Tersingkapnya Tumpukan Sampah Anorganik di Dasar Sungai

Peneliti Kesehatan Masyarakat dan Pemilik Klinik HA-Medika
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hardiat Dani S tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada pemandangan yang kerap luput dari perhatian kita ketika air sungai menyusut: sampah-sampah yang selama ini tersembunyi di bawah permukaan mulai menampakkan diri. Botol plastik, bungkus makanan dan berbagai material anorganik berserakan di dasar sungai, seolah menjadi bukti bisu dari persoalan lingkungan yang belum terselesaikan. Ketika air surut, sungai seperti sedang membuka rahasianya sendiri. Apa yang sebelumnya tidak terlihat bukan berarti tidak ada. Justru pada saat itulah kita berkesempatan melihat lebih jelas bagaimana perilaku manusia meninggalkan jejak di ruang ekologis yang semestinya dijaga bersama.
Sampah anorganik menjadi persoalan serius karena sebagian material, terutama plastik, membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai secara alami. Selama berada di lingkungan, sampah dapat menumpuk, terbawa arus, tersangkut pada struktur sungai atau terpecah menjadi bagian yang lebih kecil hingga berpotensi mencemari ekosistem perairan. Ketua Bidang X (Infrastruktur, Tata Ruang, Properti dan Perhubungan) BPC HIPMI Kendal, Dani Satria, menyebut bahwa tumpukan sampah juga dapat mengganggu aliran air, terutama ketika bercampur dengan material lain dan menyumbat bagian saluran yang sempit. Namun, persoalannya bukan semata-mata pada sampah yang terlihat menumpuk. Ada persoalan yang lebih mendasar, yakni kebiasaan memperlakukan sungai sebagai tempat pembuangan yang seolah-olah mampu menerima dan menghilangkan segala sesuatu tanpa konsekuensi.
Fenomena ini juga mengingatkan kita bahwa kebersihan sungai tidak cukup dinilai dari penampilan permukaannya. Sungai yang tampak jernih atau tidak dipenuhi sampah belum tentu terbebas dari pencemaran. Sebagian sampah mungkin telah terbawa ke hilir, tertimbun sedimen atau tersembunyi di bawah permukaan air. Karena itu, ketika dasar sungai mengering dan tumpukan sampah tersingkap, kita seharusnya tidak sekadar menganggapnya sebagai pemandangan yang mengganggu. Peristiwa tersebut perlu menjadi momentum untuk mengevaluasi hubungan manusia dengan lingkungan sekaligus meninjau apakah pengelolaan sampah selama ini telah berjalan dengan baik. Tanggung jawab tidak bisa dibebankan hanya kepada individu yang membuang sampah, tetapi juga perlu mencakup ketersediaan fasilitas persampahan, edukasi publik, pengawasan dan pemeliharaan sungai secara berkelanjutan.
Upaya mengatasi persoalan ini harus bergerak melampaui kegiatan bersih-bersih sesaat. Masyarakat perlu membiasakan pemilahan sampah dari rumah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan memastikan sampah dibuang melalui saluran pengelolaan yang semestinya. Pemerintah daerah perlu memperkuat layanan pengangkutan sampah, menyediakan fasilitas pembuangan yang mudah dijangkau, serta melakukan pemeriksaan dan pembersihan saluran air secara berkala. Kegiatan susur sungai dan pemetaan titik penumpukan sampah juga dapat melibatkan komunitas, sekolah, organisasi masyarakat, serta pelaku usaha. Yang tidak kalah penting, sampah yang telah terkumpul harus diangkut dan dikelola dengan benar, bukan sekadar dipindahkan dari dasar sungai ke tempat lain tanpa penyelesaian yang jelas.
Sungai bukanlah tempat untuk menyembunyikan sampah dari pandangan, melainkan bagian dari lingkungan hidup yang menopang kehidupan manusia dan makhluk lainnya. Ketika air surut dan sampah tersingkap, yang muncul bukan hanya persoalan kebersihan, melainkan juga cermin tanggung jawab ekologis kita. Kita tidak seharusnya menunggu sungai mengering untuk menyadari bahwa ada yang keliru dalam cara kita memperlakukannya. Menjaga sungai berarti membangun kebiasaan yang bertanggung jawab setiap hari, memastikan sistem pengelolaan sampah bekerja dan merawat lingkungan bahkan ketika kerusakannya belum terlihat. Sebab, sungai yang tampak bersih belum tentu benar-benar bersih dan sampah yang menghilang dari pandangan tidak pernah otomatis hilang dari persoalan.
