Ketika Jazz Aceh Mencari Ingatannya Kembali

Praktisi dan Akademisi Seni, Warga Kota Banda Aceh
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ari J Palawi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Menjelang pukul sepuluh malam, denting gitar Yudi Wahyudi Amirul memecah keheningan ruang pertunjukan Taman Budaya Aceh, Selasa (7/7). Di hadapannya, penonton dari lintas generasi duduk dalam satu ruangan: musisi senior, pelajar, mahasiswa, aparatur sipil negara, hingga pegiat seni. Mereka datang bukan sekadar menyaksikan konser jazz, melainkan menjadi bagian dari sebuah upaya mengingat kembali sesuatu yang lama nyaris terlupakan.

Malam itu, Fusion Fiesta bukan sekadar pertunjukan musik. Ia menjadi ruang untuk menyambung kembali sejarah jazz Aceh yang selama ini lebih banyak hidup sebagai cerita dari mulut ke mulut daripada sebagai bagian dari narasi musik Indonesia.
Sebelum konser dimulai, Pengarah Acara Sarjev mengajak penonton menoleh ke belakang. Ia menyebut nama-nama seperti Tompi, Nyak Ina Raseuki, dan Tjut Nyak Deviana sebagai bukti bahwa Aceh pernah memberi kontribusi penting bagi perkembangan jazz nasional. Namun, berbeda dengan kota-kota seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, atau Surabaya yang memiliki dokumentasi dan festival berkelanjutan, perjalanan jazz Aceh perlahan memudar dari ingatan publik.
Kesadaran itulah yang menjadi fondasi Fusion Fiesta. Perhelatan ini tidak dimulai dari panggung konser, melainkan dari ruang belajar. Siang harinya, gitaris Yudi Wahyudi Amirul bersama pianis senior Mulyadi—akrab disapa Mul—menggelar workshop yang membahas sejarah jazz, improvisasi, jazz fusion, hingga kedekatan cara berpikir jazz dengan musik tradisi.
Bagi Yudi, jazz bukan sekadar genre musik. Jazz adalah cara membaca kemungkinan. Improvisasi, dialog antarpemain, dan keberanian bereksplorasi justru membuatnya terasa dekat dengan banyak tradisi musikal Nusantara, termasuk Aceh. Karena itu, jazz fusion baginya bukan sekadar mencampurkan bunyi, melainkan mempertemukan cara berpikir yang berbeda dalam satu ruang kreatif.
Kehadiran Mulyadi memberi dimensi sejarah pada percakapan itu. Musisi yang memulai karier sejak akhir 1970-an tersebut merupakan pendiri Leuser Band, kelompok fusion yang pernah mewarnai berbagai panggung di Aceh dan festival nasional pada dekade 1980-an. Jauh sebelum istilah fusion akrab di telinga generasi sekarang, Leuser telah menunjukkan bahwa musisi Aceh tidak pernah takut bereksperimen. Yang kemudian hilang bukan semangatnya, melainkan ruang untuk terus menceritakan sejarah itu kepada generasi berikutnya.
Gagasan yang dibicarakan di siang hari diterjemahkan ke atas panggung pada malam harinya. Yudi membawakan sembilan repertoar, sebagian besar merupakan komposisi orisinal seperti Motif, Dance of The Wind, Little Angel, Mumang, Malam Tak Lagi Hening, hingga Storm 2025. Di tengah kecenderungan banyak konser mengandalkan lagu-lagu populer, pilihan memainkan karya sendiri menjadi penegasan bahwa jazz Aceh masih terus melahirkan komposer.
Konser itu juga menjadi penghormatan bagi Moritza Thaher, guru yang pertama kali memperkenalkan Yudi pada jazz. Selama puluhan tahun, Moritza dikenal sebagai pendidik sekaligus salah satu tokoh yang menjaga kehidupan jazz di Banda Aceh. Dedikasi tersebut bukan sekadar ungkapan terima kasih, tetapi penanda bahwa sebuah tradisi hanya dapat bertahan ketika pengetahuan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Regenerasi itu terlihat nyata sepanjang malam. Moenana Trio membuka konser dengan repertoar swing, easy listening jazz, dan pop kreatif. Melalui lagu-lagu ciptaan sendiri, Maulana yang juga didukung musisi senior, Munzir dan Teuku Mafud, itu memperlihatkan keberanian generasi muda untuk membangun identitas musikalnya sendiri.
Pada sesi utama, Yudi tampil bersama Denny Syukur, Herri Kasta, Erwin Insert, dan Ardi Six Stars, membangun dialog musikal yang luwes antara komposisi dan improvisasi. Penampilan turut diperkaya oleh Yuni Sarumiati sebagai vokalis tamu. Salah satu momen paling menyentuh hadir ketika Qityya Wahyudi, putri Yudi, membacakan monolog selaras kepiawaian gitar ayahnda. Di tengah dominasi komposisi instrumental, monolog itu menghadirkan jeda yang terasa personal—seolah mengingatkan bahwa pewarisan seni juga berlangsung di ruang-ruang paling sederhana, termasuk di dalam keluarga.
Pemandangan di bangku penonton tak kalah menarik. Di antara yang hadir tampak Rafly, yang dikenal sebagai salah satu pembaru musikalitas lagu-lagu Aceh; Joel Kande, pewaris tradisi musikal Rapa'i Tuha; serta Masrizal Rubi, musisi lintas genre sekaligus pencipta Hymne Aceh. Mereka membaur bersama mahasiswa, pelajar, aparatur sipil negara, dan komunitas seni. Barangkali inilah gambaran paling utuh tentang sebuah ekosistem: ketika pelaku tradisi, musisi modern, dan generasi muda duduk bersama menikmati musik yang sama.
Di balik pencapaian artistiknya, Fusion Fiesta juga memperlihatkan tantangan yang masih dihadapi jazz Aceh. Musik ini membutuhkan ruang pertunjukan, tata suara, dan ekosistem apresiasi yang mampu mengakomodasi karakter improvisasinya. Tantangan lain adalah pendanaan. Seperti banyak perhelatan seni independen di daerah, dukungan masih lebih sering bergantung pada ketersediaan anggaran daripada kesadaran bahwa seni merupakan investasi kebudayaan. Persoalan terbesar hari ini bukan lagi mencari musisi, melainkan mencari keberpihakan.
Namun justru dalam keterbatasan itu, Fusion Fiesta memperlihatkan sesuatu yang lebih penting. Panggung dibiarkan berbicara melalui musiknya sendiri, tanpa seremoni yang berlebihan. Yang menjadi pusat perhatian bukan pidato, melainkan karya.
Fusion Fiesta menegaskan bahwa sebuah tradisi tidak diwariskan oleh waktu, melainkan oleh manusia. Dari Mulyadi dan Moritza Thaher, berlanjut kepada Yudi Wahyudi Amirul, lalu menemukan harapan baru pada Monana dan Qityya Wahyudi, mata rantai jazz Aceh kembali tersambung di hadapan publik.
Sejarah tidak pernah benar-benar hilang; sejarah hanya menunggu untuk dipanggil kembali. Malam itu, di Banda Aceh, panggilan itu terdengar melalui petikan gitar, denting piano, bunyi drum, suara-suara yang berani berimprovisasi, dan keberanian untuk terus berkarya. Barangkali, di situlah jazz Aceh menemukan ingatannya kembali.
