Konten dari Pengguna

Yang Hilang dari Masa Kecil Kita Bukan Permainan, tetapi Perjumpaan

Ari J  Palawi

Ari J Palawi

Praktisi dan Akademisi Seni, Warga Kota Banda Aceh

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ari J Palawi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hari Anak Nasional 2026

Suara roda skateboard memecah sore. Dari sisi lain terdengar gitar yang masih mencari nada. Seorang remaja menggenggam mikrofon dengan tangan sedikit gemetar. Di belakangnya, anak-anak berlarian tanpa peduli siapa yang sedang tampil. Orang tua duduk berbincang di bangku taman. Sejumlah mahasiswa sibuk membantu menata pengeras suara. Matahari pelan-pelan turun di langit Banda Aceh.

Tidak ada yang luar biasa.

Justru suasana seperti inilah yang mulai jarang kita temui.

Setiap lompatan besar selalu diawali keberanian untuk meluncur. Di atas papan ini, seorang anak bukan hanya belajar skateboard, tetapi juga belajar percaya diri, bangkit, dan terus mencoba.Dok. pribadi.

Ketika berbicara tentang masa kecil, ingatan kita sering melompat pada permainan tradisional. Petak umpet, layang-layang, kelereng, atau sepak bola di lapangan kampung. Permainan memang penting. Ada sesuatu yang lebih mendasar yang perlahan ikut menghilang: perjumpaan.

Dulu, anak-anak tumbuh di tengah orang-orang dengan usia, pekerjaan, dan pengalaman hidup yang berbeda. Mereka mendengar cerita dari tetangga, belajar menghormati orang yang lebih tua, bercanda dengan teman sebaya, mengenal pedagang langganan, bahkan belajar meminta maaf setelah bertengkar. Semua berlangsung tanpa kurikulum. Tanpa jadwal. Tanpa disadari.

Begitulah sebuah lingkungan mendidik.

Hari ini, dunia anak jauh lebih luas sekaligus lebih sempit. Mereka dapat berbicara dengan siapa saja melalui layar, mengikuti berbagai komunitas digital, bahkan mengenal budaya dari negara lain hanya dalam hitungan detik. Pada saat yang sama, kesempatan bertemu langsung dengan orang-orang di sekitar tempat tinggalnya justru semakin sedikit. Banyak ruang bersama berubah menjadi tempat yang hanya dilewati, bukan lagi tempat untuk saling mengenal.

UNICEF, melalui Child Friendly Cities Initiative, menempatkan partisipasi anak dalam kehidupan kota sebagai salah satu ukuran kota yang ramah anak. Anak membutuhkan kesempatan untuk hadir, bermain, menyampaikan pendapat, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. UN-Habitat juga mengingatkan bahwa kualitas ruang publik tidak diukur semata dari bangku, taman, atau fasilitasnya, melainkan dari kemampuannya mempertemukan warga dan membangun rasa saling percaya.

Anak-anak, remaja, orang tua, dan komunitas dalam satu ruang. Dok. pribadi.

Bagi saya, gagasan itu terasa akrab dengan kehidupan masyarakat Aceh. Sejak lama kita mengenal meuseuraya, peumulia jamee, kenduri, meunasah, hingga berbagai tradisi yang mempertemukan orang dalam satu ruang. Nilai utamanya bukan acaranya. Nilai utamanya ialah kebiasaan hidup bersama. Anak-anak belajar dengan melihat bagaimana orang dewasa berdialog, bekerja sama, menyelesaikan perbedaan, lalu pulang sebagai bagian dari komunitas yang sama.

Warisan seperti ini tidak tercatat sebagai bangunan bersejarah.

Ia hidup melalui kebiasaan.

Karena itu, kehilangan ruang perjumpaan sesungguhnya bukan sekadar kehilangan tempat berkumpul. Kita sedang kehilangan cara mewariskan kebudayaan kepada generasi berikutnya. Seorang anak tidak belajar menghargai orang lain melalui slogan. Ia belajar ketika melihat seseorang diberi kesempatan berbicara tanpa dipotong. Ia belajar ketika menyaksikan orang yang baru mencoba tetap mendapat tepuk tangan. Ia belajar ketika orang dewasa berbeda pendapat tanpa saling merendahkan.

Pengalaman seperti itu sulit digantikan oleh layar.

Di Banda Aceh, berbagai inisiatif warga mulai menghidupkan kembali ruang-ruang semacam ini. Pemerintah menyelenggarakan beragam kegiatan publik yang semakin terbuka bagi keluarga, literasi, olahraga, dan seni. Di saat yang sama, komunitas-komunitas juga bergerak dengan cara mereka sendiri. Ada yang membuka ruang membaca, kelas kreatif, pertunjukan seni, diskusi, hingga kegiatan olahraga yang dapat diikuti siapa saja. Semua layak diapresiasi karena menghadirkan satu hal yang sama: alasan untuk bertemu.

Skate Park Stage Revival (SPS Revival) tumbuh dari semangat itu. Setiap Sabtu sore, skatepark tidak hanya menjadi arena olahraga. Musik, puisi, literasi, fotografi, ekonomi kreatif, dan berbagai komunitas berbagi ruang tanpa sekat. Anak-anak dapat menyaksikan musisi berbincang dengan skater. Mahasiswa bertukar pengalaman dengan pelaku UMKM. Penyair mendengarkan anak yang baru pertama kali membaca puisi. Tidak ada syarat untuk hadir selain kesediaan saling menghargai.

Seorang remaja tampil untuk pertama kali di SPS Revival. Dok. pribadi.

Yang pulang dari tempat seperti itu bukan hanya penampil yang membawa pengalaman baru. Orang tua membawa keyakinan bahwa masih ada ruang yang aman bagi putra-putrinya. Remaja membawa keberanian untuk mencoba lagi minggu depan. Relawan membawa teman baru. Komunitas menemukan kemungkinan kolaborasi yang sebelumnya tidak pernah direncanakan.

Nilai terpentingnya tidak selalu tampak pada hari itu juga.

Ia tumbuh perlahan, melalui kebiasaan untuk saling hadir.

Hari Anak Nasional sering diperingati dengan ajakan melindungi anak. Ajakan itu tentu penting. Ada pekerjaan lain yang tidak kalah mendesak: memastikan mereka memiliki cukup banyak kesempatan untuk bertemu manusia yang baik. Bukan manusia yang sempurna, melainkan orang-orang yang bersedia mendengar, berbagi pengalaman, menghargai perbedaan, dan membuka ruang agar orang lain ikut bertumbuh.

Flyer SPS Revival volume 10. Designed wby Ari.

Matahari akhirnya tenggelam. Suara gitar berhenti. Mikrofon dimatikan. Roda skateboard bergulir meninggalkan arena. Orang-orang pulang ke rumah masing-masing.

Yang tertinggal bukan panggung.

Yang tertinggal adalah ingatan.

Mungkin, bertahun-tahun dari sekarang, seorang anak tidak lagi mengingat lagu yang dimainkan sore itu atau siapa yang menjadi pembawa acara. Yang tetap hidup dalam dirinya adalah perasaan pernah diterima, pernah diberi kesempatan, dan pernah percaya bahwa kota ini memiliki tempat bagi siapa saja untuk tumbuh.

Barangkali, masa depan sebuah kota memang tidak dimulai dari bangunan yang megah. Ia lahir dari sore-sore sederhana ketika warganya masih bersedia saling bertemu, saling mendengar, lalu pulang dengan harapan yang bertambah sedikit daripada saat mereka datang.