Konten dari Pengguna

Catatan Harian Menantu Sinting: Potret Nyata Beban Perempuan setelah Menikah

Elisabeth Vanya

Elisabeth Vanya

Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UAJY

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Elisabeth Vanya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Instagram/@sorayaintercinefilms
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Instagram/@sorayaintercinefilms

Menikah bukan sekadar menyatukan dua kepala yang berbeda, tapi juga dua keluarga yang memiliki pandangan dan budaya masing-masing. Namun, dalam pernikahan, perempuan justru menjadi pihak yang banyak menanggung tuntutan dari mertua, adat, hingga masyarakat.

Film Catatan Harian Menantu Sinting merupakan film komedi drama yang rilis pada 18 Juli 2024 dan dibintangi oleh Raditya Dika (Sahat) dan Ariel Tatum (Minar). Film ini menceritakan tentang pasangan suami istri dari adat batak yang berusaha menghadapi kehidupan rumah tangganya bersama sang ibu mertua. Film ini bukan sekadar kisah rumah tangga biasa, tapi potret nyata bagaimana perempuan sering kali terjebak di antara cinta, tradisi, dan ekspektasi keluarga besar.

Dalam film ini, Minar dan Sahat digambarkan sebagai pasangan muda yang baru menikah dan memutuskan tinggal bersama mertua karena keterbatasan finansial. Dari sinilah konflik bermula. Mamak Mertua (Lina Marpaung), sosok ibu Batak yang keras dan teguh memegang adat, percaya bahwa kebahagiaan rumah tangga sejati baru bisa dibuktikan dengan hadirnya anak laki-laki sebagai penerus marga. Tekanan demi tekanan datang kepada Minar, yang hanya ingin menikmati awal pernikahannya dengan damai tanpa tekanan untuk segera memiliki anak.

Menariknya, Catatan Harian Menantu Sinting tidak menggunakan kalimat serius untuk menyampaikan pesannya. Dengan kemasan komedi, film ini justru mencerminkan realitas sosial yang menyakitkan. Banyak perempuan di dalam rumah tangga masih dinilai dari rahimnya, bukan dari dirinya. Setelah menikah, perempuan dituntut untuk segera memiliki anak, jika ditunda-tunda, akan mendapat sanksi sosial dari masyarakat. Minar yang saat itu ingin menunda memiliki anak karena belum siap secara mental justru dianggap egois dan tidak menghormati keluarga suaminya.

Dalam banyak budaya di Indonesia, kehadiran anak laki-laki masih dianggap lambang kehormatan keluarga. Nilai patriarki yang melekat kuat membuat perempuan seperti Minar harus menanggung ekspektasi besar tanpa mendapat hak untuk bersuara. Mereka dituntut sabar, harus bisa menyesuaikan diri, dan tetap terlihat bahagia meski batinnya tertekan. Film ini seperti mengetuk hati penonton tentang betapa beratnya menjadi perempuan yang berusaha bahagia di tengah tuntutan adat yang tak pernah berhenti menuntut kesempurnaan.

Ariel Tatum berhasil menghidupkan karakter Minar dengan sifat lembut namun tegas. Ia bukan tokoh yang melawan secara lantang, tapi berusaha untuk memahami dan mengambil sisi baik dari tuntutan itu. Minar adalah potret perempuan masa kini yang cerdas, penyayang, tapi juga lelah dengan ekspektasi sosial yang tidak adil. Sementara Lina Marpaung membawa karakter Mamak Mertua menjadi sosok yang tidak hanya keras, tapi juga manusiawi. Ia bukan tokoh antagonis, melainkan gambaran dari generasi yang tumbuh dalam budaya patriarki yang menekan, karena mengira itu bentuk kasih sayang.

Pesan paling membekas dari film ini muncul bukan pada akhir cerita, tapi pada setiap momen di mana Minar memilih diam namun tidak menyerah. Ia tidak mengubah keadaan, tapi ia berani mempertahankan dirinya di dalam keadaan yang berusaha mengatur segalanya. Sikap itu merefleksikan kenyataan perempuan Indonesia hari ini yang harus bekerja, mengurus keluarga, menanggung komentar sosial, dan tetap berusaha mencintai diri sendiri.

Film ini mengajarkan bahwa kehangatan keluarga seharusnya lahir dari saling menghormati, bukan dari tuntutan tradisi yang membebani salah satu pihak. Cinta sejati bukan diukur dari seberapa cepat seseorang bisa melahirkan anak, melainkan dari seberapa dalam ia memahami dan menerima pasangannya.

Catatan Harian Menantu Sinting mungkin dibuat dengan tawa, tapi sesungguhnya ia adalah potret tentang luka yang sering kali disembunyikan perempuan. Ia tidak berteriak, tapi berbicara dengan lembut tentang perjuangan yang begitu manusiawi. Lewat film ini, kita diingatkan bahwa di balik setiap lelucon tentang “menantu sinting”, ada perempuan yang berusaha tetap waras di tengah adat dan ekspektasi yang terus mengekang.