Ketika Mahasiswa Belajar dari Ukuran yang Salah

Praktisi dan Akademisi Seni, Warga Kota Banda Aceh
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ari J Palawi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ada mahasiswa yang sangat sibuk, tetapi tidak banyak belajar.
Ia aktif di mana-mana, rapat hampir setiap hari, mengumpulkan sertifikat, memperluas relasi, dan memenuhi media sosial dengan kegiatan. Namanya mulai dikenal.
Ada pula mahasiswa yang tidak terlalu terlihat. Ia datang kuliah, membaca, bertanya, meneliti, berdiskusi, lalu pulang. Tidak selalu memegang jabatan dan tidak banyak mengumpulkan sertifikat.
Dua-duanya mahasiswa. Yang membedakan bukan kesibukannya, melainkan apa yang tumbuh dari proses tersebut.
Dalam tulisan sebelumnya, saya membicarakan ukuran yang bergeser di kalangan dosen. Kali ini saya melihat akibatnya dari sisi mahasiswa: apa yang terjadi ketika mereka mulai belajar dari ukuran tersebut?
Mahasiswa tidak hanya belajar dari apa yang diajarkan dosen. Mereka juga belajar dari apa yang dihargai kampus.
Jika jabatan terlihat lebih menentukan daripada kompetensi, mahasiswa bisa belajar mengejar jabatan. Jika jaringan dianggap lebih berguna daripada penguasaan ilmu, mereka akan mencari jaringan. Jika popularitas lebih cepat mendatangkan pengakuan daripada karya, mereka bisa memilih membangun popularitas.
Di titik itu, motivasi belajar ikut berubah. Belajar dipahami sebagai jalan menuju nilai, gelar, sertifikat, jabatan, pekerjaan, atau pengakuan. Semua itu penting, tetapi tidak satu pun menggantikan kemampuan.
Perguruan tinggi seharusnya membuat seseorang semakin mampu membaca persoalan, menyusun alasan, memeriksa informasi, bekerja dengan orang lain, menerima kritik, memperbaiki kesalahan, dan menyelesaikan pekerjaan.
Semua kemampuan itu membutuhkan proses.
Di sinilah mahasiswa membutuhkan dosen yang kompeten.
Dosen yang kompeten belum tentu populer. Ia mungkin memberi banyak bacaan, meminta tugas diperbaiki, mempertanyakan jawaban, atau memberi nilai yang tidak sesuai harapan. Itu tidak otomatis membuatnya dosen buruk.
Sebaliknya, dosen yang menyenangkan, populer, atau mudah ditemui belum tentu mampu memberikan proses belajar yang dibutuhkan.
Benturan terjadi ketika mahasiswa terbiasa mengejar hasil yang cepat terlihat, lalu bertemu dosen yang menuntut proses. Mereka terbiasa menerima informasi ringkas, lalu berhadapan dengan buku atau jurnal yang membutuhkan waktu. Mereka ingin jawaban, sementara dosen meminta alasan.
Kondisi ini perlu dilihat bersama tekanan yang memang dihadapi anak muda sekarang: persoalan akademik, ekonomi, ketidakpastian pekerjaan, tuntutan keluarga, perubahan hubungan sosial, serta kesehatan mental.
Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat prevalensi depresi tertinggi pada kelompok usia 15–24 tahun, sebesar 2 persen. Hanya 10,4 persen anak muda dengan depresi yang mencari pengobatan. UNICEF juga mencatat sekitar sepertiga remaja Indonesia, atau 15,5 juta orang, melaporkan tantangan kesehatan mental; sekitar 2,45 juta mengalami gangguan kesehatan mental.
Angka itu tidak menunjukkan bahwa generasi muda adalah generasi lemah. Ia menunjukkan persoalan yang nyata dan perlu ditangani.
Penelitian terhadap 450 mahasiswa Gen Z dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia menemukan hubungan antara beban kerja akademik, stres akademik, dan burnout. Karena penelitian tersebut bersifat potong lintang, temuannya tidak dapat digeneralisasi kepada seluruh mahasiswa. Ia cukup menjadi pengingat bahwa beban dan lingkungan belajar ikut memengaruhi kondisi mahasiswa.
Perhatian terhadap kesehatan mental juga tidak boleh berubah menjadi alasan untuk menurunkan standar akademik.
Mahasiswa membutuhkan dukungan sekaligus tantangan.
Ada hal yang perlu dikatakan langsung kepada mahasiswa: tidak semua dosen yang menuntut adalah dosen yang buruk.
Kadang dosen yang paling berguna justru membuat kita sadar bahwa kemampuan kita belum cukup. Ia meminta membaca ketika kita ingin jawaban cepat, meminta tulisan diperbaiki ketika kita merasa sudah selesai, dan mempertanyakan pendapat ketika kita merasa yakin.
Proses itu bisa melelahkan. Dari sanalah kemampuan tumbuh.
Maka setelah beberapa tahun berada di perguruan tinggi, pertanyaan pentingnya bukan hanya berapa banyak SKS, sertifikat, atau kegiatan yang sudah dikumpulkan.
Apa yang benar-benar berubah dalam diri kita?
Apakah kita lebih mampu membaca, berpikir, menulis, bekerja, menerima kritik, memeriksa informasi, dan menyelesaikan masalah?
Pertanyaan itu lebih dekat dengan makna pendidikan.
Kita juga tidak bisa meletakkan seluruh persoalan kepada mahasiswa. Jika mereka tumbuh dengan ukuran yang bergeser, lingkungan pendidikan ikut bertanggung jawab. Dosen memberi contoh. Kampus menentukan sistem penghargaan. Orang tua memberi tekanan atau dukungan. Masyarakat menentukan siapa yang dianggap berhasil. Media sosial ikut memperkuat ukuran tertentu.
Karena itu, memperbaiki pendidikan tinggi tidak cukup dengan meminta mahasiswa lebih rajin.
Dosen perlu menunjukkan bahwa ilmu masih penting. Kampus perlu menempatkan kompetensi di atas citra. Orang tua perlu menghargai proses. Masyarakat perlu memberi penghargaan kepada orang yang benar-benar bekerja dan menghasilkan sesuatu.
Mahasiswa hari ini akan menjadi guru, dokter, birokrat, pengusaha, seniman, peneliti, pemimpin masyarakat, dan orang tua. Ukuran yang mereka pelajari di kampus akan ikut mereka bawa ke ruang kerja dan kehidupan sosial.
Jika jabatan lebih penting daripada kompetensi, ukuran itu dapat terbawa ke tempat kerja. Jika citra lebih penting daripada isi, mereka bisa membangun karier dengan cara yang sama. Jika hubungan lebih penting daripada kemampuan, mereka mungkin mencari jalan melalui hubungan ketika seharusnya membangun kapasitas.
Sebaliknya, pendidikan yang menghargai kejujuran berpikir, ketekunan, kompetensi, keberanian menerima kritik, kemampuan bekerja, dan tanggung jawab akan menjadi bekal ketika mereka meninggalkan kampus.
Itulah sebabnya ukuran yang bergeser perlu dibicarakan.
Bukan untuk menyalahkan dosen, mahasiswa, atau Gen Z. Kita perlu memastikan perguruan tinggi masih mengajarkan sesuatu yang lebih penting daripada cara memperoleh gelar.
Mahasiswa perlu membangun kemampuan untuk berpikir dan bekerja. Dosen perlu menjadi teladan bahwa ilmu layak diperjuangkan. Kampus perlu menyediakan lingkungan yang memungkinkan proses itu berlangsung.
Ukuran pendidikan akhirnya bukan apa yang paling mudah terlihat, melainkan kemampuan yang benar-benar tumbuh.
Mahasiswa pun perlu berani bertanya:
Saya sedang mengejar keberhasilan, atau sedang membangun kemampuan untuk menjadi orang yang benar-benar mampu?
Jawabannya mungkin tidak terlihat di transkrip nilai. Beberapa tahun setelah wisuda, kita akan tahu.
