Sangkuni, Keledai, dan Politik Cakologi Mahasiswa

Hanya seorang Fresh Graduate yang telah menerima ijazah sebagai tanda pernah berfikir di Universitas Syiah Kuala dan sedang merintis untuk menjadi penulis meskipun buku-buku tak lebih hanya menjadi etalase di kamar ku.
Tulisan dari Teuku Muhammad Shandoya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dewasa ini realitas politik kampus acap selalu diwarnai dengan kehadiran Sangkuni di dalamnya, tidak perlu jauh mencarinya, terkadang karakter Sangkuni ada dalam setiap diri kita. Kebanyakan orang yang pernah mendengar hikayat Mahabharata pasti tau akan sosok antagonis yang dilakoni Sangkuni.
Sangkuni dalam pandangan banyak orang dimanifestasikan sebagai sosok yang memiliki perangai cerdas namun licik, yang mana karena hal tersebut telah menghantarkan terjadinya perang saudara pada Dinasti Kuru (Sanskerta: Kaurava).
Tidak ada orang yang menyangka bahwa yang pandai memainkan sihir pada dadu adalah sosok yang sangat licik. Karena kelicikannya menjalar dan mencuci otak pandangan dan sikap normal pemangku kekuasaan pada Kerajaan Hastinapura. Lingkaran kerajaan tak menyadari budaya licik itu mewabah dengan meracuni akal sehat, sehingga imbasnya mereka mudah memaklumi apa saja, apalagi kezaliman.
Sangkuni bertindak bak pendidik yang sangat baik di lingkungan kerajaan mencoba mendekati para Kurawa dan Prabu Destrarastra, hingga Sangkuni dipercayakan layaknya kaki dan tangannya prabu, di samping dendamnya Sangkuni terhadap kerajaan Hastinapura yang telah mengakibatkan kehilangan 100 orang keluarganya akibat dari perpolitikan yang ada di dalam kerajaan.
Sebab itu dendam kesumat dirinya sehingga menanamkan bibit-bibit disintegrasi dan kebencian yang seolah tak kelihatan di antara sesama. Memelintir kebenaran sebagai kendaraan mencapai tujuan pribadi maupun golongan, awalnya nurani mengingatkan, namun ayal menjadi keterusan berujung pada pembiasaan.
Perangai Sangkuni merasuk ke dalam setiap diri hingga memengaruhi dan memenangkan perut sendiri. Potret politik Sangkuni melambangkan kenaifan dalam kacamata sosial, jiwa Sangkuni senantiasa tetap ada dan mengganggu kedamaian bersama.
Sangkuni dimanifestasikan juga dalam dunia pertunjukan seni wayang, simbol mulut yang robek menjadi alarm berapa tajam dari ujaran serta kedamaian yang diusik. Menjadi pengingat bijak dalam menggunakan mulut, jemari dalam menebarkannya, dan betapa sangat tidak bijaknya menghilangkan nurani dalam bertindak.
Berbanding 360 derajat dengan perpolitikan Sangkuni, dalam catatan Yunani Kuno oleh Homer dan Aesop, Keledai dilambangkan sebagai hewan yang dungu yang bisa saja melakukan kesalahan yang sama lebih dari satu kali. Karena sifat-sifatnya yang dianggap bodoh, budak, tetapi keras kepala. Dahulu untuk menggerakkan seekor Keledai, seorang majikan harus meletakan kail yang diikat wortel dan kail itu disangkut di bagian lehernya.
Karena hasrat makan yang diluar kata cukup, seekor Keledai akan mengejar wortel yang digantungkan itu dan tidak akan pernah terlintas pikiran bahwa wortel itu hanya siasat majikannya agar segera bergerak memanggul beban di punggungnya. Karena sifatnya yang mudah jinak Keledai seolah tenggelam oleh stigma kedunguan tersebut.
Di samping itu, bila berbicara nasib bangsa ke depannya adalah berbicara politik, kecacatan sebuah bangsa bergantung pada pilar kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan—mesti dimulai dari memberantas kebodohan karena memang kebodohanlah akar dari semuanya. Kebodohan yang paling terburuk adalah bodoh politik. Dan peri kebodohan itu tak ayal lagi merambah di banyak bidang kehidupan manusia, tak terkecuali kebodohan politik.
“Bodoh” adalah istilah dalam Al-Qur’an dalam salah satu ayat tertera dengan tegas:….. suruhlah mengerjakan kebaikan dan berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh” (Q.S. Al-A’raaf:199). Kebodohan yang tidak perlu agaknya cukup menginfiltrasi jagat kepolitikan dan perpolitikan di kampus.
Dalam hal ini antara Keledai dan Sangkuni sedikitnya relevan dan korelatif, sebuah filosofi kepemimpinan yang sangat signifikan perangainya, Sangkuni cenderung antagonis yang lihai dalam mengolah bahasa, membelokkan cerita, menebar kebencian, sedangkan Keledai cenderung hampir selalu disetir dalam setiap tindakannya. Keledai senantiasa mengikuti arus tanpa prinsip visioner.
Tulisan ini ditamsilkan ibarat orang/pemimpim yang memiliki perangai yang serupa layaknya Sangkuni dan Keledai. Filosofi keduanya membuar warna kepemimpinan dengan kultur dan polanya masing-masing, telebih politik Keledai hampir selalu mau terjebak di lubang yang sama dan terus direpitisi.
Politik Cakologi Mahasiswa
Alih seni cakologi pun dimainkan, istilah cakologi tidak ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI), Penulis mengambil istilah ini dari kebiasaan kosakata yang sering diucapkan sebagian masyarakat Aceh, “cako” atau lebih tepatnya “ek cako” adalah kotoran gigi yang tidak pernah disikat yang digambarkan sebagai penghalang objek primer yaitu “gigi”.
Dalam kebahasaan istilah cako bertansformasi dengan makna “tipuan”, tetapi lebih kurang jika kita tarik benang merah cako adalah sesuatu yang tidak diinginkan, selalu diperlihatkan ketika berbicara, warnanya menghilangkan keaslian warna asli gigi.
Keberadaannya secara hakiki sangat dilarang oleh dokter gigi. Persamaan makna inilah mungkin menjadi alasan diubahnya kata cako menjadi "tipu". Sedangkan kata logi berasal dari kata “logos” yang berarti “ilmu” sehingga dijadikan makna sebagai ilmu yang mempelajari tentang tipu-menipu, meskipun ilmu ini terkesan hanya sebutan atau guyon semata, namun praktiknya sangatlah nyata di lapangan.
Implementasi cakologi telah diterapkan baik itu secara sadar maupun tidak sadar dalam tindakan sehari-hari, mulai dari menipu lawan maupun kawan. Tidak disadari cakologi mendarah daging dalam sendi kehidupan masyarakat dengan praktik-praktik yang memudharatkan orang lain. Dalam hal ini perpolitikan mahasiswa selalu saja ada yang mengambil untung secara absolut dengan strategi tipu daya atau cakologi.
Tentunya ketiga variabel ini mempunyai implikasi secara umum, perbedaan perangai antara Sangkuni dan Keledai yang menampilkan signifikansi wajah perpolitikan, Sangkuni direpresentasikan ibarat manusia yang tak memiliki nurani dengan ilmu yang sok tinggi, dan Keledai direpresentasikan orang yang dungu dalam mengambil kebijakan, ada kalanya orang-orang yang berjiwa seperti Sangkuni meracuni orang seperti Keledai yang hanya mengikuti wortel yang diikat dengan kail di lehernya itu.
Keledai sangatlah mudah disetir ke mana saja ditambah dengan membawa beban yang sangat berat untuk dipikulnya, namun apa lacur Keledai takkan pernah memberontak, hal tersebut juga bertransformasi dalam jiwa-jiwa kepemimpinan dalam pepolitkan kampus, ada yang dikultuskan, ada juga yang menjadi budak perpolitikan, hingga sangat mudah dalam disetir untuk mencapai tujuan orang yang menyetir.
Demikian pun cakologi tiap harinya kita sibuk menutupi hal yang tampak jelas dengan ek cako tersebut, sehingga hal primer tertutupi dengan hal yang tidak jelas.
Perpolitikan kampus memang sangatlah menyerukan, anggap saja sebagai kawah candradimuka mahasiswa menuju perpolitikan yang nyata, namun sayangnya kita sering sekali baik itu sengaja maupun tidak sengaja menggunakan politik cakologi ala mahasiswa yang tak lain penuh dengan orientasi kemunafikan.
Dialektika bak intelektual tapi semua itu kosong, ada juga yang nir-narasi, dan ada juga yang sibuk mengkultuskan orang lain bak raja, padahal semua itu utopis yang berkepanjangan. Perpolitikan harus dibangun dengan cara yang sistem yang sehat dan komunikasi interpersonal antar mahasiswa juga haruslah sehat, maka dengan ini akan terwujudnya perpolitikan yang ideal di dalam kampus.
Hilangkan budaya Sangkuni dan Keledai serta politik cakologi demi kampus yang ideal dan berdikari.
Penulis bernama T. Muhammad Shandoya mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh
