Mengapa Ekosistem Kreatif Indonesia Sulit Bertahan?

Praktisi dan Akademisi Seni, Warga Kota Banda Aceh
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ari J Palawi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Belajar dari sebuah laboratorium kecil di Aceh tentang bagaimana pengalaman dapat berkembang menjadi sistem.

Indonesia tidak pernah kekurangan komunitas.
Di hampir setiap kota selalu ada kelompok seni, ruang belajar, komunitas warga, organisasi sosial, forum diskusi, atau gerakan anak muda yang lahir dari kegelisahan yang sama: keinginan menciptakan perubahan. Festival terus bermunculan, pelatihan rutin diselenggarakan, ruang kreatif dibuka, dan berbagai program memperoleh dukungan pemerintah, dunia usaha, maupun filantropi.
Namun ada satu pola yang terus berulang.
Ketika penggeraknya berganti, pengetahuan ikut hilang. Ketika pendanaan berhenti, kegiatan ikut berhenti. Ketika kepemimpinan berubah, jejaring kembali melemah. Orang-orang baru akhirnya mengulang pekerjaan yang pernah dilakukan generasi sebelumnya.
Persoalannya bukan karena kita kekurangan kreativitas atau inisiatif. Persoalannya adalah kita belum cukup serius membangun cara agar hasil belajar dari setiap perjumpaan tidak ikut hilang bersama berlalunya waktu.
Berbagai kajian UNESCO, OECD, dan British Council menunjukkan bahwa daya tahan ekosistem budaya dan ekonomi kreatif tidak terutama ditentukan oleh banyaknya kegiatan atau besarnya investasi. Yang lebih menentukan adalah kemampuan membangun kapasitas manusia, menjaga pengetahuan, memperkuat jejaring, serta menciptakan tata kelola yang mampu bertahan ketika orang-orangnya berganti.
Pertanyaan itulah yang perlahan muncul dalam proses membangun SPS Revival di Banda Aceh.
Awalnya kami hanya ingin menghadirkan ruang perjumpaan setiap Sabtu. Tempat orang bertemu, berbagi karya, berdiskusi, dan saling mengenal. Namun beberapa minggu kemudian kami menyadari bahwa pekerjaan sebenarnya justru dimulai ketika pertemuan selesai.
Pertanyaan pertama muncul ketika peserta diminta mengisi formulir.
Sebagian bertanya, "Mengapa harus mengisi data?"
Pertanyaan itu wajar. Selama ini formulir identik dengan administrasi. Padahal yang sedang kami bangun bukan daftar hadir, melainkan peta kapasitas. Kami perlu mengetahui siapa yang memiliki pengalaman tertentu, siapa yang sedang belajar, siapa yang ingin menjadi mentor, siapa yang mampu membuka jejaring, dan siapa yang siap mengambil tanggung jawab. Tanpa informasi itu, sebuah komunitas hanya bergantung pada ingatan beberapa orang.
Dari pengalaman tersebut lahir satu kesimpulan sederhana. Pembelajaran tidak cukup diselenggarakan. Pembelajaran harus memiliki sistem yang mengenali, mempertemukan, dan mengembangkan kapasitas setiap orang. Gagasan inilah yang kemudian berkembang menjadi Poliseni.
Pengalaman berikutnya datang dari dokumentasi.
Foto bertambah. Video semakin banyak. Media sosial terus bergerak. Namun ketika kami mencoba memahami kembali mengapa sebuah keputusan diambil, bagaimana sebuah metode berkembang, atau pelajaran apa yang diperoleh dari sebuah kegagalan, jawabannya sering tidak ditemukan.
Yang tersimpan adalah peristiwanya.
Yang hilang adalah proses berpikirnya.
Di titik itu kami menyadari bahwa dokumentasi tidak cukup dipahami sebagai arsip. Dokumentasi harus menjadi cara sebuah komunitas menyimpan memori, metode, dan pengetahuan agar dapat dipelajari kembali. Dari kebutuhan inilah Darud Dunia mulai dirumuskan.
Pelajaran berikutnya justru datang dari sesuatu yang tampak sederhana.
Pada tahap awal, D'Blue memfasilitasi penggunaan sound system untuk SPS Revival selama beberapa kali pertemuan. Secara teknis, bantuan itu membuat kegiatan lebih mudah berjalan. Namun nilai terbesarnya bukan perangkat tersebut.
Yang sebenarnya dipinjamkan adalah kepercayaan.
Kepercayaan tidak bisa dijawab hanya dengan ucapan terima kasih. Ia harus dijawab dengan disiplin bekerja, pembagian tanggung jawab, keterbukaan komunikasi, dan kemampuan melahirkan penggerak baru. Karena itu kami mulai mengurangi ketergantungan pada satu orang. Semua didorong saling terhubung, saling mengingatkan, dan saling mengambil inisiatif. Pengalaman itu kemudian berkembang menjadi rancangan Lingkar Wali.
Dari sana kami juga mulai memahami bahwa keberlanjutan tidak pernah dimulai dari uang.
Dana memang penting. Namun sebelum membicarakan dana, sebuah ekosistem harus lebih dahulu memiliki aset yang tidak tercatat dalam laporan keuangan: kepercayaan, pengetahuan, jejaring, talenta, metode kerja, dan budaya berbagi tanggung jawab.
Tanpa aset-aset tersebut, pendanaan hanya memperpanjang umur kegiatan. Ia belum tentu memperkuat ekosistem.
Pemahaman itu menjadi dasar lahirnya gagasan Dana Abadi Ekosistem Kreatif Aceh (DAEKA). Bagi kami, dana abadi bukan semata mekanisme menghimpun dana, melainkan cara menjaga agar nilai yang terus bertambah dari setiap perjumpaan tidak hilang begitu saja.
Jika diperhatikan, Poliseni, Darud Dunia, Lingkar Wali, dan DAEKA tidak pernah dirancang sebagai proyek yang berdiri sendiri.
Semuanya lahir dari persoalan yang berulang.
Kesulitan mengenali kapasitas melahirkan sistem pembelajaran.
Kesulitan menyimpan pengalaman melahirkan sistem pengetahuan.
Kesulitan membagi tanggung jawab melahirkan sistem tata kelola.
Kesulitan menjaga keberlanjutan melahirkan sistem akumulasi nilai.
SPS Revival menjadi ruang untuk menguji semuanya dalam skala kecil. Bukan karena kami yakin jawabannya sudah benar, tetapi karena setiap Sabtu selalu menghadirkan pertanyaan baru yang harus dijawab melalui praktik, bukan asumsi.
Mungkin selama ini kita terlalu sering mengukur keberhasilan dari jumlah kegiatan yang berhasil diselenggarakan, jumlah peserta yang hadir, atau banyaknya publikasi yang dihasilkan.
Ukuran itu tetap penting.
Namun ada pertanyaan yang jauh lebih menentukan.
Apa yang masih tersisa setelah kegiatan selesai?
Jika yang tersisa hanya dokumentasi dan kenangan, kita akan terus memulai dari awal.
Namun jika yang tersisa adalah pengetahuan yang semakin kaya, kepercayaan yang semakin kuat, penggerak baru yang terus tumbuh, jejaring yang semakin luas, serta cara kerja yang semakin matang, maka sebuah komunitas telah menghasilkan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sebuah acara.
Ia mulai membangun kemampuan masyarakat untuk belajar, bekerja sama, dan melanjutkan pekerjaan tanpa harus selalu mengulangnya dari nol.
