya, atau sumber pengetahuan. Tantangannya adalah bagaimana mengolah seluruh kekayaan tersebut menjadi kekuatan intelektual.
Kritik Rocky Gerung tentang pendidikan yang tidak boleh berhenti mencetak penghafal perlu dijawab dengan agenda yang lebih besar: membangun universitas yang melahirkan manusia pembelajar, peneliti, pencipta, dan pemikir.
Masa depan pendidikan tinggi Indonesia akan ditentukan oleh kemampuannya mempertemukan ilmu pengetahuan modern dengan kekayaan peradaban sendiri. Ketika riset bertemu kebudayaan, teknologi berdialog dengan kemanusiaan, dan universitas terbuka terhadap masyarakat, Indonesia tidak hanya membangun pendidikan yang lebih baik.
Indonesia sedang membangun fondasi bagi imperium pengetahuan yang berakar pada peradabannya sendiri dan mampu memberi kontribusi bagi masa depan dunia.
