Konten dari Pengguna

Sebuah Kota Bernama Skatepark

Ari J  Palawi

Ari J Palawi

Praktisi dan Akademisi Seni, Warga Kota Banda Aceh

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ari J Palawi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kardo National Stage Qualifier 2026 di Banda Aceh, Sabtu (18/7), memperlihatkan bagaimana sebuah arena olahraga dapat menjadi ruang tumbuhnya komunitas, kreativitas, dan cara baru memaknai ruang publik.

Flyer informasi kegiatan SPS Revival, menyelimuti arena Kardo National Stage Qualifier. Designed by Ari.
zoom-in-whitePerbesar
Flyer informasi kegiatan SPS Revival, menyelimuti arena Kardo National Stage Qualifier. Designed by Ari.

Sejak pagi, Skate Park Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, dipenuhi bunyi roda yang bergesekan dengan beton. Para skater bergantian memasuki lintasan, rider BMX menyiapkan giliran, komunitas breaking memadati sisi arena, sementara penonton terus berdatangan hingga sore. Di tempat inilah Kardo National Stage Qualifier 2026 digelar, menjadi bagian dari rangkaian seleksi menuju Kardo World Final di Rusia.

Banyak orang akan mengingat hari itu sebagai sebuah kompetisi. Mereka akan mengingat nama para pemenang, trik-trik terbaik yang berhasil dituntaskan, atau sorak penonton ketika sebuah lompatan mendarat sempurna.

Namun setelah beberapa jam berada di arena, perhatian saya justru bergeser ke hal lain.

Kompetisi ternyata hanya bagian yang paling mudah terlihat.

Di baliknya terdapat kerja yang berlangsung jauh lebih lama daripada satu hari penyelenggaraan.

Di tengah pertandingan, perhatian saya beberapa kali tertuju kepada Nainunis, juga di sapa Nay NBC, Penggerak Komunitas Skate Aceh. Ia hampir tidak pernah berada di satu tempat lebih dari beberapa menit. Seusai berbicara dengan peserta, ia berpindah menemui panitia, lalu kembali memastikan jalannya perlombaan. Sesekali menyambut tamu dari luar daerah, lalu kembali lagi ke lintasan. Pekerjaan seperti ini hampir tidak pernah muncul dalam foto-foto kemenangan walau justru di sanalah kualitas sebuah penyelenggaraan dibangun.

Komunitas skate Aceh memperlihatkan bahwa sebuah kompetisi tidak lahir hanya karena ada peserta dan arena. Ia tumbuh dari orang-orang yang bersedia mengurus hal-hal kecil, mengulang pekerjaan yang sama setiap tahun, serta menjaga kepercayaan agar terus hidup di antara mereka.

Pekerjaan itu belum selesai ketika perlombaan berakhir. Masih ada tahapan berikutnya yang harus dipersiapkan agar para pemenang benar-benar dapat mewakili Indonesia pada Kardo World Final.

Gerak, ritme, dan keberanian bertemu dalam satu arena. Breakdance melengkapi denyut Kardo tanpa menggeser pusat perhatiannya. Dok. pribadi.

Suasana sepanjang hari memperlihatkan wajah lain dari kultur skate.

Rider dari Medan, Jakarta, dan berbagai daerah lain berbaur dengan komunitas lokal. Musik hip hop dan house mengalun di sela pertandingan. Komunitas breaking menunggu giliran tampil. Fotografer berpindah dari satu sudut ke sudut lain. Anak-anak mencoba papan luncur untuk pertama kalinya, sementara orang tua menikmati pertandingan dari bawah rindang pepohonan.

Sulit memisahkan mana yang disebut olahraga, mana yang disebut seni, dan mana yang sekadar kehidupan sehari-hari.

Semuanya berlangsung bersamaan.

Bagi banyak komunitas urban di berbagai kota, keadaan seperti ini bukan sesuatu yang asing. Skateboarding tumbuh bersama musik, fotografi, video, seni rupa, dan berbagai bentuk ekspresi lainnya. Mereka saling memengaruhi karena lahir dari kebutuhan yang sama: menemukan ruang untuk berekspresi dan membangun komunitas.

Di tengah kompetisi, panitia memberi waktu beberapa menit bagi SPS Revival, sebuah wadah perjumpaan masyarakat kreatif kota yang berkesenian dan berkarya di Aceh bersama warga,

Saya membuka bagian singkat itu dengan satu kalimat.

"Mohon izin, kawan-kawan skater. Kami ingin berbagi ruang."

Saya memilih kata izin dengan sengaja.

Arena ini lebih dahulu dihidupkan oleh komunitas skate Aceh. Kehadiran SPS Revival bukan untuk mengambil perhatian dari acara utama, melainkan ikut merasakan semangat yang telah mereka bangun. Menghormati ruang yang sudah hidup merupakan langkah pertama sebelum menghadirkan bentuk ekspresi yang lain.

Saya juga menyampaikan satu gagasan yang selama ini saya yakini.

Inti dari inovasi adalah kolaborasi.

Hari itu kalimat tersebut tidak terdengar sebagai slogan. Ia hadir sebagai kenyataan yang sedang berlangsung di depan mata. Tidak ada Kardo tanpa komunitas. Tidak ada komunitas tanpa kepercayaan. Dan kepercayaan tidak lahir dari percakapan di media sosial, melainkan dari kesediaan untuk terus bekerja bersama.

Aceh membutuhkan lebih banyak karya. Bukan agar terlihat kreatif, tetapi agar memiliki daya tawar melalui gagasan dan kerja nyata. Keistimewaan daerah ini tidak cukup diwariskan sebagai cerita tentang masa lalu. Ia perlu terus diterjemahkan oleh generasi hari ini melalui bahasa yang mereka pahami—musik, papan luncur, film, tari, mural, fotografi, desain, hingga berbagai bentuk kreativitas lain yang tetap berpijak pada nilai-nilai lokal.

Sebelum sapaan itu, Oni Imelva membawakan dua lagu ciptaan Rozhatul Valica, yang sekaligus mengiringinya dengan gitar. Lagu "Zamim (Tanah)" dipersembahkan bagi para pengungsi di berbagai belahan dunia. Lagu "Atma Jejal" mengangkat suara para penyintas kekerasan seksual.

Penampilannya hanya berlangsung beberapa menit.

Namun justru di situlah terasa bahwa ruang publik mampu menampung lebih dari satu bentuk ekspresi. Kompetisi tetap berjalan sebagai pusat kegiatan, sementara musik hadir sebagai lapisan kecil yang memperluas makna peristiwa tanpa mengubah arahnya.

Zamin, formasi duo Oni Imelva (vokal) dan Rozhatul Valica (gitar), memecah keheningan usai rehat makan siang dan shalat dhuhur, dengan karya orisinal berjudul Tanah dan Atma Jejal. Dok. pribadi.

Bagi SPS Revival, momen itu bukan tujuan akhir.

Ia merupakan bagian dari proses yang lebih panjang melalui SPS Creative Method, sebuah cara belajar yang menempatkan seni sebagai pengalaman hidup sehari-hari. Karena itu, selepas Kardo, kegiatan akan kembali dilanjutkan melalui kurikulum SPS Revival yang dijadwalkan dimulai pada 25 Juli 2026. Perjumpaan di skatepark menjadi salah satu pelajaran yang dibawa pulang untuk diteruskan dalam ruang belajar berikutnya.

Dari arena itu pula muncul pertanyaan yang layak dipikirkan bersama.

Komunitas skate Aceh telah berkembang hingga mampu menghadirkan kompetisi yang terhubung dengan tingkat dunia. Mereka membangun regenerasi, memperluas jejaring, dan menunjukkan kemampuan mengelola kegiatan secara mandiri. Namun perkembangan itu belum sepenuhnya diimbangi oleh ketersediaan ruang publik yang aman, layak, dan memenuhi standar bagi olahraga aksi maupun berbagai aktivitas kreatif yang tumbuh bersamanya.

Pengalaman di Kardo memperlihatkan bahwa skatepark tidak lagi sekadar fasilitas olahraga.

Ia juga menjadi tempat belajar, mendokumentasikan karya, membangun jejaring, memperkenalkan produk kreatif, serta mempertemukan berbagai komunitas yang mungkin tidak pernah saling bertemu di ruang lain.

Karena itu, pengembangan skatepark seharusnya tidak berhenti pada pembangunan lintasan atau penambahan fasilitas teknis. Yang sedang dipertaruhkan adalah kesempatan sebuah kota untuk memiliki ruang publik yang benar-benar hidup: terbuka, aman, inklusif, dan mampu mengakomodasi kerja-kerja kreatif lintas disiplin.

Menjelang sore, arena mulai lengang. Sebagian peserta pulang membawa kemenangan. Sebagian lain membawa pekerjaan rumah untuk latihan berikutnya. Panitia masih menyelesaikan urusan yang tersisa. Di sudut lintasan, beberapa anak tetap bermain, seolah hari itu belum selesai.

Metode kreatif yang dikembangkan dari pengalaaman seluruh peristiwa SPS sejak Februari 2026, sebagai arah pengingat keberlanjutan ekosistem kreatif yang sehat sekaligus kuat. Hybrid Intelegence designed.

Bagi SPS Revival, memang belum selesai.

Perjumpaan di Kardo National Stage Qualifier 2026 menjadi satu catatan penting dalam perjalanan yang lebih panjang. Bukan karena sempat menghadirkan dua lagu atau berbagi beberapa menit di tengah kompetisi, melainkan karena skatepark hari itu kembali mengingatkan bahwa seni selalu menemukan daya hidupnya ketika bertemu komunitas, menghormati ruang yang telah lebih dahulu tumbuh, lalu pulang membawa pengalaman baru.

Sabtu, 25 Juli 2026, kurikulum SPS Revival kembali dimulai.

Pengalaman dari skatepark akan masuk ke dalam proses itu; dibaca ulang, didiskusikan, didokumentasikan, lalu diolah menjadi karya-karya berikutnya. Bukan untuk mengulang apa yang telah terjadi, melainkan memperluas kemungkinan yang lahir darinya.

SPS Creative Method memang tidak dirancang untuk mengejar banyaknya pertunjukan. Yang dirintis adalah keberlanjutan: kebiasaan membaca kenyataan, mencipta dengan kesadaran, bekerja lintas disiplin, saling belajar, dan meninggalkan jejak yang dapat diteruskan oleh orang lain.

Kardo selesai sore itu.

Tampak dari kiri: Yopy, Pelatih Internasional BMX Freestyle sekaligus Kardo Ambassador Timor-Leste; Teja, Juara BMX asal Medan yang akan mewakili Indonesia ke Kardo World Final di Rusia; Nay NBC, Penyelenggara Kardo National Qualifier Banda Aceh dan Kardo Ambassador Maldives; Sora, Juara Breaking asal Malaysia yang lolos ke Kardo World Final di Rusia; serta Anwar, Kardo Asia Manager. Dok. pribadi.

Rintisan SPS Revival kembali berjalan.

Begitulah kiranya sebuah proses bertumbuh; tidak selalu ditandai oleh panggung yang besar, tetapi oleh kesediaan untuk terus belajar dari setiap perjumpaan, lalu memulai lagi dengan pemahaman yang lebih utuh.