Konten dari Pengguna

Berkunjung Kembali Ke Istana Pagaruyung Sumatera Barat

Muhammad Thaufan Arifuddin

Muhammad Thaufan Arifuddin

Pengamat Media dan Politik. Penggiat Kajian Filsafat, Mistisisme Timur dan Cultural Studies. Dosen Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Thaufan Arifuddin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Rabu 13 Desember saya berkunjung kembali ke Istana Pagaruyung yang merepresentasikan kebesaran dan keagungan kerajaan suku Minangkabau di masa silam. Nama asli istana ini dikenal dalam bahasa Minang sebagai Istano Basa Pagaruyuang.

Beberapa tahun silam tepatnya tahun 2008 saya pernah mengunjungi istana ini dan wajahnya belum secantik hari ini. Kini, istana ini seolah telah bersolek indah dan menawan sehingga menarik untuk dikunjungi.

Istana Pagaruyung hari ini berdiri megah dalam kawasan yang cukup luas. Foto: Penulis
zoom-in-whitePerbesar
Istana Pagaruyung hari ini berdiri megah dalam kawasan yang cukup luas. Foto: Penulis

Jika melihat secara historis, istana ini dibangun sekitar abad ke-17 sebagai kediaman keluarga kerajaan Pagaruyuang. Lalu hancur lebur akibat perang sekitar tahun 1837. Di awal era Suharto dan era SBY, istana ini pernah terbakar lalu dibangun kembali oleh pemerintah seperti hari ini. Sangat mungkin jika mengamati tekstur material istananya yang terdiri dari kayu dan atap ijuk membuatnya mudah terbakar di masa lalu.

Istana Pagaruyung terlihat hijau di areal belakang istana. Foto: Penulis

Setelah terbakar tahun 2007, Istana Pagaruyung kembali dibangun lebih megah dan seolah mengusung konsep wisata masa lalu dalam nuansa kerajaan Minangkabau. Perawatan istana ini di bawah manajemen pemerintah daerah Kabupaten Tanah Datar. Istana ini tentu sangat kental dengan arsitektur Minangkabau dan terkesan menyatu dengan alam hijaun dan perbukitan di sekitar istana.

Kolam Ikan buatan di areal belakang Istana Pagaruyung. Foto: Penulis

Jika mencoba masuk ke dalam Istano Basa Pagaruyuang, pengunjung naik melalui tangga untuk sampai di lantai pertama yang terlihat luas dan terdiri dari beberapa kamar. Terlihat ada replika suku Minangkabau dengan pakaian adatnya. Pakaian adat baik laki-laki maupun perempuan juga dapat di sewa di dalam areal istana ini. Sementara lantai kedua juga masih terlihat luas dan lapang. Di lantai ketiga paling atas, terdapat ruangan bernama ruangan Mahligai yang digunakan sebagai tempat berbincang raja dengan tamu kehormatan.

Sejatinya, istana yang besar ini hanya berfungsi sebagai museum berupa replika istana Kerajaan Pagaruyung yang terletak tepat di Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Istana Pagaruyung dilihat dari arah samping. Beberapa penjual souvenir sedang berjualan di kolong istana. Foto: Penulis

Sesungguhnya istana ini berjarak lebih kurang lima (5) kilometer dari kota Batusangkar, Ibukota Kabupaten Tanah Datar. Istana ini mulai menjadi objek wisata budaya yang mulai terkenal di Sumatera Barat dan bahkan di level nasional dan mancanegara terutama di hari libur.

Istana Pagaruyung yang berdiri sekarang sebenarnya adalah replika dari kerajaan yang asli yang sebenarnya terletak di atas bukit Batu Patah dan dibakar habis pada tahun 1804 saat terjadi Perang Padri. Istana baru didirikan kembali tetapi terbakar lagi pada tahun 1966.

Penulis sedang berpose di depan rangkiang yaitu tempat menyimpan padi atau bahan makanan di dalam adat budaya MInangkabau. Foto: Penulis

Istana Pagaruyung baru dibangun kembali pada tahun 1976. Ide pembangunan kembali Istana Pagaruyung dicetuskan pada tahun 1968 oleh Gubernur Sumatera Barat, Harun Zain yang merasa diperlukannya warisan yang bisa mempersatukan orang Minang setelah peristiwa Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang membuat masyarakat Minangkabau trauma secara politik.

Pakaian khas suku dan kerajaan Minangkabau di jaman dulu. Foto: Penulis

Pada tanggal 1 November 1975, disepakatilah sebuah perjanjian pendirian bangunan replika Istana Pagaruyung. Istana ini tidak dibangun pada situs aslinya, tetapi berpindah lebih selatan dari situs aslinya. Pembangunan dimulai pada 27 Desember 1976 dengan upacara penamanam tonggak tuo dan baru selesai secara keseluruhan pada tahun 1985.

Dapur dan peralatan dapur suku Minangkabau. Foto: Penulis

Istana Pagaruyung dimaksudkan untuk menjadi ikon Sumatera Barat. Setelah selesai dibangun, istana menjadi dikenal publik sebagai tempat kunjungan wisata dan museum.

Pada malam 27 Februari 2007, Istano Basa mengalami kebakaran hebat akibat petir yang menyambar di puncak istana. Akibatnya, bangunan tiga tingkat ini hangus terbakar. Ikut terbakar juga sebagian dokumen, serta kain-kain hiasan. Diperkirakan hanya sekitar 15 persen barang-barang berharga yang selamat.

Jangan lupa membeli minyak tradisional Minangkabau yaitu Masoi Bark Oil di areal Dapur Istana. Foto: penulis

Barang-barang yang lolos dari kebakaran tersebut sekarang disimpan di Balai Benda Purbakala Kabupaten Tanah Datar. Harta pusaka Kerajaan Pagaruyung sendiri disimpan di Istano Silinduang Bulan, yang berjarak 2 kilometer dari Istano Basa.

Biaya pendirian kembali istana setelah kebakaran diperkirakan lebih dari Rp20 miliar. Pembangunan kembali istana selesai selama enam tahun dan diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Oktober 2013.

Corak ukiran dalam istana Pagaruyung di lantai teratas. Foto: Penulis

Pada istana yang lama terdapat tonggak tengahnya yang disumbangkan oleh Datuk Rajo Adil dari Negeri Lubuk Bulang yang sekarang dalam wilayah Kabupaten Dharmasraya sebelum disambar petir 2007, tonggak tersebut dari kayu Kulin. Datuk Rajo Adil tiap tahun mengantarkan upeti dan pajak dari daerah rantau.

Tiang dalam istana pagaruyung sangat besar dan kokoh. Foto: penulis.

Istana Basa Pagaruyung asli dibangun seluruhnya dengan batang-batang kayu. Adapun bangunan saat ini sudah dibangun dengan struktur beton modern. Istano Basa Pagaruyuang tetap dibangun dengan mempertahankan teknik tradisional dan material kayu yang dihias dengan 60 ukiran yang menjelaskan filosofi dan budaya Minangkabau.Ukiran yang dominan di istana ini adalah ornamen ukiran bunga-bunga dan dedaunan.

Secara umum, istana ini memiliki tiga lantai dengan 72 tiang dan gonjong sebagaimana pada umumnya Rumah Gadang yang dilengkungkan serupa tanduk dari 26 ton serat ijuk. Istana ini juga dilengkapi dengan lebih dari 100 replika furnitur dan artefak antik Minang yang bertujuan agar istana dihidupkan kembali sebagai pusat budaya Minangkabau serta objek wisata di Sumatera Barat (www.id.wikipedia.org).

Kerbau adalah simbol suku Minangkabau. Mungkin menyimbolkan kerja keras, tabah dan dagingnya gurih. Foto: Penulis

Alhasil, perjalanan melihat Istana Basa Pagaruyung benar-benar pengalaman yang mengesankan karena dapat menelesuri setiap sudut Istana Pagaruyung. Tak lupa saya membeli Minyak Masoi agar bisa memijit tubuh yang kelelahan berjalan mengitar Istana dan naik turun tangga ke lantai tertinggi istana. Semoga istana ini kokoh, terawat dan abadi dalam ingatan setiap pengunjung. Amin