Wooden Bridge Competition UNPAR : Di Balik Jembatan, Ada Cerita

Thalia Edeline Kodiat, kelahiran Bandung 2010, Siswa kelas X SMA Trinitas Bandung yang senang mengeksplorasi hal baru, bercerita, dan mengembangkan potensi diri.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Thalia Edeline kodiat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sebuah kisah perjalanan siswi SMA Trinitas dalam mengikuti kompetisi teknik sipil UNPAR, yang dipenuhi usaha, kerja sama, dan pengalaman baru yang memberikan pembelajaran berharga serta menjadi bekal untuk berkembang di masa depan


Pagi itu, mesin mobil perlahan menyala, seolah-olah ikut merasakan semangat saya yang membara bersama dengan sinar matahari. Jalanan masih sepi, udara terasa sejuk, dan kabut menyelimuti sepanjang perjalanan. Dari dalam mobil, saya melihat ke luar kaca mobil, pemandangan kota perlahan berganti menjadi pepohonan, bukit-bukit, dan jembatan yang saya lewati satu per satu, seakan sedang mengantar langkah saya menuju suatu tujuan yang besar, yaitu mengikuti Wooden Bridge Competition yang diselenggarakan oleh Teknik Sipil Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) pada hari Selasa, 13 Desember 2025, kompetisi fisika yang bukan hanya tentang jembatan terkuat, tetapi tentang jembatan ilmu, keberanian, dan pengalaman baru yang berharga bagi seorang siswa SMA Trinitas.
Di dalam mobil, suasana hati saya campur aduk antara rasa gugup, penasaran, dan antusias. Setiap kilometer yang saya tempuh terasa seperti mendekatkan saya kepada tantangan sesungguhnya yang saya nantikan. Perjalanan ini bukan sekadar perjalanan menuju sebuah kampus di Bandung, tetapi perjalanan menuju tempat di mana teori akan diuji, dan segala usaha saya akan dibuktikan semaksimal mungkin.
Saat perjalanan dari SMA Trinitas menuju Unpar untuk mengikuti kompetisi tersebut, saya mengamati perjalanan. Menurut peta ajaib yang disebut koordinat, Unpar berada di titik 6°52’31” Lintang Selatan dan 107°36’17” Bujur Timur. Letaknya mudah dikenali karena berada di dekat beberapa tempat yang sangat berguna bagi masyarakat yaitu BCA Ciumbuleuit, dan Toserba Yogya. Jaraknya tidak terlalu jauh dari sekolah saya, sekitar 6,8 kilometer saja. Saya berangkat dari sekolah pukul 06.30, sehingga perjalanan saya lancar dan tidak terhalang macet. Saya bersama teman-teman saya melalui jalan besar yang mudah dilalui, tanpa hambatan.
Sepanjang perjalanan, saya melihat pemandangan beberapa pegunungan di kejauhan yang membuat saya membayangkan suasana sejuk. Dalam perjalanan, tampak juga rumah rumah penduduk tersusun memanjang mengikuti jalan dan aliran sungai. Saat saya tiba di Unpar, saya melihat banyak gedung tinggi yang berdiri berdekatan. Gedung gedung itu menjadi pusat tempat orang orang hebat menuntut ilmu.
UNPAR dan masyarakat sekitarnya hidup berdampingan dalam hubungan yang saling menguatkan. Mahasiswa membutuhkan warung, asrama, dan berbagai fasilitas pendukung, sementara warga mendapatkan penghasilan dari aktivitas tersebut. Keduanya saling membantu layaknya sahabat yang tumbuh bersama. Karena itulah, UNPAR bukan hanya sebuah kampus, tetapi juga memiliki nilai kegunaan yang besar sebagai pusat pembelajaran sekaligus tempat lahirnya cita-cita baru bagi para penuntut ilmu.
Saat perjalanan menuju UNPAR, saya melewati beberapa jembatan yang membuat saya langsung teringat dengan materi fisika yang akan saya gunakan saat Wooden Bridge Competition. Di balik kokohnya sebuah jembatan, terdapat konsep gaya dan keseimbangan yang harus bernilai nol agar struktur tetap stabil. Setiap rangka batang yang berbentuk segitiga berfungsi untuk mendistribusikan beban dengan merata, sementara pilar dan sambungan harus mampu menahan tegangan dan regangan agar tidak mudah patah. Saya juga membayangkan bagaimana momen gaya bekerja pada rangka, serta pentingnya elastisitas bahan agar jembatan tidak langsung rusak saat menerima beban besar. Bahkan, jembatan juga harus dirancang agar tidak mudah bergetar berlebihan akibat resonansi. Oleh karena itu, saya membuat jembatan berbentuk kotak dengan rangka dalam berupa segitiga-segitiga yang saling terhubung. Bentuk kotak pada sebuah jembatan memberi kestabilan struktur, sementara rangka segitiga di dalamnya membantu mendistribusi gaya dan beban agar lebih merata. Semua konsep itu seakan hidup di depan mata, membuat perjalanan ini terasa bukan hanya sekadar perjalanan, tetapi juga kelas fisika berjalan.
Selama persiapan lomba, saya juga merasakan bahwa fisika tidak berdiri sendiri. Ada matematika dan ekonomi yang ikut terlibat di dalamnya. Untuk mempersiapkan kompetisi ini, saya mengeluarkan cukup banyak biaya. Saya membeli kayu balsa seharga Rp 104.800, membeli lem tembak Rp26.999, dan saat hari pelaksanaan lomba saya membeli makanan dan minuman sekitar Rp20.000. Jika dijumlahkan, total pengeluaran saya kurang lebih Rp 151.799. Bagi saya, uang yang saya keluarkan itu bukan hanya sekedar biaya, melainkan sebuah bentuk usaha dan komitmen saya dalam melaksanakan kompetisi nasional ini.
Dari sisi perjalanan, saya juga merasakan bagaimana pelajaran jarak, waktu, dan kecepatan yang biasanya hanya ada di buku, kini benar-benar saya alami. Jarak dari SMA Trinitas ke UNPAR sekitar 6,8 kilometer. Saya berangkat pukul 06.30 dan tiba sekitar 06.42, jadi waktu tempuhnya sekitar 12 menit. Jika dihitung, kecepatan mobil saya kurang lebih sekitar 30–34 km/jam. Saya juga sangat bersyukur karena saya tidak perlu membayar ongkos transportasi, sebab saya ikut mobil guru pendamping.
Namun, sebenarnya perjalanan ini tetap memiliki biaya. Jika jarak pulang-pergi sekitar 13,6 kilometer, dan kita anggap bahwa mobil membutuhkan 1 liter bensin untuk 10 kilometer, berarti perjalanan ini membutuhkan sekitar 1,36 liter bensin. Berdasarkan harga bensin Pertalite (RON 90) yang ditetapkan oleh Pertamina sekitar Rp10.000 per liter, biaya bahan bakar untuk perjalanan ini kira-kira Rp13.600–Rp17.680, tergantung jenis BBM yang dipakai. Dari pengalaman ini saya semakin sadar bahwa pelajaran di kelas tentang angka, jarak, waktu, kecepatan, dan biaya bukan hanya sekedar teori, tetapi benar-benar terjadi di dunia nyata.
Saat sampai di UNPAR, saya sangat kaget melihat suasana yang sebelumnya belum pernah saya lihat dan rasakan. Saat saya memasuki aula tempat perlombaan berlangsung, jantung saya berdetak lebih cepat dari biasanya. Telapak tangan saya terasa dingin, bahkan seluruh tubuh saya terasa seperti diselimuti es batu meski ruangannya tidak sedingin itu. Saya merasa sangat tidak percaya diri melihat begitu banyak orang dari berbagai daerah yang semuanya terlihat sangat berbakat. Saya menatap meja kerja, kayu balsa, lem tembak, penggaris, kertas, dan poster yang saya sudah buat ada di depan mata saya, semuanya tiba tiba terlihat begitu menegangkan. Namun ketika akhirnya panitia berkata, “Waktu dimulai dari sekarang”, rasa tegang itu perlahan menghilang seperti balon yang di tekan sehingga udara di dalamnya perlahan keluar. Ada rasa lega yang mengalir pelan-pelan. Semua suara berisik yang ada di kepala saya tiba tiba menghilang dan hanya menyisakan fokus kepada jembatan yang akan saya buat, tangan saya mulai bergerak lebih tenang, dan tanpa sadar saya bahkan sempat bersenandung kecil sambil menyusun rangka segitiga. Tangan saya sempat beberapa kali terkena lem tembak yang begitu panas, tetapi rasa sakit itulah yang menimbulkan rasa bangga terhadap perjuangan saya dari awal babak penyisihan sampai di detik ini saya dapat berdiri disini sebagai finalis kompetisi nasional. Dari rasa takut yang membekukan, saya berubah menjadi diri saya yang percaya diri, menikmati setiap detik proses lomba yang sebelumnya terasa begitu menakutkan.
Sejak jauh-jauh hari, saya sudah merancang jembatan ini dengan sungguh-sungguh. Saya mengubah-ubah desain, mencoba berbagai desain, mencoba merangkai berbagai model jembatan, dan berkali-kali melakukan percobaan untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Saya berusaha semaksimal mungkin yang saya bisa, menghitung, menganalisis, berdiskusi dengan guru, dan belajar dari setiap kesalahan yang saya temui selama proses persiapan. Bagi saya, perjalanan yang panjang ini sama berharganya dengan hasil akhir dari perlombaan yang saya ikuti. Meskipun kali ini saya belum diberi kesempatan untuk menang, saya tetap merasa puas dan bangga dengan kerja keras yang telah saya lakukan. Saya menyadari semua proses perjalanan yang saya alami, mulai dari proses merancang, berlatih, hingga mengikuti lomba merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Pengalaman berharga inilah yang akan menjadi modal untuk saya berkembang menjadi lebih baik lagi di kesempatan berikutnya. Saya percaya, kekalahan bukanlah akhir, melainkan awal dari keberhasilan. Ini adalah proses kehidupan yang akan dialami setiap orang, dan saya siap melangkah lebih kuat lagi dan berusaha lebih keras lagi di masa depan. Saya merasa sangat berterimakasih kepada seluruh pihak yang sudah mendukung saya hingga di titik ini, tanpa dukungan dari guru pembimbing, orang tua, sekolah, dan teman-teman yang saya cintai, saya tidak akan bisa berada di titik ini sekarang.
Selasa, 13 Desember 2025
Artikel ini ditulis oleh Thalia Edeline Kodiat, Delvia Jeslynn Evany, Valensha Callista Sutanto.
Setiap jembatan yang kita bangun, bukan hanya menghubungkan dua titik, tapi juga menguatkan keberanian dan pengalaman kita.
