Masyarakat Perlu Kritis Hadapi Paham Radikal seperti HTI

kumparanNEWSverified-green

clock
google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Diskusi NKRI dan ISIS (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Diskusi NKRI dan ISIS (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

Paham radikal dalam bernegara atau beragama, termasuk yang ingin mengganti ideologi negara seperti HTI, menjadi ancaman serius bangsa Indonesia. Perlu pendekatan khusus untuk menyelesaikannya, salah satunya lewat pendidikan.

Sosiolog asal Univeristas Indonesia, Thamrin Amal Tomagola, menyebutkan berpikir kritis jadi modal utama bagi seseorang untuk menangkal paham radikal tersebut.

[Baca juga: Survei SMRC: 78,4% Masyarakat Dukung Pemerintah Bubarkan HTI]

"HTI ini penyebarannya intelek, lewat dakwah dan perang wacana itu yang diutamakan," kata Thamrin dalam diskusi bersama Saiful Mujani Research Center, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu, (4/6).

Diskusi NKRI dan ISIS (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Diskusi NKRI dan ISIS (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

Menurutnya, gerakan seperti HTI yang ingin mendirikan khilafah atau negara Islam, menggunakan cara menyerang berpikir seseorang sehingga dasar pemikirannya goyah. Mereka yang meyakini Pancasila dasar negara, dibuat gamang dengan pentingnya negara Islam.

"Cara mereka itu critical ambiguity adalah mengangkat persoalan, diajak bicara, dilihat kerangka berpikir orang itu, dan ditebang satu-satu dan memasukan gagasan kekhalifahan," kata Tamrin.

[Baca juga: Muhammadiyah: Orang Indonesia Lebih Takut Begal daripada ISIS]

Karena itu Tamrin menghimbau, agar warga terutama generasi mudah harus belajar berpikir kritis agar memiliki pemahaman kuat. tentu juga dengan memperdalam pengetahuan tentang ideologi negara dan agama.

Thamrin pun menghimbau, pemerintah sekarang perlu selektif dalam mengesahkan sebuah ormas. "Harus dihimbau ke pemerintah jangan sembarangan menerima ormas," kata Thamrin.

[Baca juga: Survei SMRC: Mayoritas Masyarakat Indonesia Menolak ISIS

Sejarawan Islam, Azyumardi Azra pun menarik lebih luas dengan menyebut pentingnya peran pendidikan guna memperkuat diri dari paha radikal. "Yang tidak boleh kurang adalah pendidikan," ucap mantan Rektor UIN Jakarta itu.

Kantor DPP HTI  (Foto: Aprillio Akbar/Antara)
zoom-in-whitePerbesar
Kantor DPP HTI (Foto: Aprillio Akbar/Antara)