Ternyata Begini Rasanya 'Kehilangan' 2 Anak Perempuan

Work. Write. Repeat. Berusaha untuk Berguna untuk orang lain
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Apria W Alfisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dulu sekali, sekitar tahun 2000 ketika pergi melangkah keluar Jogja dan tinggal di Bandung, rasanya mau pulang kampung, tuh, banyak pertimbangan. Ngapain, ya? paling 'hanya' nengok orang tua. Yang paling dikenang masa itu adalah proses perjalanannya, naik kereta ekonomi, duduk di gerbong kereta pembangkit. Merasakan panasnya udara dari mesin diesel, terutama saat kereta berhenti. Mau sedikit agak nyaman, naik bus dari Cicaheum ke Purwokerto, baru lanjut ke Jogja. Masa itu, nggak berani pesan tiket. Karena libur kerjanya nggak jelas. ๐
Waktu berlalu, saya akhirnya menikah dan memutuskan untuk membangun keluarga di Bandung. Ketika anak pertama lahir, ada rasa yang berbeda ketika 'pulang' ke rumah orang tua. Ada rasa rindu orang tua ke anak yang terselip dan muncul di cucunya.
Saya merantau dan istri ketika menikah dengan saya sudah tidak ada orang tuanya, praktis kami tidak pernah berpisah dengan anak-anak. Nggak pernah dititipkan. Nyaris 24 jam selalu bersama. Sekitar tahun 2020 anak pertama masuk pesantren. Masih musimnya wabah Covid-19. Awalnya pembelajaran secara daring.
Nah, tibalah saatnya harus mondok beneran. Saatnya berpisah dengan anak pertama. Tidak banyak drama, karena masa pandemi, kami orang tua hanya boleh drop anak dan melihat dari jauh anak masuk asrama. Aman. Masih ada 1 anak perempuan di rumah.
Setelah lulus 3 tahun di jenjang SLTA, anak kami ini melanjutkan kuliah di luar Bandung. Di Unsoed Purwokerto. Sesekali liburan pulang ke Bandung, termasuk saat lebaran pasti berkumpul dan mudik bareng ke Jogja. Sesekali kami juga yang datang berkunjung menengok ke Purwokerto. Saat ini masih di Purwokerto sedang melaksanakan KKN.
Tiba juga akhirnya waktu mengantarkan anak ke-2 ke pesantren. Rasanya nggak tega ketika melihat anak merasa takut, sedih, bahkan sesekali menangis. Awalnya saya mengira akan lancar-lancar saja, toh, dia juga yang minta untuk masuk pesantren, dan kami sebagai orang tua tidak pernah memaksa.
Rasanya ada yang hilang ketika anak tiba-tiba memeluk sebelum pisah masuk ke asrama. Paling tidak 40 hari ke depan kami tidak bisa berjumpa secara fisik. Mungkin terasa berat juga ketika mengantarkan anak kali ini, pulang hanya berdua. Beda dulu ketika mengantarkan anak yang pertama, pulang masih bertiga dengan yang kecil ini, bahkan saat mengantarkan anak kos di Purwokerto pun, kami masih pulang bertiga.
Apalagi ketika momen masuk rumah, melihat kamar kosong tidak ada anak yang biasanya lagi scroll-scroll di kamar. Memang bukan tipe yang datang menyambut dengan heboh ketika ayahnya datang, tapi tetap beda rasanya melihat ada yang diam-diam menunggu ayahnya pulang.
Beberapa kali memang kadang hanya berdua di rumah karena anak harus mengikuti kegiatan outing, bermalam di sekolah atau di luar kota. Namun rasanya sangat beda jauh. Ini mungkin yang dirasakan orang tua saya ketika dulu melepas saya keluar kota Jogja.
Hikmahnya, saya harus lebih menyempatkan diri mengunjungi Ibu di Jogja, karena rasa kangen ke anak itu sudah saya rasakan juga. Cara terbaik untuk membayar rasa bersalah karena dulu jarang pulang, tentu dengan lebih sering meluangkan waktu untuk pulang.
Wallahu a'lam.
