Flexing di Medsos: Kita Sedang Berbagi Kebahagiaan atau Jualan Mimpi Palsu?

Mahasiswi Fakultas Hukum, Universitas Katolik St. Thomas Medan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Teresiaa Sianturii tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak sih, lagi asik asiknya scrolling Instagram atau TikTok, tiba-tiba merasa "kecil" setelah lihat postingan teman yang lagi liburan mewah atau pamer self-reward barang branded? Padahal, mungkin lima menit sebelumnya kita merasa baik-baik saja dengan kopi saset di tangan.
Aku jadi teringat pengalaman pribadi waktu aku baru masuk ke lingkungan baru. pada waktu itu aku punya teman yang gayanya luar biasa. Selalu tampil dengan barang bagus dan terlihat seperti orang yang sangat berada. Tapi seiring waktu, topeng itu retak. Ternyata, kemewahan itu cuma panggung sandiwara demi menutupi gengsinya. Yang bikin nyesek, dia sampai tega membohongi orang tuanya soal pengeluaran bulanan demi bisa beli barang "estetik" buat konten dan pamer ketemen temen lain. Dia stres karena terjebak kebohongannya sendiri, hanya karena takut terlihat "biasa saja" di mata orang lain.
Itulah realita media sosial hari ini: sebuah panggung besar tempat semua orang berlomba jadi versi terbaik, meski kadang versi itu cuma editan.
Fenomena flexing alias pamer kekayaan ini sudah bukan lagi sekadar tren, tapi pelan-pelan jadi standar sosial baru. Data We Are Social 2024 menunjukkan ada 190 juta lebih pengguna medsos di Indonesia. Bayangkan, jutaan orang setiap hari disuguhi konten kemewahan yang sama. Akhirnya, muncul tekanan halus: kalau nggak pamer, berarti nggak sukses. Kalau nggak update, berarti ketinggalan.
Ilusi Kehidupan Sempurna
Masalahnya, batas antara "berbagi pencapaian" dan "pamer" itu makin tipis. Kita sering lupa kalau apa yang tampil di layar adalah highlight reel, bukan keseluruhan film. Orang cuma posting pas lagi senang, tapi jarang ada yang posting pas lagi pusing bayar tagihan atau gagal ujian.
Efeknya ngeri-ngeri sedap, terutama buat Gen Z dan remaja yang lagi cari jati diri. Mereka terjebak dalam perbandingan sosial yang nggak sehat. Muncul perasaan not good enough alias merasa nggak cukup, cuma karena standar hidupnya nggak setinggi selebgram yang mereka ikuti. Riset psikologi pun sudah sering mengingatkan: makin tinggi durasi medsos, makin rentan kita kena cemas dan depresi.
Gengsi yang Menjerat Dompet
Bukan cuma mental yang kena, dompet juga taruhannya. Demi terlihat "setara", banyak yang memaksakan gaya hidup di luar kemampuan. Fenomena pinjol (pinjaman online) atau pakai kartu kredit cuma buat beli barang biar bisa difoto itu nyata. Kita sering terjebak dalam "ekonomi panggung" seolah kaya di depan layar, tapi berdarah-darah di balik layar. Kasus penipuan atau investasi bodong yang pelakunya suka flexing adalah bukti nyata betapa haus kita akan pengakuan.
Lalu, Harus Gimana?
Kejadian ini bikin saya sadar: kesuksesan itu nggak harus selalu berisik. Kebahagiaan yang jujur itu nggak selamanya butuh jempol atau likes. Nilai diri kita nggak ditentukan oleh seberapa mahal barang yang kita pakai, tapi dari karakter dan kejujuran kita.
Penting bagi kita untuk punya literasi diri yang kuat. Jangan sampai demi gengsi di dunia maya, kita malah mengorbankan diri, masa depan dan hubungan baik dengan orang-orang terdekat, terutama orang tua.
Medsos harusnya jadi alat buat terhubung, bukan arena bertarung untuk saling sikut soal siapa yang paling kaya. Yuk, mulai sekarang kurangi ngejar validasi semu dan balik lagi ke dunia nyata yang mungkin nggak se-estetik filter Instagram, tapi jauh lebih tenang dan jujur.
Kalian pernah mengalami hal serupa juga ga? tulis dikolom komentar yakk!!!
