Konten dari Pengguna

Yang Mengancam Bukan Sekadar Sampah, Melainkan Penyakit yang Mengikutinya

Tewiq Azzura

Tewiq Azzura

Mahasiswi Kedokteran Gigi Universitas Diponegoro

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
20
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tewiq Azzura tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tim KKN UNDIP meletakkan tempat sampah terpilah untuk warga Desa Ngerjo sebagai langkah nyata mendorong kebiasaan memilah dan membuang sampah dengan tepat.
zoom-in-whitePerbesar
Tim KKN UNDIP meletakkan tempat sampah terpilah untuk warga Desa Ngerjo sebagai langkah nyata mendorong kebiasaan memilah dan membuang sampah dengan tepat.

NGERJO, Kendal (25/7) — Asap pembakaran bonggol jagung memenuhi posko mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro di Desa Ngerjo. Sore itu, seorang warga membakar sisa hasil pertanian di lahan kosong yang berjarak hanya beberapa meter dari posko.

Dalam waktu singkat, asap masuk ke dalam posko. Beberapa mahasiswa yang tengah beristirahat terbangun karena kesulitan bernapas. Anak-anak yang sedang bermain di sana turut mengeluhkan hal serupa dan meminta masker. Tim KKN kemudian membagikan masker yang tersedia di posko.

Kejadian tersebut menjadi gambaran langsung mengenai risiko pembakaran terbuka yang masih dilakukan untuk mengurangi sisa hasil pertanian dan sampah di lingkungan warga.

Di Desa Ngerjo, Kecamatan Ringinarum, Kabupaten Kendal, pembakaran menjadi salah satu cara yang digunakan untuk mengurangi timbunan sampah. Sebagian sampah rumah tangga juga dibuang dan dibiarkan menumpuk di area terbuka, termasuk di sekitar hutan jati dan lahan pertanian yang tidak jauh dari permukiman.

Keterbatasan pengelolaan sampah membuat cara-cara tersebut dianggap praktis. Padahal, tumpukan sampah dapat menjadi tempat berkembangnya nyamuk, lalat, dan tikus yang berpotensi meningkatkan risiko berbagai penyakit, seperti demam berdarah dengue (DBD), leptospirosis, dan gangguan saluran pencernaan. Sementara itu, pembakaran terbuka menghasilkan polutan, termasuk partikel halus PM₂.₅ dan karbon monoksida, yang dapat mengganggu kesehatan, terutama sistem pernapasan.

Namun, persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan udara yang tercemar atau lingkungan yang kotor. Ada aspek kesehatan lain yang masih jarang dibicarakan, yakni kesehatan gigi dan rongga mulut.

Hal tersebut menjadi bagian dari edukasi yang dibawa Tewiq, salah satu mahasiswi Program Studi Kedokteran Gigi Universitas Diponegoro yang tergabung dalam kelompok KKN UNDIP Tahun 2026 di Desa Ngerjo. Dalam sosialisasi pengelolaan sampah, Tewiq bersama tim menyampaikan berbagai risiko kesehatan yang dapat muncul ketika sampah tidak dikelola dengan baik.

Tewiq menyampaikan materi edukasi mengenai dampak pengelolaan sampah terhadap kesehatan tubuh serta kesehatan gigi dan rongga mulut kepada masyarakat Desa Ngerjo dan aspek psikologi dibaliknya.

Dari perspektif kedokteran gigi, Tewiq menjelaskan bahwa kondisi lingkungan dan paparan asap dapat menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam menjaga kesehatan rongga mulut. Salah satu komponen penting dalam perlindungan rongga mulut adalah saliva atau air liur. Saliva membantu membersihkan sisa makanan, menjaga keseimbangan pH, serta melindungi permukaan gigi dan jaringan di dalam mulut.

Ketika fungsi perlindungan rongga mulut terganggu, berbagai masalah dapat lebih mudah muncul, mulai dari mulut kering atau xerostomia, bau mulut atau halitosis, penumpukan plak, karies, radang gusi (gingivitis), hingga penyakit periodontal. Risiko tersebut juga dipengaruhi oleh kebiasaan menjaga kebersihan gigi dan mulut sehari-hari.

Materi kesehatan tersebut disampaikan melalui presentasi dan booklet yang dibagikan kepada masyarakat. Warga tidak hanya diajak memahami risiko dari pengelolaan sampah yang tidak tepat, tetapi juga melihat hubungan antara kebersihan lingkungan dan kesehatan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Dalam sesi diskusi, warga mengajukan pertanyaan mengenai dampak pembakaran sampah serta langkah sederhana untuk menjaga lingkungan dan kesehatan. Bagi sebagian peserta, keterkaitan antara pengelolaan sampah dan kesehatan gigi menjadi pengetahuan baru. Selama ini, persoalan sampah lebih sering dipahami melalui dampaknya terhadap kebersihan lingkungan atau penyakit seperti DBD dan diare.

Edukasi tersebut kemudian diteruskan dari ruang sosialisasi ke aksi nyata di lingkungan desa. Tim KKN UNDIP menempatkan lima tempat sampah terpilah di lima titik di Desa Ngerjo, lengkap dengan poster yang membantu warga mengenali jenis sampah yang perlu dibuang. Mahasiswa kemudian turun langsung memungut sampah yang masih berserakan di sekitar lokasi.

Tim KKN UNDIP mengumpulkan sampah yang berserakan di sekitar salah satu titik penempatan tempat sampah terpilah sebagai bagian dari upaya awal menjaga kebersihan lingkungan Desa Ngerjo.

Langkah tersebut menjadi upaya agar edukasi tidak berhenti pada penyampaian informasi. Dengan menyediakan tempat pembuangan sekaligus panduan pemilahan, tim KKN mendorong warga untuk mulai mengubah kebiasaan dalam mengelola sampah.

Pengalaman di posko sore itu menjadi gambaran kecil dari persoalan yang lebih luas. Sampah yang dibakar atau dibiarkan menumpuk mungkin tidak lagi terlihat, tetapi risikonya tetap berada di sekitar masyarakat. Karena itu, pengelolaan sampah bukan semata persoalan kebersihan, melainkan bagian dari upaya menjaga kesehatan masyarakat, mulai dari sistem pernapasan hingga kesehatan gigi dan rongga mulut.

Melalui rangkaian edukasi dan aksi tersebut, tim KKN UNDIP berupaya mendorong perubahan kebiasaan sekaligus memperkenalkan pengelolaan sampah yang lebih tepat di Desa Ngerjo. Upaya tersebut menjadi langkah awal untuk membangun lingkungan yang lebih bersih dengan kesadaran bahwa menjaga kesehatan juga dimulai dari cara memperlakukan sampah.

Program ini turut mendukung SDGs Nomor 3: Good Health and Well-being melalui peningkatan literasi kesehatan masyarakat serta SDGs Nomor 11: Sustainable Cities and Communities melalui penguatan kesadaran terhadap pengelolaan sampah yang berkelanjutan.