Ketika Ukuran Bergeser: Catatan untuk Dosen yang Masih Mau Berpikir

Senior Lecturer, Universitas Syiah Kuala
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ari J Palawi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di kampus hari ini, ukuran keberhasilan tidak selalu jelas. Kita bicara tentang mutu, penelitian, dan kontribusi keilmuan. Namun dalam praktik sehari-hari, yang lebih cepat dikenali justru posisi, jaringan, dan kemampuan mengelola ruang kekuasaan.

Perubahan ini tidak terjadi sekaligus. Ia terbentuk dari kebiasaan yang dibiarkan. Dari keputusan-keputusan kecil yang diulang: siapa yang diberi ruang, siapa yang diangkat, siapa yang didengar. Lama-lama, standar itu menjadi wajar.
Di situ letak persoalannya.
Cukup berjalan sebentar di koridor kampus, kita bisa melihat perbedaannya.
Ada dosen yang selesai mengajar, lalu tetap tinggal. Ia berbicara dengan mahasiswa yang belum paham, membuka ulang catatan, atau sekadar menguji kembali apakah yang disampaikan tadi benar-benar sampai. Di meja kerjanya, ada buku yang dibaca bukan karena tuntutan, melainkan karena kebutuhan.
Di sisi lain, ada yang berpindah dari satu rapat ke rapat lain. Agenda padat, nama sering disebut, kehadiran selalu dicatat. Namun jika diminta menjelaskan satu konsep dasar di bidangnya sendiri, jawabannya sering umum, aman, dan tidak menyentuh inti.
Kita tahu perbedaan ini. Masalahnya, kita tidak selalu jujur dalam menilainya.
Ada kecenderungan untuk memaklumi hal-hal yang sebenarnya tidak layak dimaklumi. Ketika seseorang naik jabatan tanpa rekam jejak akademik yang kuat, kita diam. Ketika keputusan diambil tanpa pertimbangan ilmiah yang memadai, kita anggap itu bagian dari mekanisme.
Padahal, setiap pembiaran membentuk standar baru.
Dan standar itu tidak berhenti di ruang dosen. Ia sampai ke mahasiswa. Mereka belajar bukan hanya dari materi kuliah, melainkan juga dari apa yang mereka lihat: siapa yang dihargai, siapa yang diabaikan, dan bagaimana cara bertahan di dalam sistem.
Jika yang mereka lihat adalah bahwa jabatan lebih penting daripada kompetensi, itulah yang akan mereka pelajari.
Di tengah situasi seperti ini, bekerja dengan benar sering terasa tidak efisien. Membaca butuh waktu. Meneliti butuh ketekunan, mengajar dengan serius tidak selalu memberi keuntungan langsung, sementara jalan lain terlihat lebih cepat: mengelola relasi, mengambil posisi, atau sekadar mengikuti arus.
Banyak yang akhirnya memilih menyesuaikan diri. Tidak selalu karena tidak tahu, tetapi karena tidak ingin tertinggal.
Namun ada konsekuensi yang jarang dibicarakan: ketika terlalu lama menyesuaikan diri, seseorang bisa kehilangan kemampuan dasarnya. Ia tidak lagi terbiasa membaca secara mendalam. Tidak lagi terlatih menyusun argumen. Tidak lagi nyaman berada dalam proses berpikir yang jujur.
Di titik itu, jabatan memang bisa dipertahankan. Namun, ilmu sudah tidak lagi menjadi pegangan.
Karena itu, pembicaraan tentang perbaikan tidak bisa hanya berhenti pada regulasi. Kita perlu melihat kembali praktik sehari-hari.
Apa yang sebenarnya terjadi di kelas?
Bagaimana proses sebuah penelitian dijalankan?
Apakah pengabdian benar-benar menyentuh persoalan masyarakat, atau sekadar formalitas?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini tidak membutuhkan laporan panjang. Cukup dilihat dari cara kerja.
Ada pendekatan yang mulai berkembang di beberapa tempat: mengembalikan kegiatan akademik ke situasi nyata. Mahasiswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat dalam proses. Dosen tidak hanya menjelaskan, tetapi juga bekerja bersama. Kegiatan tidak berhenti sebagai agenda, tetapi didokumentasikan dan diolah menjadi pengetahuan.
Pendekatan seperti ini menuntut konsistensi. Tidak bisa dijalankan setengah-setengah. Namun kelebihannya jelas: kualitas kerja terlihat langsung. Tidak ada ruang untuk berpura-pura.
Di situ, posisi tidak banyak membantu. Yang menentukan adalah kemampuan.
Hal lain yang perlu dibicarakan secara terbuka adalah rasa malu. Bukan dalam arti negatif, melainkan sebagai pengingat batas.
Malu ketika berbicara tanpa dasar.
Malu ketika mengambil peran yang tidak mampu dijalankan.
Malu ketika lebih sibuk mengatur citra daripada memperbaiki isi.
Rasa ini penting, karena tanpa itu, semua bisa dibenarkan.
Menjadi dosen seharusnya tidak dipahami sebagai status yang sekali didapat, lalu selesai. Ia adalah posisi yang harus terus dibuktikan. Bukan kepada sistem, melainkan kepada ilmu itu sendiri.
Setiap perkuliahan adalah kesempatan untuk memastikan bahwa yang disampaikan masih relevan.
Setiap penelitian adalah upaya untuk tidak mengulang apa yang sudah diketahui.
Setiap interaksi dengan mahasiswa adalah ruang untuk menjaga agar pengetahuan tidak berhenti pada teori.
Tidak ada cara cepat untuk itu.
Kampus tidak akan berubah hanya karena kebijakan baru. Ia berubah ketika cara kerja di dalamnya berubah. Ketika lebih banyak dosen memilih membaca daripada sekadar merujuk, memahami sebelum menyimpulkan, dan mengajar dengan tujuan, bukan sekadar menyelesaikan jadwal.
Pilihan-pilihan ini tidak selalu memberi keuntungan langsung. Namun dalam jangka panjang, ia menentukan arah.
Jika masih ada yang bertahan dengan cara kerja seperti ini, masih ada kemungkinan untuk memperbaiki keadaan. Jika tidak, kampus akan tetap berjalan, tetapi kehilangan fungsinya yang paling dasar.
Dan pada titik itu, kita tidak lagi bicara tentang mutu atau akreditasi. Kita bicara tentang hilangnya kepercayaan terhadap ilmu itu sendiri.
