Orang-Orang yang Memilih Datang Kembali

Praktisi dan Akademisi Seni, Warga Kota Banda Aceh
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ari J Palawi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada suara yang selalu datang lebih dahulu sebelum musik.
Bunyi kabel yang diseret di atas beton. Mikrofon yang diuji berulang kali. Roda skateboard menghantam permukaan arena. Sesekali terdengar suara kru saling memanggil dari kejauhan, memastikan semuanya bekerja sebagaimana mestinya.
Sabtu sore, 25 Juli 2026, selepas Ashar. Skatepark di Gerbang Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh, belum sepenuhnya berubah menjadi ruang pertunjukan. Bang Son bersama kru D'Blue Studio masih berkutat dengan tata suara. Mereka bekerja tanpa banyak bicara. Pekerjaan yang paling menentukan sering kali justru nyaris tak terlihat.
Begitu pengeras suara selesai disetel, Dendy Montgomery langsung mengambil mikrofon. Jurnalis, videografer, peneliti, sekaligus penyintas tsunami yang mendokumentasikan detik-detik awal bencana 26 Desember 2004 itu sore ini hadir tanpa kamera. Ia memilih membuka suasana lewat lagu, ketika acara bahkan belum resmi dimulai. Orang-orang masih lalu-lalang, anak-anak tetap bermain skateboard dan BMX, sementara beberapa kru masih merapikan kabel dan memastikan suara tetap stabil.
Saya sengaja membiarkan momen itu berlangsung lebih lama di hadapan saya. Sulit menentukan kapan persiapan berubah menjadi pertunjukan. Musik, pekerjaan teknis, permainan anak-anak, dan orang-orang yang terus berdatangan berlangsung dalam satu tarikan napas. Perjumpaan rupanya memang tidak pernah menunggu aba-aba.
Sulit menentukan kapan persiapan berubah menjadi pertunjukan. Musik, pekerjaan teknis, permainan anak-anak, dan orang-orang yang terus berdatangan berlangsung dalam waktu yang sama. Tidak ada aba-aba. Tidak ada batas yang benar-benar tegas.
Ketika Taufik Maroe akhirnya menyapa pengunjung sebagai pembawa acara, suasana sebenarnya telah hidup lebih dahulu. Setelah cukup 20 tahun tidak terlihat di panggung kreatif di Kota Banda Aceh, Taufik Maroe yang juga penyiar senior di beberapa stasiun radio legend kota ini kembali memegang mikrofon. Tidak mengambil ruang. Ia membuka ruang.
Saya sengaja menyebut mereka sebagai kontributor karya kreatif, bukan penampil. Sebab yang mereka bawa sore itu bukan hanya karya, melainkan jejak pengabdian yang panjang terhadap seni di Aceh.
Ranup menjadi pembuka.
Teuku Ramoes pada vokal, Deddy Mulia di drum, Ipan pada gitar, dan Wawa pada bass membawakan Reugam, Saboh Keunangan, Judo, lalu Acehku. Empat lagu dengan warna yang berbeda, tetapi saling menyambung.
Judo memperlihatkan bahwa bahasa Aceh masih sangat mungkin tumbuh di tengah musik populer hari ini. Bahasa daerah tidak harus diperlakukan sebagai peninggalan masa lalu. Ia dapat hidup bersama generasinya sendiri.
Penutupnya, Acehku, membawa suasana berubah. Karya cipta Deddy Mulia itu tidak hanya berbicara tentang tanah Aceh, melainkan tentang hubungan manusia dengan hutan, laut, bahasa, dan warisan yang ditinggalkan para pendahulu. Bagian rap yang memadukan bahasa Indonesia dan Gayo terasa sebagai pengingat bahwa identitas tidak selalu dibangun dengan mempersempit batas, tetapi juga dengan memperluas ruang kebersamaan.
Pertanyaan yang tertinggal setelah Ranup selesai sederhana: masihkah bahasa Aceh berbicara kepada generasinya sendiri?
Jawabannya datang melalui kontributor berikutnya.
Unix, Mol-B, Aresh, dan Scarion dari Aceh Beatbox Community memasuki arena tanpa membawa satu pun alat musik. Mereka memperkenalkan materi dari album terbaru, "Rollin", kumpulan freestyle beatbox orisinal hasil proses kreatif komunitas mereka sendiri.
Yang menarik perhatian saya justru bukan kerumitan tekniknya. Anak-anak tetap bermain skateboard. Mereka meluncur, jatuh, bangkit, lalu mencoba lagi. Musik urban dan olahraga urban berlangsung berdampingan tanpa saling menguasai ruang. Pemandangan sederhana seperti ini justru memperlihatkan bahwa seni tidak selalu membutuhkan panggung yang eksklusif.
GAES kemudian tampil melalui Maimunzir (vokal), Ebon (gitar), Safwan (piano), dan Yus (bass). Mereka membawakan Poh Bandet dan Hak Reman, dua karya yang lahir dari kegelisahan sosial. Poh Bandet menggunakan istilah "bandet" sebagai metafora bagi berbagai praktik yang dibiarkan tumbuh dan dipelihara, seolah telah menjadi bagian yang lumrah dalam kehidupan. Pilihan yang ditawarkan lagu ini sederhana sekaligus menohok: menjadi bagian dari "bandet", atau berani memukulnya. Sementara Hak Reman mengingatkan bahwa kemajuan sering kali terhambat bukan karena ketiadaan kemampuan, melainkan karena kebiasaan saling menjatuhkan, iri terhadap keberhasilan orang lain, dan enggan memberi ruang bagi perubahan. Kritik sosial seperti ini sejak lama hidup dalam hikayat, syair, dan tradisi tutur Aceh. GAES meneruskannya melalui musik, sehingga lagu bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga cara membaca kenyataan.
Suasana kemudian bergeser ketika Jamal Taloe (Jimbey), Munzir, dan Denny Syukur tampil sebagai Bertiga. Tidak ada susunan komposisi yang benar-benar baku. Jimbe, bass, dan gitar saling merespons dalam ruang improvisasi yang terus berkembang. Mereka tidak sedang mempertontonkan keterampilan memainkan instrumen, melainkan memperlihatkan bagaimana pengalaman panjang dapat diterjemahkan menjadi kepekaan untuk saling mendengar. Di tangan mereka, musik terasa seperti percakapan yang mengalir tanpa perlu saling mendominasi. Barangkali inilah bentuk kolaborasi yang paling dewasa: setiap orang tetap utuh dengan karakternya, tetapi mampu memberi ruang bagi yang lain untuk tumbuh bersama.
Menjelang Maghrib, Iwan Setiawan menutup rangkaian kontributor karya kreatif melalui pembacaan puisi Apa Mau Kalian, Jayakarta. Puisi itu membawa kegelisahan tentang relasi Aceh dengan kekuasaan, sejarah eksploitasi sumber daya, bencana, hingga rasa keadilan yang terus dipertanyakan. Setelah sore dipenuhi musik, puisi hadir sebagai ruang kontemplasi. Ia mengingatkan bahwa kesenian tidak selalu bertugas menghibur. Pada saat tertentu, ia perlu menyampaikan kegelisahan yang tidak cukup diucapkan melalui percakapan biasa.
SPS Revival baru kembali dimulai. Terlalu dini menyebutnya berhasil. Terlalu tergesa pula jika mengukurnya hanya dari jumlah penonton atau banyaknya penampil.
Yang saya lihat justru lebih sederhana.
Warga datang dan pergi. Anak-anak tetap bermain. Musisi senior memilih hadir tanpa meminta panggung. Generasi muda membawa karya baru. Seusai acara, percakapan berpindah ke grup WhatsApp. Yang dibahas bukan siapa yang paling hebat tampil, melainkan bagaimana ruang seperti ini dapat terus dijaga, bagaimana orang-orang bisa kembali bertemu, saling percaya, lalu bekerja sama.
Menjelang azan Maghrib, kabel mulai digulung. Peralatan dibongkar. Anak-anak membawa pulang skateboard mereka. Para musisi saling bersalaman sebelum kembali ke rumah masing-masing.
Tidak banyak yang tersisa di arena.
Percakapannya justru mulai berjalan.
Tentang siapa yang belum sempat tampil. Dokumentasi yang harus diperbaiki. Siapa lagi yang perlu diajak. Apa yang bisa dibuat pada perjumpaan berikutnya.
Saya kira, dari sanalah SPS Revival benar-benar bekerja.
Bukan ketika panggung berdiri.
Melainkan ketika orang-orang mulai merasa perlu datang kembali.
