Konten dari Pengguna

Ketika Seorang Seniman Pergi, Apa yang Sebenarnya Kita Kehilangan?

Ari J  Palawi

Ari J Palawi

Praktisi dan Akademisi Seni, Warga Kota Banda Aceh

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ari J Palawi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kabar duka sering kali menghadirkan cara yang paling jujur untuk membaca kehidupan seseorang. Ketika perupa Nasirun berpulang, orang-orang tidak hanya mengenang lukisan-lukisannya. Mereka mengenang studio yang pintunya terbuka, tawa yang mudah pecah, hadiah-hadiah karya seni yang diberikan tanpa banyak pertimbangan, perjumpaan yang terus berulang, serta persahabatan yang melampaui ruang pamer.

Nasirun (1965–2026), perupa yang menjadikan tradisi dan spiritualitas sebagai bahasa visual yang terus hidup dalam seni rupa Indonesia. Foto: Instagram Galeri Nasional Indonesia (@galerinasional).
zoom-in-whitePerbesar
Nasirun (1965–2026), perupa yang menjadikan tradisi dan spiritualitas sebagai bahasa visual yang terus hidup dalam seni rupa Indonesia. Foto: Instagram Galeri Nasional Indonesia (@galerinasional).

Seorang sahabat menulis dengan kalimat yang sederhana, tetapi sulit dilupakan: "...ingatanku kamu tertawa segala alasan.... puluhan tahun.... aku pun bisa bahagia tanpa alasan...." Lalu ia mengenang dua lukisan hadiah dari Nasirun yang masih disimpannya, hadiah yang diterima begitu saja ketika berkunjung ke studio, sebelum menutup tulisannya dengan sapaan yang terasa begitu pribadi, "Ah Nasirun..." (Sutanto Mendut, Instagram, 1 Agustus 2026).

Tulisan itu hampir tidak membicarakan pencapaian artistik Nasirun. Tidak ada daftar pameran, penghargaan, atau rekor harga lukisan. Yang hadir justru hubungan antarmanusia. Ingatan bergerak menuju percakapan, pertemanan, keluarga, dan kemurahan hati. Kehilangan seorang seniman ternyata pertama-tama dirasakan sebagai kehilangan seseorang yang pernah membuat orang lain merasa diterima.

Reaksi semacam itu mengingatkan bahwa karya seni tidak pernah hidup sendirian. Sebuah lukisan memang dapat berpindah tangan, dipamerkan, bahkan diperjualbelikan. Nilai yang membuatnya terus dikenang sering kali lahir dari kehidupan yang mengelilinginya: cerita ketika karya itu dibuat, percakapan yang menyertainya, tangan yang memberikannya, serta hubungan yang tumbuh karenanya. Ingatan terhadap karya akhirnya menyatu dengan ingatan terhadap manusianya.

Dalam sebuah wawancara, Nasirun pernah menggambarkan proses melukisnya sebagai perjalanan yang bergerak dari bentuk menuju kebebasan. "Saya melukis sekitar tiga puluh menit untuk menuju abstrak," katanya, seraya menjelaskan bahwa kebebasan itu tetap berangkat dari pengalaman, simbol, dan dunia yang telah lebih dahulu ia kenali (Tempo, 2012). Cara pandang itu menjelaskan bahwa penciptaan bukanlah ledakan yang muncul seketika. Sebuah karya tumbuh dari pergaulan panjang dengan tradisi, pengalaman hidup, dan keberanian terus mencari bentuk.

Penelitian Cheryl Chelliah Thiruchelvam dan Sarena Abdullah (2019) tentang karya Nasirun memberi sudut pandang yang menarik. Mereka menunjukkan bahwa unsur wayang dalam karya-karyanya tidak hadir sebagai pengulangan bentuk tradisional, melainkan sebagai simbol yang terus bergerak dan menemukan makna baru dalam seni rupa kontemporer. Tradisi, dalam pengertian ini, bukan benda yang dipelihara di dalam etalase. Tradisi hidup karena terus berjumpa dengan manusia yang bersedia menafsirkannya kembali.

Persembahan untuk Bathara Guru (1999), cat minyak di atas kanvas berukuran 250 × 150 cm, merupakan salah satu karya penting Nasirun yang memadukan simbol wayang, tradisi Jawa, dan bahasa visual kontemporer. Karya ini menjadi bagian dari koleksi Galeri Nasional Indonesia. Foto: Instagram Galeri Nasional Indonesia (@galerinasional).

Cara seperti itulah yang membuat seorang seniman meninggalkan jejak yang lebih panjang daripada umur biologisnya. Warisan tidak berhenti pada benda yang dapat dipajang di dinding. Warisan juga hadir dalam keberanian membuka pintu studio kepada generasi muda, dalam kesediaan berbagi gagasan, dalam kebiasaan memperlakukan pertemuan sebagai bagian dari proses berkesenian. Semua itu tidak tercatat di katalog pameran, tetapi justru membentuk ingatan kolektif yang terus bergerak dari satu orang kepada orang lain.

Di titik ini, kepergian Nasirun menghadirkan pertanyaan yang layak diarahkan kepada kehidupan kesenian kita hari ini. Sudahkah perhatian kita cukup besar kepada ruang-ruang tempat hubungan semacam itu tumbuh? Kita sering menghitung jumlah pameran, festival, residensi, atau penghargaan. Semua memiliki arti penting. Yang jauh lebih sulit dihitung adalah berapa banyak percakapan yang berlanjut setelah acara selesai, berapa banyak seniman muda menemukan guru, kawan, atau keberanian baru karena sebuah perjumpaan sederhana.

Setiap generasi melahirkan nama-nama besar. Tidak setiap generasi berhasil membangun keadaan yang memungkinkan nama-nama besar berikutnya lahir. Perbedaan di antara keduanya terletak pada kemampuan merawat kehidupan sehari-hari kesenian: studio yang tetap terbuka, komunitas yang terus bertemu, ruang yang memberi kesempatan orang saling belajar tanpa selalu dibatasi proyek, tenggat, atau kepentingan sesaat.

Seorang seniman memang dapat berpulang. Kehidupan seni tidak boleh ikut berhenti bersamanya. Tugas kebudayaan bukan hanya mengenang tokoh-tokohnya, melainkan memastikan nilai-nilai yang membuat mereka bertumbuh tetap menemukan tempat pada generasi berikutnya. Cara seorang seniman memperlakukan manusia lain sering kali menjadi warisan yang sama berharganya dengan karya yang ditinggalkannya.

Kita tidak pernah benar-benar memiliki cara untuk menahan kepergian. Yang dapat kita lakukan adalah menjaga agar kehidupan yang pernah ia bangun terus menemukan penerusnya. Di situlah penghormatan memperoleh makna yang paling dalam. Bukan hanya mengenang seorang Nasirun, melainkan menghadirkan lebih banyak ruang yang memungkinkan lahirnya Nasirun-Nasirun berikutnya.