Karang Visual, Upaya Memperkuat Identitas Wisata Desa Karanggondang

Mahasiswa Desain Komunikasi Visual Universitas Sebelas Maret Surakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Thania Azzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Jepara, Jawa Tengah — Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan salah satu bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademik secara langsung dalam kehidupan masyarakat. Melalui kegiatan KKN, mahasiswa tidak hanya dituntut untuk menyelesaikan program kerja, tetapi juga diharapkan mampu mengidentifikasi potensi serta kebutuhan masyarakat dan memberikan kontribusi yang relevan dengan kondisi di lapangan.
Salah satu potensi yang dimiliki Desa Karanggondang, Kabupaten Jepara, adalah keberadaan kawasan wisata pantai, di antaranya Pantai Pailus dan Pantai Empu Rancak. Kedua pantai tersebut memiliki karakteristik dan potensi yang berbeda, tetapi sama-sama memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata yang lebih dikenal oleh masyarakat luas. Di tengah perkembangan media digital, pengenalan destinasi wisata tidak hanya bergantung pada keberadaan objek wisata secara fisik, tetapi juga pada bagaimana suatu destinasi mampu membangun identitas dan menyampaikan potensinya secara menarik melalui media komunikasi visual.
Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa KKN mengembangkan program kerja Karang Visual, yaitu program yang berfokus pada pengembangan identitas visual, branding, serta media promosi digital bagi Pantai Pailus dan Pantai Empu Rancak. Program ini dirancang sebagai upaya untuk membantu memperkuat karakter visual kedua destinasi sekaligus mendukung pengenalan potensi wisata Desa Karanggondang melalui media digital.
Pelaksanaan Karang Visual diawali dengan tahap riset dan observasi untuk memahami kondisi, karakter, serta potensi yang dimiliki oleh masing-masing pantai. Proses tersebut dilengkapi dengan wawancara bersama pihak-pihak terkait untuk memperoleh informasi mengenai karakter destinasi, kondisi lingkungan, serta potensi yang dapat diangkat dalam komunikasi visual. Hasil riset kemudian menjadi dasar dalam menentukan konsep dan arah visual yang sesuai sehingga identitas yang dibangun tidak hanya memiliki nilai estetis, tetapi juga merepresentasikan karakter masing-masing pantai.
Setelah tahap riset, proses dilanjutkan dengan brainstorming dan pengembangan konsep visual. Dalam tahap ini, berbagai informasi yang telah diperoleh diolah menjadi gagasan visual yang kemudian dikembangkan melalui proses perancangan desain. Pendekatan tersebut dilakukan agar identitas visual yang dihasilkan memiliki konsistensi dan dapat diterapkan pada berbagai media komunikasi.
Pada Pantai Pailus, program Karang Visual menghasilkan identitas visual dan branding yang dirancang berdasarkan karakter serta potensi pantai. Selain pengembangan identitas visual, program juga menghasilkan desain konten untuk media sosial Instagram sebagai sarana penyampaian informasi dan promosi wisata. Untuk memperkuat media promosi berbasis audiovisual, mahasiswa turut menghasilkan video profil Pantai Pailus yang menampilkan gambaran mengenai karakter dan daya tarik destinasi tersebut. Hasil perancangan kemudian dipresentasikan kepada pihak pengelola sebagai bentuk penyampaian sekaligus evaluasi terhadap identitas visual dan media promosi yang telah dikembangkan.
Proses serupa kemudian diterapkan pada Pantai Empu Rancak dengan mempertimbangkan karakter destinasi yang memiliki suasana lebih tenang dan memiliki potensi budaya yang dapat diangkat sebagai bagian dari identitasnya. Program menghasilkan identitas visual dan branding, desain konten Instagram, serta dua video Reels sebagai media promosi digital. Hasil tersebut selanjutnya dipresentasikan kepada pihak pengelola untuk memperoleh masukan dan memastikan bahwa identitas yang dikembangkan dapat merepresentasikan karakter Pantai Empu Rancak.
Pelaksanaan program Karang Visual menunjukkan bahwa pengembangan potensi wisata tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fasilitas fisik, tetapi juga membutuhkan strategi komunikasi yang mampu memperkenalkan karakter suatu destinasi kepada masyarakat. Identitas visual yang konsisten dapat menjadi salah satu instrumen untuk membangun daya kenal destinasi, sedangkan media sosial dapat dimanfaatkan sebagai ruang untuk menyampaikan informasi dan memperluas jangkauan promosi wisata.
Bagi mahasiswa, kegiatan ini juga menjadi pengalaman pembelajaran yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata di masyarakat. Proses riset, komunikasi dengan pengelola, pengembangan konsep, hingga implementasi desain memberikan pemahaman bahwa perancangan komunikasi visual tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial, budaya, dan karakter lingkungan tempat desain tersebut diterapkan.
Melalui program Karang Visual, mahasiswa KKN berharap kontribusi yang diberikan dapat terus memberikan manfaat bagi Desa Karanggondang, khususnya dalam mendukung pengenalan dan pengembangan potensi wisata Pantai Pailus dan Pantai Empu Rancak. Lebih dari sekadar menghasilkan karya visual, program ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun komunikasi wisata yang lebih terarah dan berkelanjutan melalui pemanfaatan identitas visual dan media digital.
Pada akhirnya, kegiatan KKN menjadi salah satu bentuk pembelajaran yang mempertemukan pengetahuan, kreativitas, dan kepedulian sosial mahasiswa dengan kebutuhan masyarakat. Besar harapan kami agar kontribusi yang diberikan selama pelaksanaan KKN dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat Desa Karanggondang. Mahasiswa sebagai bagian dari generasi terdidik juga diharapkan dapat terus mengambil peran dalam memberikan solusi, mengembangkan potensi lokal, serta berkontribusi dalam memajukan kehidupan masyarakat dan pembangunan Indonesia.
