Konten dari Pengguna

Terlalu Benar di Kampus, Kalah Inisiatif di Dunia Kerja

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Slamet Supriyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ruang kuliah adalah komunitas belajar dan berdiskusi untuk memahami konsep secara teoritis dan kontekstual. Foto: Slamet Supriyadi
zoom-in-whitePerbesar
Ruang kuliah adalah komunitas belajar dan berdiskusi untuk memahami konsep secara teoritis dan kontekstual. Foto: Slamet Supriyadi

Oleh: Slamet Supriyadi

"Kampus fokus melatih mahasiswa menjawab benar, sementara dunia kerja menuntut karyawan menemukan jawaban ketika tidak ada jawaban yang benar." -- Slamet Supriyadi.

Selama bertahun-tahun, mahasiswa dilatih dalam logika biner: jawaban benar atau salah dan argumen harus didukung literatur. Dosen menuntut kutipan, buku teks menuntut kepatuhan. Pola ini efektif menghasilkan rigor, tetapi gagal menghasilkan agency.

Ketika lulusan masuk masyarakat nyata — menghadapi krisis ekonomi yang tidak bisa dijelaskan oleh satu teori tunggal, atau konflik ekologi yang melibatkan kepentingan ekonomi, budaya, dan politik sekaligus — mereka macet. Tidak ada kunci jawaban di buku teks. Wagner (2010) dan Trilling & Fadel (2009) menyebutnya achievement gap abad 21, krisis inisiatif saat berhadapan dengan masalah yang ambigu dan tidak terstruktur.

Dosen dan Perspektif Kacamata Kuda

Dosen berlatar belakang matematika membawa warisan Auguste Comte (1830/1975): Positivisme. Hanya yang terukur yang sah. Hanya yang empiris yang valid.

Kelebihannya tak terbantahkan, mereka kuat di hilir. Mereka menuntut Indikator yang valid dan Bukti empiris yang cukup. Mahasiswa dilatih tidak membuat klaim kosong.

Namun mereka rapuh di hulu. Ketika paradigma positivisme dipaksakan untuk menjelaskan manusia, ia patah pada dua titik: Konsepsi dan Model.

Siswa direduksi menjadi entitas biner — patuh/melanggar, tuntas/tidak tuntas. Padahal perilaku adalah gejala, bukan akar. Inilah yang dikritik Paulo Freire (1970) sebagai banking concept of education: siswa adalah wadah kosong yang menunggu setoran pengetahuan.

Hasilnya dapat diprediksi secara perkembangan intelektual. Perry (1970) menunjukkan mahasiswa yang bergantung pada otoritas eksternal akan terjebak di posisi multiplism — tahu ada banyak jawaban, tapi tidak mampu menilai secara mandiri. Baxter Magolda (1992) menyebutnya absolute knowing: kebenaran hanya milik dosen dan buku. Saat otoritas itu hilang di dunia kerja, mereka mengalami kelumpuhan inisiatif.

Rantai penalaran yang ideal adalah: Paradigma → Teori → Konsepsi → Indikator → Model → Bukti. Pendekatan matematis yang kaku memutus rantai di tengah: ia melompat dari Teori langsung ke Indikator, tanpa Konsepsi yang manusiawi.

Kutub Kedua: Ketika Ilmu Sosial Kehilangan Jangkar

Dosen berlatar belakang Ilmu Sosial unggul di hulu. Mereka kuat pada Paradigma dan Teori.

Mereka memahami prinsip Vygotsky (1978): belajar adalah proses sosial dan kultural. Mereka bertanya mengapa, bukan hanya apa. Mereka mengajarkan empati, konteks, dan kemampuan mensintesis — persis seperti yang dituntut Dewey (1938) dengan learning by doing dan Schön (1983) dengan reflection-in-action.

Ini adalah mesin pencetak kreativitas. Beghetto & Kaufman (2014) membuktikan, calon guru yang diberi ruang untuk praktik inovatif mampu bertransisi dari kekacauan menuju kreativitas.

Tetapi tanpa jangkar metodologis, pendekatan ini melayang. Ia kuat di Konsepsi, tapi lemah di Model dan Bukti. Narasi menjadi anekdotal, solusi menjadi utopis, dan intervensi tidak terukur. Ia menghasilkan pemikir yang kaya ide, tapi miskin eksekusi.

Jika kutub pertama menghasilkan teknisi yang tumpul secara sosial, kutub kedua menghasilkan humanis yang lemah secara sistematis.

Prinsip Integrasi Presisi dan Empati

Proposal transformasi pendidikan — seperti yang tertera pada gambar acuan — hanya dapat dipertanggungjawabkan jika ditopang enam pilar yang utuh: paradigma yang relevan, teori yang menjelaskan mekanisme, konsepsi yang jelas, indikator yang valid, model yang memadai, dan bukti empiris yang cukup.

Tidak ada satu disiplin yang bisa memenuhi keenamnya sendirian.

Dunia kerja abad 21 tidak membutuhkan lulusan yang hanya bisa menjawab soal pilihan ganda. Ia membutuhkan apa yang disebut National Research Council sebagai T-shaped professional: mendalam secara metodologis, tetapi luas secara humanis.

Bukti empiris mendukung integrasi ini. NCSS (2016) dan Bybee (2013) menunjukkan bahwa pembelajaran yang menggabungkan ketelitian STEM dengan konteks sosial nyata justru meningkatkan kemampuan pemecahan masalah sekaligus kesadaran sosial. Zeidler (2016) menyebutnya pendekatan transdisipliner: memecah sekat, bukan mencampuradukkan.

Simpulan

Dari Mesin Pencari Kebenaran Menjadi Perancang Solusi

Kekurangan terbesar pengajaran yang terlalu matematis bukanlah kurangnya data, melainkan hilangnya kemanusiaan. Kekurangan pengajaran yang terlalu sosial bukanlah kurangnya kepedulian, melainkan hilangnya presisi.

Tugas Psikologi Pendidikan bukanlah memilih salah satunya. Tugasnya adalah menjadi jembatan.

Rumusnya sederhana dan harus diajarkan secara eksplisit:

Matematika mengajarkan kita bagaimana membuktikan bahwa solusi itu benar. Ilmu Sosial mengajarkan kita bagaimana menemukan solusi ketika tidak ada solusi yang benar.

Hanya dengan menggabungkan keduanya, kita akan berhenti mencetak lulusan yang terlalu benar di kampus tapi kalah inisiatif di dunia kerja.