Konten dari Pengguna

Trump Tolak Proposal Damai 7 Hari Iran, Diplomasi Hormuz Buntu

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Margareta Tri Cahyaningtyas tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi kapal tanker melintasi Selat Hormuz (Google Gemini)
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi kapal tanker melintasi Selat Hormuz (Google Gemini)

Harapan akan meredanya ketegangan di Selat Hormuz kembali pupus. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak proposal Iran yang menawarkan peta jalan tujuh hari untuk mengakhiri konflik sekaligus membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut.

Trump menolak rencana yang diajukan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam tujuh hari, di saat Teheran terus bersikeras bahwa hanya diplomasi yang bisa menyelesaikan konflik antara kedua negara. Penolakan ini disampaikan Donald Trump langsung di hadapan awak media di depan Gedung Putih pada Sabtu (26/9/2026).

Trump: Kesepakatan Selat Hormuz Ini “Tidak Bisa Diterima”

Kepada wartawan, Trump mengatakan Iran ingin segera membuka jalur maritim vital itu karena mengalami kekalahan yang parah. Meski begitu, Trump mengaku sebenarnya tak menutup pintu negosiasi.

“Mereka ingin membuat kesepakatan, dan menurut saya itu bagus. Saya juga ingin membuat kesepakatan,” ujarnya. Namun proposal yang diajukan Iran, menurutnya, “tidak bisa diterima.”

Trump juga mengklaim AS saat ini sudah memegang kendali penuh atas Selat Hormuz, lengkap dengan data lalu lintas kapal sebagai buktinya. “Kami memegang kendali penuh atas Selat Hormuz. Minyak dalam jumlah besar keluar dari Selat Hormuz. Tadi malam, ada 29 kapal yang melintas keluar,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Isi Proposal Iran

Proposal ini bukan muncul tiba-tiba. Reuters sebelumnya melaporkan pada 22 September bahwa Iran menyatakan kesiapan membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu satu pekan apabila AS mengurangi tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran, dan proposal itu telah disampaikan melalui mediator sejak 16 September.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memaparkan detailnya saat berbicara di markas besar PBB, New York. Iran telah menyampaikan kepada AS melalui Qatar sebuah “rencana konkret tujuh hari” untuk membuka kembali selat tersebut. Menurut skema itu, pada hari keenam selat akan dibuka, dan pada hari ketujuh pembicaraan dengan AS akan dimulai untuk membahas kesepakatan final.

Sebagai imbalan, Iran meminta pembicaraan mengenai isu nuklir dilanjutkan dan Washington mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Skema ini sebenarnya bukan hal baru — langkah-langkah yang diminta sudah tercantum dalam nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani kedua negara pada Juni lalu.

Iran: Hanya Diplomasi yang Bisa Mengakhiri Ini

Di forum PBB, sikap Iran tetap konsisten: perang ini hanya bisa selesai lewat meja perundingan, bukan senjata. Iran menegaskan pintu diplomasi masih terbuka, meski Araghchi menegaskan pembukaan Hormuz tetap bergantung pada terpenuhinya syarat yang diajukan Teheran.

Araghchi juga membeberkan versi Iran soal siapa yang sebenarnya melanggar komitmen. Dalam pernyataannya kepada Dewan Keamanan PBB pada 25 September 2026, ia mengatakan Iran sebenarnya telah mengambil langkah untuk memulihkan lalu lintas maritim setelah MoU Juni ditandatangani, tetapi implementasinya terhenti akibat tindakan unilateral AS dan operasi militernya.

Menariknya, meski Trump menolak proposal ini di depan publik, Araghchi tampak masih membuka ruang. Dalam unggahan di Telegram, ia mengaku sudah mendengar respons Trump, namun mengatakan Teheran akan menunggu respons resmi dari para mediator sebelum mengambil keputusan.

“Trump telah menyampaikan banyak pernyataan yang baik, sekaligus banyak pernyataan yang kontradiktif, yang sayangnya sering kami dengar,” tulis Araghchi.

Situasi di Lapangan Kian Panas

Penolakan Trump ini datang di tengah eskalasi militer yang belum juga mereda. Pernyataan itu disampaikan beberapa jam setelah kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran melancarkan serangan baru ke arah Arab Saudi. Koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan telah mencegat dua drone menuju Riyadh serta sebuah rudal balistik ke arah Khamis Mushait.

Konflik ini sendiri berakar dari serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Iran menutup Selat Hormuz setelah AS dan Israel menyerang negara itu pada 28 Februari, dan penutupan berulang sejak saat itu telah mengganggu pasokan minyak dunia secara signifikan.

Selat Hormuz sendiri bukan jalur sembarangan — jalur sempit ini biasa dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sehingga setiap ketegangan di kawasan ini langsung bergema ke pasar energi global.

Yang jelas, laporan sejumlah pejabat AS turut menambah kekhawatiran ke depan: Trump disebut mengatakan kepada para pembantunya bahwa ia memperkirakan serangan AS terhadap Iran akan berlanjut setelah pemilihan paruh waktu pada November.

Dengan penolakan ini, jalan menuju gencatan senjata di Selat Hormuz sepertinya masih panjang — dan kedua belah pihak tampak sama-sama menunggu siapa yang akan melunak lebih dulu.