Sumenep Madura: Miniatur Indonesia dalam Semangat “Settong Dere Settong Tretan”

Mahasiswa Universitas Jember
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Tegar Sukma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di ujung timur Pulau Madura, ada satu kabupaten yang secara diam-diam menyimpan potret terbaik Indonesia. Namanya Sumenep. Dari daratan hingga ke pulau-pulau terluarnya, dari bahasa hingga ke adat istiadatnya, Sumenep mengajarkan kita arti sesungguhnya dari keberagaman yang bersatu.
Sebagai anak yang lahir di Kalianget, aku tumbuh di tengah pelabuhan, angin asin laut, dan perahu yang datang dari berbagai pulau: Kangean, Sapudi, Raas, Masalembu. Dari kecil aku sadar, mereka semua berbicara dengan dialek yang beda, tapi entah bagaimana—kami tetap paham satu sama lain. Mungkin karena di hati kami tertanam kuat semboyan: “Settong Dere Settong Tretan.” Satu saudara, satu hati.
Ketika perahu-perahu dari Kangean merapat ke pelabuhan Kalianget, telingaku menangkap bunyi bahasa yang asing namun tetap terasa akrab. Bahasa Kangean, dengan dialek khasnya, begitu berbeda dari Madura daratan. Tapi lihatlah ketika mereka berbicara dengan orang luar pulau—mereka beralih, menggunakan bahasa Madura seolah itu naluriah.
Di sinilah aku paham: persatuan tidak selalu berarti keseragaman. Justru, di tengah perbedaan tutur, ada kesadaran untuk bertemu di satu titik. Ini bukan hanya etika, ini warisan kultural. Sama seperti sila ketiga Pancasila, yang menempatkan persatuan sebagai pondasi negara—di Sumenep, persatuan itu bukan teori, tapi realitas harian.
Suatu hari aku mengikuti peik laut di salah satu desa nelayan. Sebuah tradisi syukur kepada laut yang diwarnai iring-iringan perahu, sesajen, dan doa. Tapi yang membuatku terharu bukanlah ritualnya—melainkan siapa yang hadir. Bukan hanya Muslim. Ada umat Hindu, bahkan Buddha. Mereka datang tanpa paksaan, hanya karena rasa memiliki.
Ini bukan sekadar tradisi, tapi kebudayaan yang menyatukan iman. Sebuah bukti bahwa sila pertama Pancasila—Ketuhanan Yang Maha Esa—tidak hanya bicara tentang Tuhan, tapi tentang menghormati cara orang lain mencintai-Nya. Di Sumenep, nilai itu tidak dikampanyekan. Ia hidup, tumbuh, dan diwariskan.
Lalu ada karapan sapi—atau kerrapen sape, begitu kami menyebutnya. Di tanah berdebu, dua ekor sapi berlari secepat mungkin, ditunggangi joki mungil yang memacu adrenalin. Tapi lebih dari sekadar lomba, ini adalah pentas budaya.
Yang datang bukan hanya warga lokal. Wartawan asing, turis Eropa, YouTuber Korea, semua mengabadikan satu hal: identitas yang dijaga dengan cinta. Di tengah dunia yang seragam, Sumenep memperjuangkan perbedaan sebagai pesona. Inilah wujud nyata keadilan sosial — budaya milik bersama, bukan hanya milik segelintir.
Saat orang berbicara tentang wisata bahari Indonesia, nama yang paling sering muncul mungkin Bali, Raja Ampat, atau Labuan Bajo. Tapi, Sumenep punya rahasianya sendiri — dan kami menjaganya seperti permata yang belum banyak dijamah.
Ada Pulau Gili Iyang, yang oleh para peneliti dikenal sebagai pulau dengan kadar oksigen terbaik kedua di dunia, menurut hasil riset Balai Besar Tekstil Bandung (BBT) dan LIPI. Di sini, udara terasa ringan, napas terasa lapang, dan waktu seperti berjalan lebih lambat. Banyak warga lanjut usia hidup sehat tanpa keluhan, seolah alam sendiri memberkati mereka.
Lalu ada Pulau Gili Labak, surga kecil di tenggara Sumenep. Hamparan pasir putihnya menyatu dengan air laut sebening kristal. Spot snorkeling-nya tak kalah dari Bunaken atau Karimunjawa. Bahkan, banyak penyelam menyebut terumbu karangnya sebagai salah satu yang paling alami di wilayah utara Jawa Timur.
Tempat-tempat ini bukan sekadar lokasi wisata. Mereka adalah wajah lain dari Sumenep: alam yang bersahabat, masyarakat yang ramah, dan semangat menjaga warisan bersama. Inilah bentuk nyata sila kelima Pancasila — keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Bahwa keindahan tak hanya milik pusat-pusat pariwisata terkenal, tapi juga milik desa-desa di pulau kecil seperti kami.
Menurut Badan Pusat Statistik Kabupaten Sumenep 2021, kami berjumlah 1.124.436 jiwa, tersebar di 126 pulau, dengan segala keberagaman bahasa, adat, dan iman. Tapi angka-angka itu hanya catatan statistik. Yang tak bisa dihitung adalah kedalaman kebersamaan, dan cinta terhadap tanah tempat kami berpijak.
Di Sumenep, kami tidak butuh semboyan baru. Karena sejak lama, “Settong Dere Settong Tretan” telah menjadi prinsip hidup kami. Dan ketika aku memandang laut dari tepi Kalianget, melihat anak-anak Gili Labak tertawa di air, atau mendengar orang Kangean menyapa dalam logat khas mereka—aku tahu, inilah Pancasila yang hidup dan bernapas bersama angin timur Madura.
