Konten dari Pengguna
Surga di Madura: Ponjuk Temor Talango Tetesan Jejak Tuhan di Ujung Timur
30 Juli 2025 11:10 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Surga di Madura: Ponjuk Temor Talango Tetesan Jejak Tuhan di Ujung Timur
Ponjuk Temor Talango di Madura Timur, pantai religi nan indah. Perpaduan wisata ziarah, alam, dan jejak sejarah di tepi laut.
Tegar Sukma
Tulisan dari Tegar Sukma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Udara segar menyambutku saat tiba di Ponjuk Temor, Talango. Lepas dari riuh kota dan segala rutinitas yang menyesakkan, tempat ini seperti pelarian sempurna. Aroma laut yang menguar, kicauan burung yang hidup, dan pemandangan desa alami yang dikelilingi hamparan laut biru seolah mengundang siapa pun untuk sejenak melepas beban hidup.

Aku datang ke sini bukan hanya sebagai pelancong, tetapi sebagai seorang pencari. Pencari ketenangan, pencari ruang untuk menyepi. Ponjuk Temor adalah jawabannya—perpaduan kedamaian religi dan keindahan alam Tuhan yang masih tersembunyi, jauh dari hiruk-pikuk wisata mainstream.
Mentari pagi menyambut hangat. Cahaya lembut menembus pepohonan, menyinari jalan kecil yang mengarah ke pesarean para tokoh agama terdahulu. Kicauan burung dan deburan ombak laut menyalakan suasana hati—seolah alam ikut bertasbih bersama para peziarah yang khusyuk berdoa.
Jika Bali bangga dengan Pantai Kutanya, maka Talango bisa dengan lantang menyebut Ponjuk Temor-nya. Tempat ini bukan hanya indah, tapi juga sakral. Di sinilah makam para petinggi leluhur Sumenep terjaga rapi, dilingkupi ketenangan dan rasa hormat.
Mancanegara, peziarah berdatangan untuk merasakan ketenangan spiritual di Ponjuk Temor. Tak hanya wisatawan luar negeri, pengunjung dari berbagai daerah di Madura dan Jawa juga turut mengalir setiap harinya. Mereka mencari barokah, napak tilas sejarah, atau sekadar duduk di tepi tebing menikmati laut sambil merenung dalam diam.
ADVERTISEMENT
Perjalanan menuju Ponjuk Temor sendiri sudah seperti potongan puisi. Dari pelabuhan Kalianget, menyeberang ke Talango hanya butuh 15 menit. Setelah itu, dengan sepeda motor dan tiket masuk Rp5.000, jalanan kecil akan membawamu ke tempat yang terasa seperti dimensi lain. Hamparan hijau, kicauan burung, dan sapaan ramah warga akan menemani sepanjang jalan.
Bahkan jika kamu datang bersama orang-orang terdekat, perjalanan ini bisa menjadi momen luar biasa. Indahnya bukan hanya di tujuan, tapi juga dalam proses menuju ke sana.
Ponjuk Temor tak sekadar destinasi. Ia adalah ruang refleksi, tempat untuk menyadari bahwa dunia ini luas, dan Tuhan menyimpan banyak keindahan yang tak ditemukan di pusat kota.
Kalau kamu sedang lelah, tertekan, atau ingin merasa utuh kembali—datanglah ke sini. Temukan keindahan Tuhan di sela-sela kesibukanmu. Rasakan sendiri ketenangan dan kenyamanannya. Biarkan alam menyapa, dan biarkan jiwamu pulih.
Aku hanya ingin tempat ini tetap seperti apa adanya: asri, sunyi, namun dalam. Biarkan ia tetap menjadi dimensi lain dengan surga tersembunyinya sendiri. Tempat ini tak perlu gemerlap lampu atau kafe kekinian. Ia cukup dengan apa yang sudah Tuhan beri: laut, langit, leluhur, dan rasa damai yang sulit ditemukan di tempat lain.
ADVERTISEMENT

