Konten dari Pengguna

Seni, Data, dan Masa Depan Kampus: Eksperimen Besar Dimulai dari USK

Ari J  Palawi

Ari J Palawi

Senior Lecturer, Universitas Syiah Kuala

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ari J Palawi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banda Aceh — Di tengah dinamika pendidikan tinggi yang semakin terukur dan administratif, sebuah gerakan kecil di Universitas Syiah Kuala (USK) justru menawarkan pendekatan berbeda. Bukan melalui seminar atau forum formal, melainkan lewat sebuah ruang terbuka bernama Skate Park Stage.

Penulis selaku koord.sementara Inkubator Seni Universitas Syiah Kuala (USK), sedikit menjelaskan gerakan budaya artistik kampus yang memuarakan produksi Skate Park Stage ini (Foto: Aliva Fathira, 2026)
zoom-in-whitePerbesar
Penulis selaku koord.sementara Inkubator Seni Universitas Syiah Kuala (USK), sedikit menjelaskan gerakan budaya artistik kampus yang memuarakan produksi Skate Park Stage ini (Foto: Aliva Fathira, 2026)

Digelar pada Jumat, 3 April 2026 di kawasan Gelanggang USK, kegiatan ini sekilas tampak seperti agenda seni biasa: ada tarian, puisi, dan musik. Namun di balik itu, tersimpan upaya yang lebih dalam—menguji kembali bagaimana seni diposisikan dalam sistem akademik.

Selama ini, kegelisahan tentang pendidikan seni tidak pernah benar-benar hilang. Banyak yang merasa bahwa praktik kreatif kerap terjebak dalam standar yang tidak sepenuhnya selaras dengan karakter seni itu sendiri. Mahasiswa dituntut memenuhi indikator akademik yang rigid, sementara proses eksplorasi—yang justru menjadi inti pembelajaran seni—sering terpinggirkan.

Dalam situasi seperti itu, Skate Park Stage hadir sebagai semacam “prototipe”—ruang uji coba untuk mengembalikan seni ke prosesnya yang paling dasar: mengalami, mencoba, dan menemukan.

Sore itu, suasana Gelanggang Olah Raga, Darussalam berubah menjadi ruang hidup. Kegiatan dibuka dengan sajian tarian “Iniyak” oleh mahasiswa klas tari USK yang menghadirkan energi gerak berbasis tradisi. Setelah itu, panggung diisi dengan pembacaan puisi dari berbagai kelompok mahasiswa, disusul penampilan dari Muhrain dan Ari J. Palawi yang memberi nuansa reflektif.

Musik kemudian mengalir melalui penampilan Arai yang membawakan lagu From the Start dan That Somebody, diikuti eksplorasi musikal dari HIMA SENI USK. Menjelang senja, suasana ditutup dengan “Afternoon Blues” oleh Agil Shadiq.

Dengan kawalan langsung ibunda dan kaka' MC — menyangga mikrophon vokal dan ukulele demi penampilan terbaik Arai, melagukan From the Start by Lafey (Foto: Rizka Azzahra, 2026)

Namun esensi kegiatan ini bukan terletak pada ragam penampilannya.

Yang lebih penting adalah proses yang terjadi di balik setiap aksi di panggung.

Setiap penampilan menjadi bagian dari eksplorasi—ruang di mana mahasiswa tidak hanya tampil, tetapi juga menguji gagasan, membangun keberanian, dan menemukan bentuk ekspresi mereka sendiri. Di titik ini, seni tidak lagi sekadar output, melainkan metode belajar.

Pendekatan ini sekaligus menjawab persoalan klasik dalam pendidikan seni: jarak antara teori dan praktik. Dalam Skate Park Stage, keduanya dilebur. Mahasiswa belajar bukan dari simulasi, tetapi dari pengalaman langsung.

Lebih jauh, kegiatan ini tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan gagasan yang lebih besar: pengembangan Inkubator Seni berbasis riset.

Konsep ini berangkat dari kesadaran bahwa aktivitas seni di kampus sebenarnya sudah berlangsung aktif, namun belum terintegrasi dalam satu sistem yang mampu mengonversinya menjadi pengetahuan, data budaya, maupun nilai yang lebih luas.

Melalui Inkubator Seni, praktik kreatif diharapkan tidak berhenti sebagai pertunjukan sesaat. Karya dapat didokumentasikan, dikembangkan menjadi publikasi, hingga berkontribusi pada ekosistem akademik yang lebih terstruktur.

Eksplorasi musikal dari Himpunan Mahasiswa (HIMA) Prodi Pendidikan (SENI) USK (Foto: Aliva Fathira, 2026)

Dalam kerangka ini, Skate Park Stage berfungsi sebagai living lab—ruang produksi nyata tempat proses penciptaan berlangsung sekaligus menjadi sumber data dan pengalaman.

Model seperti ini sebenarnya bukan hal baru dalam wacana global. Pendekatan practice-based research telah lama menempatkan praktik sebagai bagian dari metode penelitian. Namun dalam konteks lokal, implementasinya masih terbatas.

Karena itu, apa yang dilakukan di USK bisa dibaca sebagai langkah awal—bukan solusi final, tetapi eksperimen yang membuka kemungkinan.

Di sisi lain, gerakan ini juga membawa refleksi yang lebih luas tentang wajah kampus ke depan. Selama ini, ruang-ruang kampus cenderung didominasi oleh aktivitas formal. Padahal, potensi kreatif mahasiswa sangat besar jika diberi ruang yang lebih cair dan terbuka.

Bayangkan jika seni tidak hanya hadir dalam event tertentu, tetapi menjadi bagian dari keseharian kampus. Lorong yang dipenuhi karya visual, ruang terbuka yang hidup dengan musik, hingga sudut-sudut yang menjadi tempat diskusi spontan.

Konsep “kampus hidup” seperti ini bukan sekadar idealisme. Di banyak tempat, ia telah menjadi bagian dari ekosistem pendidikan yang sehat—di mana kreativitas tumbuh berdampingan dengan akademik.

Di USK, benih ke arah itu mulai terlihat.

Yang membuatnya bergerak bukanlah kebijakan besar, melainkan partisipasi. Mahasiswa dan dosen terlibat secara langsung, membangun ruang bersama tanpa sekat yang kaku. Dari sinilah muncul energi kolektif yang menjadi dasar keberlanjutan.

Tim Inkubator Seni USK, kiri: Sandy Islamanda (penggagas sekaligus supervisor bidang produksi Skate Park Stage, tengah: penulis, kanan: Teuku Meldi Kesuma, Sekretaris PTN-BH USK sekaligus supervisor bidang Kemitraan dan Hilirisasi (Foto: T. Meldi, 2026)

Tentu, tantangan ke depan tidak kecil. Tanpa dukungan yang lebih luas, inisiatif seperti ini berisiko berhenti sebagai event temporer. Padahal potensinya jauh lebih besar: sebagai model pembelajaran, sebagai ekosistem kreatif, bahkan sebagai bagian dari pengembangan ekonomi berbasis budaya.

Karena itu, perhatian serius dari pemangku kebijakan menjadi penting—bukan untuk mengontrol, tetapi untuk memastikan bahwa ruang-ruang seperti ini bisa tumbuh dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, Skate Park Stage menunjukkan satu hal sederhana namun mendasar: perubahan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Ia bisa lahir dari ruang kecil, dari keberanian mencoba, dan dari keinginan untuk mengembalikan esensi belajar itu sendiri.

Dari sana, perlahan, sebuah arah baru mulai terbentuk.

Bukan sekadar tentang seni,

tetapi tentang bagaimana kampus membangun kehidupan di dalamnya.