Konten dari Pengguna

Nan Wuli: Saat Rudi Asman Merawat Pertemuan Aceh dan Tionghoa di Panggung

Ari J  Palawi

Ari J Palawi

Senior Lecturer, Universitas Syiah Kuala

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ari J Palawi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pertunjukan Nan Wuli karya Rudi Asman yang dipentaskan pada Senin malam, 13 April 2026, di Taman Seni dan Budaya Aceh, terasa sebagai satu momentum yang matang—tidak tergesa, tidak pula berjarak. Ia hadir sebagai kerja kultural yang dirawat: dari gagasan, relasi, hingga penyajian di atas panggung.

Poster sekaligus cover buletin produksi "Nan Wuli" design by Raudi Azhar.
zoom-in-whitePerbesar
Poster sekaligus cover buletin produksi "Nan Wuli" design by Raudi Azhar.

Bagian awal acara berjalan dalam alur yang cukup akrab. MC membuka dengan struktur yang tertata, menjaga ritme acara tetap rapi. Meski begitu, ada peluang kecil yang menarik untuk dieksplor lebih jauh—yakni menghadirkan konteks karya secara lebih terasa sejak awal, agar suasana yang terbangun bisa langsung menyatu dengan arah artistik yang akan dituju.

Sambutan kelembagaan hadir sebagai penanda dukungan yang penting. Dalam hal ini, kehadiran Cut Zahrina dari Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh layak dicatat secara khusus—bukan hanya karena posisi yang diemban, tetapi karena kebersamaannya hingga akhir produksi. Kehadiran yang utuh seperti ini memberi kesan bahwa negara tidak sekadar hadir di awal, tetapi ikut menyimak proses sampai selesai. Ke depan, narasi sambutan yang lebih dekat dengan isi karya akan semakin memperkuat jembatan antara kebijakan dan pengalaman artistik.

Suasana kemudian menghangat ketika Rudi Asman berbicara. Ia tidak sedang menjelaskan karya, tetapi seolah membuka sedikit ruang dapur kreatifnya—tentang proses, tentang orang-orang yang terlibat, dan tentang relasi yang tumbuh. Di sini, akulturasi tidak terasa sebagai tema, melainkan sebagai sesuatu yang memang sudah berjalan dalam hidupnya.

Kehadiran Chong Lie, Ketua Hakka Aceh, menjadi penting dalam konteks ini. Ia bukan hanya tamu undangan, tetapi bagian dari lingkar kolaborasi yang menghidupkan karya. Kedekatan ini memberi bobot tersendiri, bahwa Nan Wuli tidak dibangun dari jarak, tetapi dari pertemuan yang nyata.

Kuratorial oleh Dr. Dedy Afriady mengalir dengan nada yang tenang dan simpatik. Ia memberi konteks tanpa menggurui, membuka ruang tafsir tanpa mengunci makna. Narasi tentang Lamuri dan jalur pertemuan peradaban terasa sebagai pengantar yang cukup untuk membawa penonton masuk ke dalam lanskap yang lebih luas.

Lalu syair Aceh bergema. Dengan penguasaan rukun meusyahe yang kuat, sang syeh membuka pertunjukan seperti membuka lembaran lama yang masih relevan. Dari sini, alur bergerak tanpa putus. Narasi suara, kehadiran karakter remaja dengan kostum akulturatif, hingga ansambel musik yang perlahan mengambil alih ruang.

Salah satu kolaborasi yang saling terhubung antara Aceh dan Tionghoa, baik melalui bunyi, wana, kostum, idiom nusikal, serta aksesori penyajiannya (Foto: Rahmat Maulana, 2026)

Musik menjadi pusat. Ia tidak berhenti, melainkan terus mengalir—kadang padat, kadang renggang, tetapi tetap terjaga. Rapa’i, seurune kalee, dizi, hingga perangkat modern seperti keyboard dan drumpad, saling menyusun lapisan bunyi yang terasa menyatu. Di beberapa momen, dialog antara dizi dan seurune kalee menghadirkan warna yang khas—seperti dua bahasa yang berbeda namun saling mengerti.

Koreografi hadir sebagai penegas. Gerak tubuh, kostum, dan aksesoris tidak mencoba menjelaskan, tetapi cukup memberi isyarat. Ada kesan seperti menjahit—pelan, berlapis, tanpa perlu dipamerkan secara berlebihan. Pertemuan budaya hadir sebagai proses, bukan sebagai pernyataan yang harus ditegaskan terus-menerus.

Aliran musikal yang terus berjalan memberi energi yang stabil. Di sisi lain, ruang jeda yang lebih terbuka bisa menjadi kemungkinan menarik untuk memberi penekanan pada bagian-bagian tertentu. Ini bukan kekurangan, tetapi ruang tumbuh yang masih tersedia.

Kesiapan para penyaji terasa jelas. Teknik mereka terjaga, interpretasi mereka hidup. Respon audiens menjadi penanda yang jujur—tepuk tangan yang tidak ragu, komentar spontan yang muncul dari berbagai sudut. Ada kepuasan yang terasa kolektif.

Bincang karya setelah pertunjukan memperpanjang napas pengalaman. Beragam tanggapan muncul, dari yang reflektif hingga yang memberi dorongan ke depan. Dalam suasana ini, kembali terasa bahwa Nan Wuli bukan sekadar karya, tetapi bagian dari percakapan yang lebih luas. Dukungan yang disampaikan oleh Chong Lie, misalnya, mengarah pada harapan agar kerja-kerja seperti ini dapat menjangkau ruang yang lebih besar.

Sesi bincang karya bersama koreografer dan komposer senior dalam keberagaman tradisi berkesenian masyarakat Aceh (Foto: Rahmat Maulana, 2026)

Di luar panggung, satu hal yang kembali teringat adalah soal fasilitas. Catatan lama saya tentang bagaimana infrastruktur Taman Seni dan Budaya Aceh belum sepenuhnya menjadi “rumah seni” terasa relevan lagi. Bukan untuk membandingkan, tetapi untuk mengingatkan bahwa kualitas karya yang terus berkembang perlu diimbangi dengan kesiapan ruang yang setara.

Dengan potensi budaya Aceh yang luas dan dukungan program seperti Dana Indonesiana, pembaruan infrastruktur bukan sesuatu yang sulit dibayangkan. Justru di sinilah peluangnya: menghadirkan ruang yang tidak hanya layak, tetapi juga mampu mengangkat pengalaman apresiasi ke tingkat yang lebih baik.

Apresiasi juga layak diberikan kepada tim manajemen dan peralatan yang bekerja di balik layar. Mereka menjaga agar semua yang dirancang bisa benar-benar sampai ke penonton.

Nan Wuli memberi satu kesan yang cukup jelas: ketika karya dibangun dari relasi yang hidup, ia akan terasa hidup pula. Ia tidak perlu berteriak untuk didengar. Cukup disusun dengan jujur, dan dibiarkan bertemu dengan penontonnya.