Konten dari Pengguna

Ketika Kampus Sulit Membaca Seni Kontemporer

Ari J  Palawi

Ari J Palawi

Senior Lecturer, Universitas Syiah Kuala

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ari J Palawi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu pertanyaan yang mulai terasa penting dibicarakan lebih jujur di lingkungan pendidikan tinggi Indonesia hari ini: mengapa banyak praktik seni kontemporer, industri kreatif, dan kebudayaan populer modern masih belum sepenuhnya diterima sebagai pengetahuan yang layak dipelajari secara serius di sekolah maupun perguruan tinggi?

Pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk mempertentangkan seni tradisi dengan seni modern. Juga bukan untuk merendahkan musik klasik, opera, balet, atau bentuk-bentuk kesenian besar dunia yang memang memiliki sejarah intelektual panjang dan kontribusi penting terhadap perkembangan peradaban manusia.

Persoalannya terletak pada cara kita membangun hierarki pengetahuan seni di ruang pendidikan formal.

Kolaborasi mahasiswa, komunitas, dan musisi lintas generasi di Skate Park Stage Vol. 8, Living Lab USK. Seni bertemu kampus dalam ruang yang hidup dan terbuka. Foto: Muhrain (2026).

Di banyak sekolah dan kampus Indonesia, karya-karya Mozart, Beethoven, Bach, hingga tradisi opera Eropa dipelajari dengan legitimasi akademik penuh. Teknik komposisinya dianalisis. Struktur musikalnya dibedah. Nilai estetikanya dirawat melalui kurikulum dan institusi yang telah berkembang ratusan tahun.

Tradisi-tradisi lokal Nusantara juga relatif memiliki ruang yang lebih jelas melalui pendidikan seni berbasis budaya daerah.

Tetapi ketika pembicaraan bergerak ke praktik seni kontemporer, industri kreatif modern, budaya independen, komunitas kreatif urban, film populer, hingga ekosistem seni digital hari ini, ruang akademiknya sering menjadi jauh lebih sempit.

Situasi itu menarik karena justru di wilayah inilah sebagian besar generasi muda Indonesia hidup dan membentuk pengalaman budayanya sehari-hari.

Nama-nama seperti Indra Lesmana, Christine Hakim, Guruh Soekarnoputra, Iwan Fals, Ebiet G. Ade, hingga almarhum Jockie Suryoprayogo sebenarnya tidak hanya menghasilkan hiburan. Mereka membentuk lanskap pengetahuan budaya Indonesia modern.

Di dalam karya-karya mereka terdapat persoalan harmoni, dramaturgi, aransemen, teknologi produksi, estetika visual, pembentukan karakter, kritik sosial, komunikasi massa, manajemen audiens, hingga pengolahan identitas budaya Indonesia modern.

Jika musik klasik dipelajari melalui teori harmoni, kontrapung, struktur komposisi, sejarah estetik, interpretasi repertoar, disiplin latihan, dan pembentukan sensitivitas musikal, maka praktik seni kontemporer Indonesia juga menyimpan sistem pengetahuan yang tidak kalah kompleks—hanya berkembang melalui konteks sosial, teknologi, dan ekosistem produksi yang berbeda.

Kompleksitas itu dapat dibaca secara sangat konkret.

Dalam praktik musik populer modern misalnya, seorang arranger seperti Indra Lesmana bekerja bukan hanya dengan melodi. Di sana ada pengetahuan harmoni modern, orkestrasi digital, improvisasi jazz, sound design, pembacaan karakter vokal, penguasaan perangkat produksi audio, hingga kemampuan membaca perilaku audiens lintas generasi.

Kerja kreatif seperti itu sesungguhnya sama teknis dan seriusnya dengan pembelajaran komposisi musik formal.

Gerak, bunyi, dan ruang bertemu di Skate Park Stage Vol. 8, Living Lab USK. Kampus perlahan belajar membaca seni sebagai pengalaman bersama, bukan sekadar tontonan.Foto: Cut Tasya Namira (2026).

Begitu pula dalam kerja artistik Guruh Soekarnoputra. Yang diproduksi bukan sekadar pertunjukan panggung, melainkan sintesis antara koreografi, tata visual, musik, kostum, simbol kebangsaan, dan pembentukan imajinasi budaya Indonesia modern.

Film-film Christine Hakim juga dapat dibaca melalui pendekatan yang setara seriusnya dengan studi teater dan sinema dunia. Di sana ada pengetahuan mengenai dramaturgi, bahasa tubuh, pembentukan emosi, representasi perempuan, pembacaan kelas sosial, hingga relasi antara kamera dan psikologi penonton.

Dalam karya-karya Iwan Fals, terdapat konstruksi narasi rakyat urban, kritik sosial, dan transformasi bahasa populer Indonesia lintas zaman. Lagu-lagunya bekerja sebagai arsip sosial yang merekam perubahan psikologi masyarakat Indonesia selama puluhan tahun.

Sementara karya-karya Ebiet G. Ade memperlihatkan bagaimana sensibilitas ekologis, spiritualitas personal, dan refleksi kemanusiaan dibangun melalui struktur lirik dan pendekatan musikal yang sangat khas.

Almarhum Jockie Suryoprayogo bahkan memperlihatkan bagaimana musik progresif Indonesia pernah berkembang sangat maju dalam eksplorasi harmoni, struktur komposisi non-linear, dan eksperimentasi bunyi yang secara artistik sangat kompleks.

Persoalannya bukan karena karya-karya seperti itu tidak memiliki kedalaman pengetahuan.

Masalah utamanya terletak pada belum kuatnya tradisi akademik kita dalam membaca seni kontemporer dan industri kreatif sebagai wilayah produksi ilmu.

Di tengah kabut yang belum sepenuhnya terang, pengetahuan seni sering tumbuh lebih dulu di panggung, studio, dan komunitas sebelum sempat dibaca kampus secara utuh. Image by Muntaha Nega from Pixabay.

Musik klasik memiliki sistem dokumentasi yang sangat mapan: partitur, teori, metodologi latihan, kritik seni, dan institusi pendidikan yang telah berkembang lama.

Ekosistem seni kontemporer Indonesia tumbuh melalui jalur berbeda. Banyak pengetahuannya hidup dalam pengalaman panggung, studio rekaman, produksi film, kerja komunitas, ruang pertunjukan, jaringan independen, hingga ekosistem digital yang bergerak sangat cepat.

Sebagian besar belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi bahasa akademik yang mudah diintegrasikan ke sekolah maupun perguruan tinggi.

Lingkungan pendidikan formal Indonesia juga dibangun dengan tradisi administrasi dan tata kelola yang sangat terstruktur, sementara praktik kesenian modern sering tumbuh melalui mekanisme yang cair, eksperimental, dan lintas disiplin.

Banyak seniman besar bekerja dengan ritme hidup yang sulit dipagari struktur akademik konvensional. Cara berpakaian, pola komunikasi, metode penciptaan, hingga pendekatan ekspresinya sering dianggap terlalu bebas untuk lingkungan pendidikan formal yang terbiasa dengan keteraturan administratif.

Keterbatasan pembiayaan institusi pendidikan juga menjadi faktor yang nyata. Menghadirkan praktisi industri kreatif berkualitas ke sekolah atau kampus membutuhkan biaya yang tidak kecil, sementara banyak perguruan tinggi masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar akademiknya sendiri. Realitas kesejahteraan guru dan dosen di Indonesia juga belum sepenuhnya memungkinkan lahirnya ekosistem seni yang sehat dan progresif secara berkelanjutan.

Akibatnya, ruang dialog antara dunia pendidikan formal dan ekosistem kreatif aktual menjadi terbatas.

Mahasiswa seni sering mempelajari teori tanpa cukup bertemu praktik industrinya secara langsung. Sebaliknya, pelaku industri kreatif berkembang cepat tanpa banyak keterhubungan dengan ruang riset dan pengembangan akademik.

Dalam dua dekade terakhir, sejumlah universitas dunia mulai mengubah pendekatannya terhadap seni dan industri kreatif. Kampus-kampus di Inggris, Korea Selatan, Jepang, Australia, hingga negara-negara Skandinavia mulai memperlakukan industri kreatif sebagai bagian serius dari ekosistem pengetahuan modern.

Musisi populer, filmmaker independen, game designer, koreografer urban, creative technologist, hingga content creator mulai masuk ke ruang akademik sebagai praktisi pengetahuan, bukan sekadar pelaku hiburan industri.

Perkembangan budaya populer Korea Selatan menjadi contoh yang cukup jelas. Industri hiburan mereka tidak tumbuh sendirian, tetapi ditopang keterhubungan antara universitas, riset budaya, teknologi digital, media kreatif, dan kebijakan negara yang membaca budaya sebagai investasi strategis jangka panjang.

Mahasiswa seni USK menghadirkan koreografi Melayu Aceh Tamiang disertai demonstrasi singkat tentang ragam gerak dan makna tiap bagiannya dalam Skate Park Stage Vol. 8, Living Lab USK. Foto: Putri Zahira (2026).

Indonesia sebenarnya memiliki modal budaya yang jauh lebih besar daripada yang sering disadari.

Yang masih perlu dikejar ialah keberanian membangun jembatan pengetahuan antara kampus dan ekosistem kreatif yang hidup di luar kampus.

Pertanyaan pentingnya bukan lagi apakah seni kontemporer layak dipelajari secara akademik.

Pertanyaannya bergeser menjadi: pengetahuan seperti apa yang sebenarnya ingin dipersiapkan untuk generasi baru Indonesia?

Seni kontemporer Indonesia hari ini menyimpan pengetahuan tentang produksi digital, desain pertunjukan, distribusi media, ekonomi kreatif, diplomasi budaya, pengelolaan identitas lokal, manajemen audiens, teknologi visual, hingga relasi antara seni dan perubahan sosial masyarakat modern.

Wilayah pengetahuan seperti ini semakin relevan di tengah perubahan ekonomi dan kebudayaan global hari ini.

Keterhubungan antara kampus, komunitas seni, industri kreatif, dan ruang kebudayaan publik menjadi semakin penting dibangun secara lebih terbuka dan setara.

Bukan untuk menyeragamkan semuanya ke dalam logika industri.

Melainkan agar pendidikan kita tidak semakin jauh dari kenyataan kebudayaan yang sedang hidup dan berkembang di masyarakatnya sendiri.