Saldi Isra yang Gugup saat Dicecar Pansel Hakim Konstitusi

Guru Besar Hukum Tata Negera Universitas Andalas, Saldi Isra, mengikuti seleksi tahap akhir hakim konstitusi. Setelah dicecar beberapa pertanyaan oleh panitia seleksi, Saldi mengaku timbul rasa gugup karena tidak biasa berada dalam posisi yang diseleksi.
Dalam beberapa kesempatan, Saldi Isra dipercaya pemerintah untuk menjadi anggota tim seleksi pimpinan lembaga tertentu. Paling anyar, dia menjadi bagian dari tim yang menyeleksi penasihat Komisi Pemberantasan Korupsi.
Ketika berada dalam posisi dicecar penguji, Saldi gugup karena ternyata ada pertanyaan yang tidak dia ketahui. "Misalnya tadi ditanya soal kode etik. Saya kaget. Waduh ini saya tidak ingat. Yang saya tahu ada kode etik. Tapi nomornya tidak ingat. Jadi ada kejutan-kejutan," kata Saldi usai seleksi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (27/3).
Meski sadar tidak menguasai seluruh aspek di Mahkamah Konstitusi, Saldi tidak menyiapkan diri jelang seleksi akhir. Apalagi, kesibukan juga tengah menghimpit waktunya. "Karena keseharainnya saya bergerak di isu-isu konstitusi, juga orang yang saban waktu memperhatikan MK. Jadi tidak ada persiapan juga. Orang kemarin saja saya masih seleksi calon penasihat KPK sampai jam 8 malam. Sampai hotel tidur," sebut Saldi.
Ketika ditanyai perihal makalahnya dalam wawancara terbuka, Saldi menawarkan satu konsep baru untuk Mahkamah Konstitusi. Meuurutnya, perlu dibentuk Justice Office yang di dalamnya ada pakar hukum untuk mendukung pengetahuan hakim konstitusi.
"Misalnya kalau ada seseorang yang terpilih jadi hakim konstitusi pasti tidak paham semua hal. Saya misalnya yang belajar hukum tata negara, kalau berdebat jauh ke wilayah pidana, saya tidak paham. Di bawah jauh ke jalur perdata saya pasti tidak memiliki bekal yang cukup kuat. Apalagi soal-soal di luar itu," paparnya.
Baca juga : 12 Orang Lolos Seleksi Calon Hakim MK
